Sejarah Susu di Indonesia, Dulu Dianggap Darah Putih

Kompas.com - 31/05/2020, 16:12 WIB
Ilustrasi kerbau membajak sawah. SHUTTERSTOCK/TIRTAPERWITASARIIlustrasi kerbau membajak sawah.

 

Awal mula susu masuk ke Indonesia

Indonesia yang dulunya bernama Hindia Belanda adalah suatu negara yang berada di bawah perintah Belanda sebagai negara jajahaannya.

Budaya Eropa khususnya Belanda memiliki pengaruh kuat sebagai faktor pendorong masuknya susu ke Hindia Belanda.

Tidak hanya itu, karena budaya Eropa juga susu menjadi bagian dari kebutuhan pangan orang Indonesia hingga saat ini.

Orang Eropa khususnya Belanda pada umumnya memang memiliki tradisi gembala, selain itu kualitas susu dari sapi perah Belanda juga baik. Masyarakat Belanda juga memiliki kebiasaan mengonsumsi susu sapi.

Namun setelah mereka datang ke Hindia Belanda, mereka melihat bahwa kondisi di Hindia Belanda jauh berbalik dari tradisi di negara asalnya.

Seorang Eropa yaitu Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles dalam bukunya 'The History of Java' menyatakan jika orang pribumi khususnya Jawa tidak memanfaatkan susu dari kerbau dan sapi.

Dalam buku tersebut Thomas Stamford Raffles mengungkapkan jika orang pribumi tepatnya orang Jawa, melihat kerbau sebagai hewan yang hanya bisa dimanfaatkan tenaganya saja, yaitu untuk membajak sawah.

Baca juga: Cara Membekukan Susu di Freezer, Bisa Awet Sampai Tiga Bulan

Ia memaparkan bahwa orang Jawa tidak ingin mengonsumsi susu. Thomas mengungkapkan fakta ini sama dengan yang terjadi di beberapa kawasan Indo China.

Dulu orang Indonesia tidak mengonsumsi susu karena dianggap darah putih dari kerbau atau sapi. Susu dipandang sama dengan darah, atau nanah yang ada di dalam tubuh kerbau dan sapi.

“Sehingga ketika orang-orang Jawa melihat orang-orang Eropa minum susu, mereka menganggap minuman itu adalah minuman yang menjijikkan,” ujar Fadly.

Orang Indonesia dan masyarakat Asia Tenggara tidak memahami khasiat susu, sehingga mereka tidak tahu jika susu adalah salah satu minuman yang bisa dikonsumsi.

Maka dari itu jumlah sapi perah di Hindia Belanda yang dapat menghasilkan susu dengan kualitas baik sangat rendah.

Hal tersebut mendorong Bangsa Kolonial untuk membudidayakan susu di Indonesia dengan mengimpor sapi perah dari India, Belanda, dan Australia di abad ke 19 dan 20.

Sapi perah tersebut akhirnya dibudidayakan di kawasan-kawasan bercuaca dingin. Sapi tersebut diimpor secara bergelombang dan masuk ke kawasan yang fokus untuk membudidayakan sapi perah ini.

Salah satu daerah dan yang pertama kedatangan sapi perah impor adalah kawasan Lembang, Bandung. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhkan pangan orang Eropa saat itu.

Awalnya susu ditujukan hanya untuk dikonsumsi oleh bangsa Eropa bukan untuk kaum pribumi.

Bangsa Belanda gencar memproduksi susu agar kebutuhan pangan serta gizi orang Belanda di Indonesia kala itu tercukupi.

Ilustrasi memerah susu sapi. SHUTTERSTOCK/ZACCHIO Ilustrasi memerah susu sapi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X