Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jumlah Wisatawan Menurun, tapi Ekonomi Warga Desa Ini Meningkat, Apa Rahasinya?

Kompas.com - 17/05/2020, 10:40 WIB
Nicholas Ryan Aditya,
Kahfi Dirga Cahya

Tim Redaksi


JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu tempat wisata di Gunungkidul, Yogyakarta yaitu Desa Wisata Nglanggeran dilaporkan mengurangi jumlah kunjungan wisatawan sejak tahun 2019.

Menariknya, masyarakatnya justru mengalami peningkatan perekonomian. Lantas, mengapa itu terjadi?

Anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Nglanggeran sekaligus pemandu wisata dalam virtual tur Atourin Sugeng Handoko membeberkan alasan Nglanggeran mampu meningkatkan perekonomian di balik pengurangan jumlah kunjungan wisatawan.

"Wisatawannya lebih lama tinggal di desa wisata. Kemudian lebih melakukan interaksi dengan masyarakat bahkan membeli produk lokal yang ada di masyarakat desa," kata Sugeng, Sabtu (16/5/2020).

Ia menjelaskan, Nglanggeran telah mengurangi jumlah kunjungan sekitar 200.000 orang dibandingkan lima tahun sebelumnya pada 2014.

Menurut Sugeng, jumlah wisatawan pada tahun 2014 ke Nglanggeran sangat banyak yaitu sekitar 325.000 orang. Namun, bukannya merasa senang, masyarakat Nglanggeran justru merasa tidak nyaman.

Baca juga: Menikmati Syahdunya Petang di Embung Nglanggeran, Gunungkidul

Salah satu peserta Take Me Anywhere 2, Yayang Mutiara mengambil sideface selfie di Embung Nglanggeran.
KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRI Salah satu peserta Take Me Anywhere 2, Yayang Mutiara mengambil sideface selfie di Embung Nglanggeran.
"Terlalu berisik, polusi suara, udara, kemudian ada vandalisme, dan sampah. Itu jadi masalah. Setelah itu kami sepakat tim pengelola dan masyarakat untuk mencoba mengontrol, mengatur, serta memilih segmen wisatawan yang lebih menghargai lingkungan," jelasnya.

Gayung bersambut, upaya itu pun kemudian berhasil. Pada tahun 2019 tercatat, jumlah kunjungan wisatawan di Nglanggeran sekitar 103.000 orang.

Terkait angka kenaikan perekonomian masyarakatnya, Sugeng mengatakan, adanya kenaikan sekitar Rp 2 miliar.

"Dulu tahun 2014 omzet kami Rp 1,4 miliar, tapi di 2019 ini, dengan hanya jumlah wisatawan 103.000an orang, itu omzetnya bisa Rp 3,2 miliar," terangnya.

Lebih lanjut, Sugeng menyoroti hal ini tak lepas dari adanya program live in yang tengah digalakkan masyarakat Nglanggeran.

Para pegiat wisata yang ada di Nglanggeran menjual paket wisata berupa live in dengan beragam kegiatan positif.

Baca juga: Lagu Banyu Langit Didi Kempot, Bikin Turis Penasaran ke Nglanggeran

Desa Wisata Nglanggeran yang berada di Yogyakarta, masuk dalam Top 100 Destinasi Berkelanjutan Dunia bersama tiga desa wisata di Indonesia lainnya.Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Desa Wisata Nglanggeran yang berada di Yogyakarta, masuk dalam Top 100 Destinasi Berkelanjutan Dunia bersama tiga desa wisata di Indonesia lainnya.

Adapun kegiatan positif dari live in tersebut di antaranya wisatawan dapat belajar tata krama atau budi pekerti masyarakat setempat, kearifan lokal kebudayaan, dan nilai kemandirian.

"Pertama itu ada edukasi unggah-ungguh tata krama. Kedua yaitu edukasi terhadap kebudayaan, jadi para peserta live in diminta untuk mempraktekkan kebudayaan Jawa misalnya sopan santun terhadap orangtua dengan cara budaya Jawa," kata Sugeng.

"Ketiga, edukasi terkait kemandirian, para peserta diminta untuk mandiri dan empatinya diasah, mereka harus berinteraksi dengan masyarakat," lanjutnya.

Selain itu, program live in tersebut juga menekankan nilai keramahan lingkungan. Hal ini dikarenakan salah satu program ada yang mengajari wisatawan cara berinteraksi dengan alam.

"Misalnya cara membuat nasi dari nanam sampai siap disantap. Itu menjadi sebuah edukasi bagi masyarakat yang belum pernah hidup di desa, mungkin proses seperti ini dapat menjadi pengalaman yang tak terlupakan," pungkasnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com