Kompas.com - 17/05/2020, 11:20 WIB
Gunung Api Purba Nglanggeran yang aktif sekitar 70 juta tahun lalu menjulang dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Kamis (25/4). Gunung tersebut dikembangkan oleh masyarakat setempat menjadi salah satu obyek wisata alternatif yang menawarkan keunikan bentang alam yang tersusun dari material vulkanik tua. Kompas/Ferganata Indra RiatmokoGunung Api Purba Nglanggeran yang aktif sekitar 70 juta tahun lalu menjulang dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Kamis (25/4). Gunung tersebut dikembangkan oleh masyarakat setempat menjadi salah satu obyek wisata alternatif yang menawarkan keunikan bentang alam yang tersusun dari material vulkanik tua.

 

Gunung Api Purba Nglanggeran

Sampailah kami di tujuan pertama wisata virtual di Nglanggeran, tepatnya di Gunung Api Purba Nglanggeran. Sugeng menjelaskan kepada para peserta mulai dari biaya parkir, tiket masuk, hingga daya tarik tempat ini.

"Jadi di sini itu biasanya wisatawan langsung menuju loket pintu masuk dan membayar tiket masuk yang sekaligus merupakan karcis parkir. Dari sini, nanti wisatawan akan trekking menuju puncak Gunung Api Purba Nglanggeran," ujarnya.

Terdapat keunikan dan menjadi salah satu keunggulan Gunung Api Purba Nglanggeran yaitu pengadaan e-ticketing di loket pintu masuk.

Menurut Sugeng, pihak pengelola menyadari akan pentingnya e-ticketing untuk mempermudah pelayanan menjadi lebih cepat, akurat, dan ramah lingkungan.

"Dulu setiap tahun kita bisa menghabiskan beberapa dus untuk tiket, saat ini kita lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan kertas. Wisatawan bisa memilih mau diantar dengan pemandu atau jalan sendiri, tapi biasanya mereka yang ke sini tanpa pemandu dikarenakan sudah hafal treknya," jelas Sugeng.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jika wisatawan yang datang merupakan rombongan, biasanya akan dilakukan briefing terlebih dahulu oleh pemandu wisata di pendopo. Kemudian, para peserta akan diberikan informasi apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh selama trekking.

Sebelum pandemi, Gunung Api Purba Nglanggeran tidak mengenal waktu tutup operasional atau dalam kata lain buka selama 24 jam dalam satu minggu.

Usai diberikkan briefing, peserta akan memulai trekking selama 15 menit untuk sampai ke Pos 1 Gunung Api Purba Nglanggeran. Pada pos ini, peserta bisa berfoto-foto suasana atau pemandangan hutan, dan dinding berbatu yang terlihat di sekitar.

Baca juga: Bosan di Rumah Saja? Yuk Ikut 17 Virtual Tour di Akhir Pekan Ini

Kemudian, peserta akan melewati lorong sumpitan. Lorong ini terbilang sempit dan hanya memuat kapasitas satu orang untuk melewatinya, sehingga peserta biasanya harus mengantre.

Selang 10 menit kemudian, peserta telah tiba di puncak Gunung Api Purba Nglanggeran yang berketinggian 700 mdpl ini. Terdapat dua puncak yaitu puncak barat atau puncak Bagong dan puncak timur yang berlokasi di Kampung Pitu.

Peserta dapat melihat pemandangan menakjubkan seperti embung Nglanggeran, dan Gunung Merapi.

Kawasan Gunung Api Purba Dilihat dari Embung Nglanggeran, Gunungkidul.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Kawasan Gunung Api Purba Dilihat dari Embung Nglanggeran, Gunungkidul.

Embung Nglanggeran

Usai puas menikmati keindahan dari puncak Gunung Api Purba Nglanggeran, peserta kemudian diajak untuk menjelajahi Embung Nglanggeran dengan menggunakan kendaraan mobil Pajero.

Pajero yang dimaksud merupakan kendaraan pick-up terbuka dan memiliki akronim panas njobo njero atau dalam bahasa Indonesia berarti panas luar dalam.

Bukan tanpa alasan, wisatawan yang naik "Pajero" ini akan merasakan sensasi sengatan matahari khas Gunungkidul hingga sampai ke Embung Nglanggeran.

"Ini jadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan. Biasanya bule-bule atau wisatawan mancanegara itu pasti minta foto saat naik "Pajero" ini. Jadi suatu kekhasan kalau panas kepanasan, kalau hujan kehujanan," jelas Sugeng.

Jarak Embung Nglanggeran cukup dekat, hanya sekitar 1,5 kilometer dari Gunung Api Purba Nglanggeran.

Sepanjang perjalanan, peserta akan melihat banyaknya pohon kakao yang mana diolah menjadi oleh-oleh khas Nglanggeran yaitu cokelat.

Sampai di lokasi, tampak area parkir cukup luas dan dapat menampung kendaraan besar seperti bus.

Baca juga: Virtual Tour, Peluang Baru Pariwisata di Era New Normal

Embung Nglanggeran sendiri merupakan telaga buatan yang berfungsi untuk menampung air hujan dan dimanfaatkan untuk mengairi perkebunan setempat pada musim kemarau.

