Ada di Relief Candi Borobudur, Ini Sejarah Durian di Nusantara

Kompas.com - 26/05/2020, 12:34 WIB
Ilustrasi durian shutterstock.com/topnatthaponIlustrasi durian

 

Durian Buah Panas untuk Kesuburan

Ada berbagai mitos yang menyertai buah durian, salah satunya adalah buah durian dipercaya akan memberikan kesuburan pada pemakannya.

Oleh karena itu, jika raja ingin mengawini istri-istrinya untuk menghasilkan keturunan yang baik maka ia akan memakan buah durian.

Buah durian dikenal juga sebagai buah ‘panas’ karena kandungan zat gizi dan energi yang tinggi.

Adanya penggambaran durian di pekarangan “keputren” atau tempat tinggal khusus puteri-puteri atau istri-istri raja menunjukkan bahwa buah ini memberikan kesuburan bagi wanita agar mudah hamil.

“Keturunan dari raja sangat diharapkan bayi laki-laki yang sehat, cukup gizi/nutrisi, dan cerdas agar dapat menjadi calon pewaris mahkota kerajaan di kemudian hari,” tertera dalam buku Durian: Pengetahuan Dasar untuk Pecinta Durian yang menjelaskan mengenai interpretasi relief di Candi Borobudur tersebut.

Baca juga: Waktu, Musuh Penjual dan Pencinta Durian

Selain melalui relief Candi Borobudur, sejarah durian di Indonesia juga bisa dilihat di halaman Istana Narmada yang dipisahkan oleh sungai kecil tapi berarus deras. Pada masa itu, sang raja memiliki kebun durian.

“Dapat dibayangkan bahwa seorang raja pasti memperoleh ‘persembahan’ buah durian terbaik dari rakyatnya. Biji buah durian pilihan yang disukai sang raja lalu ditanam di pekarangan," seperti tertera dalam buku Durian: Pengetahuan Dasar untuk Pecinta Durian.

"Pada masa itu belum dikenal cara okulasi atau grafting, sehingga biji yang ditanam menghasilkan pohon-pohon dengan buah yang beragam, tetapi cukup berkualitas," lanjut buku tersebut. 

Hingga saat ini, beberapa pohon durian unggul masa lalu tersebut masih produktif menghasilkan buah. Bahkan jika masuk musim panen raya, satu pohon dapat menghasilkan lebih dari 1000 buah.

Dua pohon yang konsisten berkualitas tinggi dilepas oleh Kementerian Pertanian RI dengan nama varietas ‘Tong Medaye’ dan ‘Sipayuk’.

Selengkapnya mengenai sejarah durian bisa dibaca di VIK: Pesta Durian. Dalam VIK ini juga diulas mengenai tips, fakta dan mitos, hingga sejarah durian.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X