Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 13/05/2020, 10:19 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Dunia akan menghadapi era New Normal setelah pandemi virus corona berakhir. Beragam sektor telah mempersiapkan hal tersebut, termasuk pariwisata.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan, dalam menghadapi New Normal, pariwisata perlu kembali ke dasar kebutuhan wisatawan.

Hal ini pun sudah disiapkan sejak sebelum virus corona mewabah di Indonesia.

"Jauh sebelum adanya corona, saya sudah merencanakan di tahun 2020 ini, pariwisata harus kembali ke dasar atau standar kebutuhan wisatawannya dulu yang harus dipersiapkan," kata Wishnutama dalam teleconference "Milenial dan Generasi Z: Tantangan, Harapan, dan Masa Depan New Normal" Minggu (10/5/2020).

Wishnutama memberikan contoh kebutuhan wisatawan yang paling dasar adalah pengadaan fasilitas toilet bersih.

Ia pun mempertanyakan tempat wisata di Indonesia mana yang memiliki fasilitas toilet umum bersih.

Baca juga: The New Normal Pariwisata Indonesia Setelah Pandemi Corona, Apa Itu?

Toillet Umum yang berada di pusat kuliner Thamrin 10 Andra Prabasari Toillet Umum yang berada di pusat kuliner Thamrin 10

Oleh sebab itu, ia mengatakan tidak memberikan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk mendirikan fasilitas lain seperti gapura dan lainnya, melainkan perbaikan serta pengadaan toilet bersih.

"Saya katakan, secara khusus enggak ada tuh DAK bangun gapura. Kita harus bikin toilet, bikin kebersihan, bikin yang basic banget yaitu bersih. Karena saya yakin destinasi kita kalau bersih, teratur, pasti akan jauh lebih menarik," jelasnya.

Ia juga menyebut pasar tradisional pun harus bersih seperti di beberapa negara tetangga seperti Thailand.

Ia kagum dengan kebersihan toilet pasar di Thailand Selatan yang pernah dikunjunginya pada tahun 1990-an.

"Ini menarik sekali ternyata, padahal mirip banget pasar di Thailand Selatan sama di Indonesia. Artinya kan kita mesti kembali ke dasar-dasar kebutuhan wisatawan," ujarnya.

Baca juga: Hadapi Booming Pariwisata, Desa Wisata Milik Masyarakat Perlu Dikembangkan

Hal selanjutnya yang perlu dikembalikan ke dasarnya untuk menarik wisatawan adalah keselamatan.

Wishnutama mencontohkan keselamatan yang dasar bisa dilihat dari beberapa tempat wisata pantai di luar negeri.

"Kita lihat mereka menyediakan rescue-rescue di bibir pantai. Tim rescue selalu memantau. Coba deh teman-teman jalan ke pantai Anyer, ada engga tempat rescue? Kalau ada apa-apa siapa yang mau nolong kita?" tuturnya.

Ilustrasi Pariwisata IndonesiaDokumentasi Biro Komunikasi Kemenparekraf Ilustrasi Pariwisata Indonesia

Berikutnya mengenai keamanan juga tak kalah pentingnya. Sebelum virus corona melanda, Wishnutama mengaku telah melakukan koordinasi dengan Basarnas, BNPB, Kepolisian, dan Kementerian Kesehatan.

Tak hanya beberapa lembaga atau kementerian tersebut, ia menyebut bahwa Kementerian PUPR, dan Perhubungan dapat membantu pembangunan infrastruktur.

Ia mengatakan, hal-hal tersebut termasuk ke dalam strategi pariwisata yang telah dilakukan sebelum Covid-19 melanda.

Baca juga: Hadapi Era New Normal, Pelaku Pariwisata Perlu Siapkan Protokol Kesehatan

Kemudian untuk ekonomi kreatif, ia menuturkan Kemenparekraf telah menyediakan berbagai creative hub untuk mencari potensi kreatif di masing-masing destinasi.

"Karena potensi kreatif itu beda-beda di masing-masing tempat. Di situ kita akan membangun creative hub tersebut untuk membikin training, coaching, sehingga teman-teman ekraf juga bisa eksplorasi kelebihannya," tuturnya.

Lanjut Wishnu, setelah Covid-19 melanda, semua kebutuhan dasar tersebut harus ditambahkan dengan protokol kesehatan.

Ia menyebut protokol kesehatan harus ada di semua hal yang berkaitan dengan pariwisata, misalnya restoran, maskapai penerbangan, dan hotel.

"Protokol kesehatan di restoran bagaimana, pesawat, hotel bagaimana? Kami sudah siapkan. Nanti protokol di tempat hiburan, bioskop bagaimana. Dan ini enggak bisa menunggu Covid selesai, ini sudah harus disiapkan mulai dari sekarang," jelasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+