Oleh sebab itu, di sini ada kebun buah klengkeng dan durian seluas 20 hektar.

Untuk sampai ke embung, peserta perlu mendaki atau trekking selama 7-10 menit. Kemudian peserta dapat melihat visualisasi embung seluas 0,34 hektar dengan kedalaman sekitar 4 meter.

Jika berkunjung langsung, peserta biasanya dapat bermain layang-layang dan mengunjungi kebun buah bahkan memetiknya.

Pisang Salut Cokelat di Griya Cokelat Nglanggeran.Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya Pisang Salut Cokelat di Griya Cokelat Nglanggeran.

Griya Cokelat

Tujuan selanjutnya yaitu mengunjungi pusat oleh-oleh cokelat khas Nglanggeran tepatnya di Griya Cokelat.

Sugeng menjelaskan bahwa griya cokelat merupakan suatu inovasi dari tiga kelompok usaha desa yaitu kelompok petani kakao, kelompok kuliner, dan kelompok sadar wisata.

Adapun produk unggulan yang tersedia di Griya Cokelat di antaranya minuman cokelat murni. Ada pula pilihan varian rasa dari minuman cokelat tersebut.

Selain itu, keripik pisang salut cokelat dan bubuk cokelat juga menjadi unggulan dari produk Griya Cokelat.

Bagi para peserta yang ingin membeli produk tersebut juga diinformasikan caranya dengan menghubungi kontak website cokelatpurba.com  atau melalui media sosial Instagram @griya.cokelat.nglanggeran.

Harga kisaran dari masing-masing produk yaitu mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 55.000.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kitagawa Pesona Bali, Tempat Wisata Bernuansa Pulau Dewata di Wonogiri

Kitagawa Pesona Bali, Tempat Wisata Bernuansa Pulau Dewata di Wonogiri

Jalan Jalan
Ancol Belum Terima Wisatawan Usia di Bawah 12 Tahun Saat Libur Maulid

Ancol Belum Terima Wisatawan Usia di Bawah 12 Tahun Saat Libur Maulid

Travel Update
Wisatawan di Bantul Diharapkan Tunjukkan Kartu Vaksin Jika Susah Akses PeduliLindungi

Wisatawan di Bantul Diharapkan Tunjukkan Kartu Vaksin Jika Susah Akses PeduliLindungi

Travel Update
Dari Sejarah hingga Budaya, Temukan 4 Kegiatan Harmonis di Desa Wisata Kampung Majapahit

Dari Sejarah hingga Budaya, Temukan 4 Kegiatan Harmonis di Desa Wisata Kampung Majapahit

Jalan Jalan
Syarat Terbaru Naik Pesawat, Wajib Tes PCR walau Divaksin Dosis Lengkap

Syarat Terbaru Naik Pesawat, Wajib Tes PCR walau Divaksin Dosis Lengkap

Travel Update
DAMRI Buka Rute Baru untuk Perjalanan Yogyakarta-Jakarta PP

DAMRI Buka Rute Baru untuk Perjalanan Yogyakarta-Jakarta PP

Travel Update
Turis Asing Wajib Punya Asuransi Rp 1,4 Miliar Dirasa Berat, Ini Tanggapan Sandiaga

Turis Asing Wajib Punya Asuransi Rp 1,4 Miliar Dirasa Berat, Ini Tanggapan Sandiaga

Travel Update
Harga Paket Karantina di Hotel untuk Turis Asing di Bali Masih Digodok

Harga Paket Karantina di Hotel untuk Turis Asing di Bali Masih Digodok

Travel Update
Turun ke PPKM Level 2, Wisata Yogyakarta Boleh Buka dengan Syarat

Turun ke PPKM Level 2, Wisata Yogyakarta Boleh Buka dengan Syarat

Travel Update
Ada Rencana Sambutan untuk Turis Asing Pertama yang Tiba di Bali

Ada Rencana Sambutan untuk Turis Asing Pertama yang Tiba di Bali

Travel Update
Penerbangan Reguler dari Luar Negeri ke Bali Masih Sepi, Kemenparekraf Gencarkan Promosi

Penerbangan Reguler dari Luar Negeri ke Bali Masih Sepi, Kemenparekraf Gencarkan Promosi

Travel Update
Ganjil Genap Diterapkan di Puncak dan Sentul Bogor, Antisipasi Libur Nasional.

Ganjil Genap Diterapkan di Puncak dan Sentul Bogor, Antisipasi Libur Nasional.

Travel Update
PPKM Level 2, Sebagian Besar Wisata Gunungkidul Siap Dikunjungi

PPKM Level 2, Sebagian Besar Wisata Gunungkidul Siap Dikunjungi

Travel Update
Sandiaga Angkat Bicara Soal Bali yang Masih Sepi Turis Asing

Sandiaga Angkat Bicara Soal Bali yang Masih Sepi Turis Asing

Travel Update
Hanya Turis Asing Berpaspor dari 19 Negara yang Bisa Langsung ke Bali dan Kepri

Hanya Turis Asing Berpaspor dari 19 Negara yang Bisa Langsung ke Bali dan Kepri

Travel Update

Video Pilihan

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.