Prediksi Tren Liburan Setelah Pandemi Corona, Apa Saja?

Kompas.com - 11/04/2020, 07:30 WIB
Ilustrasi wisatawan Indonesia. shutterstock.com/Nopphone_1987Ilustrasi wisatawan Indonesia.


JAKARTA, KOMPAS.com – Pandemi corona yang saat ini melanda dunia memberikan dampak yang signifikan pada berbagai sektor.

Salah satu yang paling terdampak adalah sektor pariwisata karena adanya pembatasan perjalanan, sehingga banyak wisatawan membatalkan perjalanan.

Oleh karena itu, periode ini dianggap harus jadi momen untuk mempersiapkan gelombang wisatawan yang akan datang setelah pandemi corona berakhir.

"Setelah semua berakhir, turis akan jalan-jalan lagi. Balas dendam setelah berbulan-bulan di rumah atau istilahnya revenge tourism," Founder dan Chairman MarkPlus Tourism, Hermawan Kartajaya.

Baca juga: Pajak Hotel dan Restoran Diminta Dibebaskan Selama Wabah Virus Corona

Pada saat itulah pelaku pariwisata harus memanfaatkannya. Persiapan itu harus dilakukan dari sekarang,” lanjutnya dalam sesi webinar bertajuk Covid-19 Crisis in Tourism: Threat and Opportunity yang digelar oleh MarkPlus Tourism pada Senin (6/4/2020).

Hermawan mengungkapkan, pada masa pandemi ini, ada dua hal yang bisa terjadi. Momen ini bisa menjadi tantangan, namun bisa juga kesempatan.

Menurutnya, pelaku pariwisata harus memanfaatkan ini menjadi kesempatan untuk membangun kekuatan.

"Ada dua hal, surviving dan preparing. Saya menyebut Wei Ji. Wei, dangerous lalu Ji, opportunity," kata Hermawan.

"Kalau dangerous makin berat, opportunity makin banyak. Ini bukan the end, tapi beginning of new Asia,: lanjutnya.

Baca juga: Kemenparekraf Selama Corona, Berikan Dukungan untuk Tenaga Medis

Ilustrasi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Komodo menggunakan kartu anggota tahunan seharga Rp 14 juta per tahunSHUTTERSTOCK/MO WU Ilustrasi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Komodo menggunakan kartu anggota tahunan seharga Rp 14 juta per tahun

Tren liburan setelah pandemi corona

Menurut Hermawan, tidak ada pihak yang tahu kapan pandemi corona ini akan berakhir. Bagi orang yang ingin terus bertahan dalam bisnis dan melewati corona ini, maka harus bisa bertahan.

  • Cari yang otentik

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pelaku bisnis pariwisata ini yakni memperhatikan cashflow.

Baca juga: Cuti Lebaran Direvisi, Ini Daftar Hari Libur dan Cuti Bersama Tahun 2020

Ia menganjurkan, agar tidak memakan aset inti, serta hal-hal yang tidak memiliki additional value jangan sampai dibuang.

“Nanti setelah ini turis akan membludak, tapi akan berbeda behavior-nya. Bisa saja nanti orang cari yang otentik, pergi ke taman nasional, hotel yang lokal," kata Hermawan.

"Mereka akan stay di satu negara lebih lama," lanjutnya.

Baca juga: PHRI dan ASITA Butuh Bantuan Pemerintah akibat Corona, Apa Saja?

Malioboro, YogyakartaShutterstock Malioboro, Yogyakarta

  • Pilih yang dekat

Hermawan menyebutkan bahwa ada survei yang mengatakan para turis di dunia akan melakukan slow tourism dan tidak pergi ke tempat yang jauh.

Pasalnya, lockdown di dunia tidak akan dibuka secara bersamaan, sehingga ada negara yang sudah bisa diakses dan ada yang belum bisa.

Baca juga: Pariwisata Dunia Dipredksi Pulih 10 Bulan Pasca Wabah Corona, Bagaimana Indonesia?

Banyak turis yang kemudian masih merasa takut untuk bepergian jauh, sehingga kebanyakan akan bepergian ke negara terdekat.

Ia mencontohkan seperti turis China yang banyak memilih Korea Selatan sebagai destinasi yang aman.

Mereka mencari nature dan culture yang luar biasa yang ada di Korea Selatan, dengan jarak geografis yang tidak terlalu jauh.

Baca juga: Kenapa Awak Kabin Pesawat Kebanyakan Perempuan?

Pariwisata BaliKompas.com/Sastri Pariwisata Bali

  • Domestic tourism

Selain ke negara lain, Hermawan juga menjelaskan soal kemungkinan adanya tren domestic tourism yang akan menguat.

Karena lockdown negara-negara yang belum jelas kapan akan dibuka, kemungkinan banyak turis yang akhirnya bepergian ke destinasi di dalam negeri lebih dulu.

Hermawan juga mengungkapkan, tren staycation kemungkinan akan menguat setelah pandemi corona berakhir.

Baca juga: Pesan Antar Makanan Bisa Bantu Hotel dan Restoran saat Wabah Corona?

Banyak orang di kota besar yang bosan selama masa karantina ini kemudian ingin berlibur tapi belum berani ke tempat yang jauh.

“Orang Jakarta barangkali, belum bisa ke Bali karena tidak tahu situasi Bali. Mungkin masih takut atau apa. Sebelum domestik tourism jalan, mungkin staycation yang jalan,” jelas Hermawan.

“Di saat inilah hotel dan lainnya harus menjamin bahwa dia bisa memberikan jaminan health, safety, dan flexibility. Semua dijamin,” sambung dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X