Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Kompas.com - 01/06/2020, 20:20 WIB
Proses memilih hasil akhir, biji kopi bagus dan tidak secara manual DOK NESPRESSOProses memilih hasil akhir, biji kopi bagus dan tidak secara manual


JAKARTA, KOMPAS.com – Dua biji kopi yang terbilang paling dikenal di dunia adalah robusta dan arabika. Keduanya memiliki karakteristik berbeda mulai dari bentuk fisik, proses pengolahan, hingga rasa.

Baca juga: Mengenal Kopi Arabika Yellow Caturra dan Arabika Juria asal Manggarai NTT

Selain robusta dan arabika, sebenarnya ada banyak jenis kopi berbeda di dunia. Kebanyakan muncul atau tercipta karena kawin silang yang terjadi di alam atau dikembangkan oleh peneliti. Tiap jenis punya karakter dan rasa yang berbeda juga.

Berikut ini perbedaan antara biji kopi robusta dan arabika.

Biji kopi robusta

Biji kopi jenis ini jadi yang paling banyak terdapat di dunia. Menurut William Heuw, owner dari brand Kopi Kangen, kopi robusta cenderung lebih tahan terhadap hama dan penyakit.

Kopi robusta juga lebih mudah dalam hal penanaman dan perawatan.

Pohon kopi robusta hanya perlu ditanam di lahan yang berada di ketinggian di bawah 1000 mdpl. Karena itulah lahan kopi robusta juga cenderung lebih luas daripada kopi arabika.

“Kalau arabika kan harus di atas gunung. Di Indonesia juga kebanyakan robusta sih, petani lebih gampang untuk tanam juga,” ujar William pada Kompas.com, Selasa (10/3/2020).

Jumaira memilah biji kopi di Desa Gombengsari, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (22/6/2018). Kopi Gombengsari yang dikenal dengan kopi robusta berkualitas terbaik memiliki ciri aroma khas buah kelapa dan cara memasaknya yang berbeda yaitu menyangrai dengan kuali tanah liat dan menumbuk biji kopi dengan kayu hingga jadi bubuk.ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASA Jumaira memilah biji kopi di Desa Gombengsari, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (22/6/2018). Kopi Gombengsari yang dikenal dengan kopi robusta berkualitas terbaik memiliki ciri aroma khas buah kelapa dan cara memasaknya yang berbeda yaitu menyangrai dengan kuali tanah liat dan menumbuk biji kopi dengan kayu hingga jadi bubuk.

 

Pohon kopi robusta bisa tumbuh di ketinggian yang rendah, iklim yang panas, dengan kondisi air yang sedikit. Itu berpengaruh pada rasa kopi robusta yang cenderung tak senikmat arabika.

Sementara menurut Dadang Hendarsyah, selaku Unit Head da ICS Manager PT. Olam Indonesia Sunda Cluster, kopi robusta dalam proses pengolahan bijinya sangat sederhana. Para petani cenderung sering melakukan proses natural untuk biji kopi robusta.

“Mereka setelah dipetik itu dikuliti dan dikeringkan pakai oven. Prosesnya mudah jadi harganya juga lebih murah daripada arabika,” jelas Dadang pada Kompas.com, Selasa (10/3/2020).

Sementara dari bentuk, biji kopi robusta cenderung bulat. Untuk rasa kopi robusta cukup asam dan punya kandungan kafein lumayan tinggi.

Biji kopi arabika

Ilustrasi proses pembersihan biji kopi dari kotoran di Bener Meriah, Aceh. SHUTTERSTOCK/HENDRA MURDANI Ilustrasi proses pembersihan biji kopi dari kotoran di Bener Meriah, Aceh.

Biji kopi arabika dianggap jauh lebih baik dan berkualitas dari biji kopi robusta. Biji kopi arabika cenderung tak tahan hama sehingga harus mendapatkan perawatan ekstra.

