Tak Ada Wisatawan, Bagaimana Nasib UMKM Pariwisata dan Pusat Oleh-Oleh Yogyakarta?

Kompas.com - 28/05/2020, 22:01 WIB
Pembeli mengantre bakpia di industri Bakpia Pathok 25 di Jalan KS Tubun, Yogyakarta, Kamis (24/9/2009). Melonjaknya permintaan makanan oleh-oleh khas Yogyakarta itu membuat industri tersebut harus menambah 45 pekerja yang didatangkan dari Gombong dan Magelang, Jawa Tengah, selama masa libur Lebaran. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOPembeli mengantre bakpia di industri Bakpia Pathok 25 di Jalan KS Tubun, Yogyakarta, Kamis (24/9/2009). Melonjaknya permintaan makanan oleh-oleh khas Yogyakarta itu membuat industri tersebut harus menambah 45 pekerja yang didatangkan dari Gombong dan Magelang, Jawa Tengah, selama masa libur Lebaran.


JAKARTA, KOMPAS.com - Industri pariwisata menjadi salah satu yang paling terdampak dari  pandemi virus corona. Sudah dua bulan orang-orang enggan dan dibatasi bepergian.

Bagaimana para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (umkm)yang menjajakan oleh-oleh khas Yogyakarta dapat bertahan?

Terlebih dengan larangan mudik Lebaran yang membuat Yogyakarta semakin sepi kunjungan.

Baca juga: Bantuan untuk UMKM Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disiapkan Selama Corona

"Sebelum Lebaran juga tempat oleh-oleh itu pada tutup. Sehingga kalau wisatawan enggak ada, otomatis enggak ada pembeli," kata Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo, dihubungi Kompas.com, Rabu (27/5/2020).

Alhasil karena kondisi tersebut, Singgih mengatakan pelaku UMKM oleh-oleh mengubah strategi. salah satu caranya dengan menyesuaikan jumlah produksi. 

Hal ini, kata dia, merupakan keprihatinan dari sektor pariwisata yang terdampak pandemi.

Ia pun mengungkapkan situasi dan kondisi terkini dari pelaku usaha oleh-oleh di Yogyakarta yang beralih ke saluran penjualan online.

Namun, menurutnya hasil yang didapat tak sebanyak pada saat kunjungan langsung wisatawan.

Baca juga: New Normal Pariwisata Indonesia: Toilet Bersih hingga Tim Rescue

"Tentu cara-cara yang dilakukan dengan cara online, tapi oplahnya tak terlalu besar," terangnya.

Suasana di rumah produksi Dwi 888 produsen kerupuk ikan dari Kulon Progo. Kerupuk merek menjadi pajangan di banyak kios dan toko oleh-oleh di Yogyakarta. KOMPAS.com/DANI J Suasana di rumah produksi Dwi 888 produsen kerupuk ikan dari Kulon Progo. Kerupuk merek menjadi pajangan di banyak kios dan toko oleh-oleh di Yogyakarta.

Lebih lanjut Singgih mengatakan kendati tempat oleh-oleh ditutup, para pelaku UMKM tetap beraktivitas. 

Mereka mengikuti pelatihan atau pembinaan dari Dinas Koperasi dan UMKM, terkait cara berjualan online.

Selain itu ia mengaku pelaku UMKM di Yogyakarta khususnya pariwisata sudah mendapat bantuan dari pemerintah di masa tanggap darurat agar tetap bisa bertahan.

Baca juga: Bakal Seperti Apa Wisata Candi Borobudur di Era New Normal?UM

"Salah satunya memberikan gratis ongkos kirim. Jadi biaya ongkir barang oleh-oleh itu ditanggung pemerintah, gratis. Menguntungkan pihak penjual dan pembeli juga," jelasnya.

Ia menyoroti bahwa sektor pariwisata merupakan sektor yang paling luas terdampak virus corona.

"Kalau sektor pariwisata enggak gerak itu yang terdampak sangat luas. Harapan kami nanti setelah situasi memungkinkan, kita akan membuka secara pelan-pelan, dengan berbagai protokol kesehatan," terangnya.

Baca juga: Pembukaan Pariwisata Yogyakarta Tunggu Rekomendasi Gugus Tugas

Saat ini, Singgih dan pihaknya tengah fokus dalam menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) pariwisata di era New Normal.

Salah satu aturannya juga akan fokus pada pusat oleh-oleh yang lebih mengutamakan kebersihan dan kesehatan.

Pengunjung melihat desain baju dan kaos yang dijual di toko Supoyo. Harga baju dan kaos tersebut berkisar Rp 125.000.Nicholas Ryan Aditya Pengunjung melihat desain baju dan kaos yang dijual di toko Supoyo. Harga baju dan kaos tersebut berkisar Rp 125.000.

Untuk itu, ia meminta kerjasama antara pelaku usaha wisata dan wisatawan agar ikut serta membantu jalannya protokol tersebut jika sudah diberlakukan.

"Karena kalau sudah ada SOP tapi wisatawan dan pelakunya juga tidak mengikutinya, tidak punya komitmen yang kuat, ya sama saja," jelas Singgih. 

Ia mengimbau kerja sama antara pengelola destinasi dan wisatawan agar punya kesadaran tinggi meminimalisir penyebaran virus corona. 

Baca juga: 3 Syarat Wajib agar Tempat Wisata Yogyakarta Bisa Dibuka Kembali

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X