Pengalaman Virtual Tour ke Sawahlunto, Susuri Situs Warisan Dunia

Kompas.com - 18/05/2020, 08:28 WIB
Foto dirilis Jumat (2/8/2019), memperlihatkan bangunan silo, bekas penyimpanan batubara yang kini menjadi cagar budaya dan dimanfaatkan sebagai arena panjat tebing di Sawahlunto. Sejak ditetapkannya visi baru untuk membangun daerah, yakni mewujudkan Kota Wisata Tambang yang Berbudaya, Sawahlunto pun berbenah, dengan sejumlah cagar budaya, kereta api, termasuk lubang tambang di kota arang itu direvitalisasi. ANTARA FOTO/IGGOY EL FITRAFoto dirilis Jumat (2/8/2019), memperlihatkan bangunan silo, bekas penyimpanan batubara yang kini menjadi cagar budaya dan dimanfaatkan sebagai arena panjat tebing di Sawahlunto. Sejak ditetapkannya visi baru untuk membangun daerah, yakni mewujudkan Kota Wisata Tambang yang Berbudaya, Sawahlunto pun berbenah, dengan sejumlah cagar budaya, kereta api, termasuk lubang tambang di kota arang itu direvitalisasi.

 

Hari ketiga

Kawasan Silo Sawahlunto

Hari ketiga dimulai dengan mengunjungi kawasan Silo Sawahlunto yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Kota Sawahlunto.

Kawasan Silo merupakan kompleks pengolahan batubara. Terdapat gedung Silo di mana tempat penyimpanan sementara batubara sebelum dibawa dengan kereta api menuju Teluk Bayur.

Seiring perkembangan zaman, beberapa bangunan di kawasan ini dimanfaatkan dengan beragam fungsi.

Wisatawan juga bisa melihat taman edukasi kawasan Silo, dan taman ini sering digunakan untuk bermain anak-anak maupun rekreasi keluarga.

Pemakaman Belanda

Berlanjut ke daerah Lubang Panjang, kami mengunjungi pemakaman Belanda. Dibangun pada tahun 1902, makam ini berisi jenazah orang-orang Belanda yang pernah tinggal di Sawahlunto.

Makamnya ada sekitar 94. Kendati demikian tak semua makam di sini berisikan jenazah orang Belanda.

"Ada juga satu makam orang Jepang di sini," kata Gino.

Luas pemakaman Belanda ini sekitar 7.000 meter persegi. Hingga kini, tempat ini telah dilakukan beberapa kali pemugaran.

Foto dirilis Jumat (2/8/2019), memperlihatkan suasana lansekap Kota Sawahlunto, terlihat dari Puncak Cemara. Sejak ditetapkannya visi baru untuk membangun daerah, yakni mewujudkan Kota Wisata Tambang yang Berbudaya, Sawahlunto pun berbenah, dengan sejumlah cagar budaya, kereta api, termasuk lubang tambang di kota arang itu direvitalisasi.ANTARA FOTO/IGGOY EL FITRA Foto dirilis Jumat (2/8/2019), memperlihatkan suasana lansekap Kota Sawahlunto, terlihat dari Puncak Cemara. Sejak ditetapkannya visi baru untuk membangun daerah, yakni mewujudkan Kota Wisata Tambang yang Berbudaya, Sawahlunto pun berbenah, dengan sejumlah cagar budaya, kereta api, termasuk lubang tambang di kota arang itu direvitalisasi.

Puncak Cemara

Setelah setengah hari berada di pusat kota, peserta tur diajak naik ke puncak bukit yaitu puncak Cemara, Saringan, Sawahlunto.

Dari sini, kita dapat melihat seluruh kota Sawahlunto yang tampak kecil.

"Kita dapat melihat secara rinci bentang alam di kota ini dari ketinggian puncak Cemara," kata Gino.

Selain puncak Cemara, ada puncak lain yang menarik untuk dikunjungi yaitu puncak Sati yang baru dibuka oleh kelompok sadar wisata.

Puncak Cemara dapat dikunjungi setiap hari dan dikelola oleh Dinas Pariwisata.

Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto jadi Warisan Dunia UNESCO. Dok. Sekretariat Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto jadi Warisan Dunia UNESCO.

Kawasan Kandi

Berikutnya, kami diajak ke kawasan Kandi yang dulunya merupakan bekas area tambang batubara PT Bukit Asam.

Terdapat arena bermain dan rekreasi wisata seperti pacuan kuda, outbound, taman satwa, wisata air, roadrace, dan motocross.

Baca juga: Pengalaman Ikut Virtual Tour Lawang Sewu, Seru Sekali!

"Kawasan ini dulunya tambang, lalu sudah kembali hijau dan direklamasi pasca tambang. Dulu sempat diproyeksikan sebagai kota baru Sawahlunto. Ada banyak fasilitas olahraga di sana," kata Gino.

Wisatawan memasuki Lubang Mbah Suro yang merupakan salah satu peninggalan kegiatan tambang batubara di Sawahlunto, Sumatera Barat, Sabtu (30/5).KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA Wisatawan memasuki Lubang Mbah Suro yang merupakan salah satu peninggalan kegiatan tambang batubara di Sawahlunto, Sumatera Barat, Sabtu (30/5).

Danau Biru

Tempat wisata terakhir yang dikunjungi adalah Danau Biru, Tumpuak Tangah, Sawahlunto. Nama danau biru diambil berdasarkan warna biru yang ada pada air danau.

"Danau biru jadi daya tarik sendiri dari warna biru airnya, dan landskap hijau dari hutan di sekelilingnya," kata Gino.

Gino mengatakan, banyak sekali danau bekas aktivitas tambang di Sawahlunto. Selain Danau Biru, danau semacam ini juga terdapat di Kawasan Kandi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X