Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Ayam Betutu, Hidangan Khas Bali Pengaruh Budaya Majapahit

Kompas.com - 17/04/2020, 09:48 WIB
Yana Gabriella Wijaya,
Ni Luh Made Pertiwi F.

Tim Redaksi

 

KOMPAS.com - Cita rasanya yang pedas, kaya akan rempah, membuat orang-orang terlena dengan kenikmatan hidangan khas Bali satu ini.

Ayam betutu, sajian Pulau Dewata kini telah merambah ke beberapa kota besar di Indonesia.

Baca juga: Ayam Betutu Punya Bumbu Rahasia, Mau Tahu?

Makanan ini biasanya menggunakan ayam dan bebek. Hasil akhirnya tekstur daging yang empuk dan dipenuhi bumbu cabai dan base genep khas Bali .

Di balik rasa pedasnya yang khas, sejarah dari hidangan ini juga seru untuk dibahas. Setiap daerah di Bali memiliki gaya masakan betutu, tetapi paling terkenal adalah betutu khas Gilimanuk.

“Kalau kita lihat di Bali bebek atau ayam betutu itu sangat pekat asal muasalnya dengan wilayah Gianyar wilayah Ubud, Bali sana,” jelas Sejarawan Kuliner Fadly Rahman dalam tayangan "Tradisi Asli Nusantara: Ayam Betutu" dari akun YouTube Televisi Edukasi, yang tayang pada Mei 2019 lalu.

Baca juga: Uniknya Ayam Betutu, Dulunya Pakai Bumbu Kemenyan dan Dimasak Selama 10 Jam

Hidangan ini berkembang ke kawasan Gilimanuk, Jembrana. Ayam betutu kini ibarat ikon kuliner khas Bali yang sangat dikenal wisatawan mancanegara.

Cara masak yang unik nan rumit

Dulunya, hidangan ini hanya disajikan saat upacara adat. Ayam betutu tradisional dimasak dengan cara yang unik nan rumit, serta memakan waktu yang panjang.

Tradisi mengolah betutu secara tradisional adalah ayam utuh dilapisi daun pinang lalu diberi bara sekam atau dikubur dalam tanah dengan bara sehingga menghasilkan temperatur panas tertentu. 

Ayam "dikubur" selama delapan sampai sepuluh jam. Ini Ibarat oven alami seperti proses memanggang. Seiring perkembangan zaman, teknik tradisional masih tetap dipakai walau tergolong sudah jarang.

“Sekarang sudah ada teknik masak presto yang sudah memproses kematangan daging ayam atau bebek hanya sekitar 5 jam dan tidak lama,” jelas Fadly.

Ayam betutu goreng, salah satu menu khas di restoran Ayam Betutu Khas Gilimanuk.Kompas.com/Silvita Agmasari Ayam betutu goreng, salah satu menu khas di restoran Ayam Betutu Khas Gilimanuk.

Pengaruh Majapahit

Betutu sendiri artinya adalah proses mengolah daging yang umumnya menggunakan ayam dan bebek. Jadi, betutu sejatinya bukan nama makanan melainkan proses memasak daging ayam atau bebek.

Salah satu rumah makan ayam betutu yang terkenal di Bali adalah rumah makan Men Tempeh. Rumah makan ini kerap disebut-sebut sebagai pelopor ayam betutu khas Gilimanuk.

Putu Okta Damayanti, pemiliki rumah makan Men Tempeh, menjabarkan arti nama betutu tersebut.

“Betutu kalau orang Bali bilang, ‘be’ itu ayam atau daging gitu, ‘tutu’ itu masakan yang masih kering lalu direbus ‘nyat-nyat’” jelas Putu.

Pengolahan betutu sendiri sangat khas jadi diberi lapisan pembungkus daun pinang, lalu diberi bara sekam, kemudian dimasukan ke dalam tanah dari batu-batu yang sudah di panaskan.

Baca juga: Asal Usul Mi Instan, Makanan yang Tercipta karena Rasa Iba

“Cara pengolahan ini merupkan warisan dari masa Majapahit yaitu masa abad ke-16, ketika pengaruh Islam masuk ke tanah Jawa," papar Fadly.

Ia menuturkan, banyak orang Majapahit yang merupakan pemeluk Hindu akhirnya pergi wilayah Bali.

Berbagai pengaruh budaya yang ada di masa Majapahit akhirnya beralih ke Bali salah satunya kuliner.

Beberapa kuliner khas Bali hasil pengaruh budaya Majapahit, misalnya lawar dan juga betutu. Juga termasuk perubahan bahan masakan, seperti pengaruh cabai di masakan Bali, termasuk rasa pedas dan berempah yang menjadi ciri khas Ayam Betutu.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com