Petani Indonesia tak terbiasa menanam arabika tapi menurut Dadang, beberapa tahun ini produksi arabika mulai meningkat.

Rasa kopi arabika cenderung lebih kaya daripada robusta, sedangkan bentuknya oval. Rasanya halus dan punya tingkat keasaman yang cukup tinggi dan kafein yang rendah.

Arabika penanamannya baiknya di atas 1000 atau 1500 mdpl,” ujar William.

Pohon kopi arabika harus ditanam di tanah yang berada di dataran tinggi. Menurut Dadang, tingkat pH dalam tanah pun berpengaruh. Ukurannya harus sekitar 5,6.

Selain itu tanah yang ada di dataran tinggi juga cenderung lebih gembur sehingga tidak terkontaminasi pestisida, menghasilkan biji kopi yang bagus.

Dari proses biji serta penanaman pun biji kopi arabika cenderung lebih rumit. Karena tak tahan hama, biji kopi arabika perlu dirawat secara intensif.

Kopi arabika yang dikembangkan masyarakat Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa BaratDok. Humas Kemendes PDTT Kopi arabika yang dikembangkan masyarakat Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat

Menurut Dadang, biji kopi arabika punya kulit yang sensitif. Hal itu berpengaruh pada harga biji kopi arabika yang cenderung lebih mahal daripada robusta.

“Arabika harus di-pulping lalu fermentasi. Setelah itu dijemur sampai kering, dibuka kulitnya. Dikeringkan juga tidak boleh pakai oven, harus langsung dengan matahari karena kulitnya sensitif. Kalau dioven nanti akan mengubah cita rasa arabika,” jelas Dadang.

 

 

Rasa kopi dipengaruhi teknik roasting dan penyeduhan

Ilustrasi proses roasting biji kopi. SHUTTERSTOCK/ARTEM VARNITSIN Ilustrasi proses roasting biji kopi.

Menurut William, walaupun biji robusta dan arabika punya rasa yang cukup seragam di masing-masing jenisnya, tapi ada juga kopi robusta dan arabika yang berasal dari daerah origin berbeda akan memiliki rasa yang berbeda.

Rasa kopi dipengaruhi oleh lokasi penanaman dan cara roasting serta penyeduhan yang dilakukan.

Khususnya pada teknik roasting dan penyeduhan untuk mengeluarkan rasa khusus dari biji kopi tersebut.

“Tergantung roastery yang menggunakan berbagai teknik untuk mengeluarkan cita rasa berbeda. Misalnya, biji yang sama-sama dari Malabar tapi diproses di roastery berbeda. Rasanya mungkin bisa jadi berbeda,” jelas William.

“Ada yang medium light, medium, dark roasting, medium to dark. Nah tahap roasting itu akan menciptakan rasa yang berbeda. Selain itu juga ada tahap penyeduhan yang membedakan,” lanjutnya.

Ilustrasi kopi diseduh dengan teknik V60. SHUTTERSTOCK/PAULZHUK Ilustrasi kopi diseduh dengan teknik V60.

Menurutnya, biji kopi pada dasarnya punya karakteristik masing-masing. Ketika proses roasting, proses itu akan memperkuat dan mengeluarkan karakteristik tersebut.

Maka dari itu banyak juga orang atau komunitas yang suka “mengulik” kopi. Mereka mencoba proses roasting dengan tingkat panas yang berbeda kira-kira akan menghasilkan rasa kopi seperti apa.

Setelah di-roasting, biji kopi pun masuk tahap penyeduhan. Teknik penyeduhan pun ada beragam. Menurut William, tahap ini juga akan menghasilkan rasa yang berbeda satu sama lain.

Baca juga: Tips Membuat Kopi Menggunakan French Press saat Kerja dari Rumah

“Bisa ditubruk, bisa manual brew V60, aeropress, pasti nanti hasilnya berbeda. Ada yang body tebal, asamnya tinggi, rasa pahitnya terasa, macam-macam,” tutup William.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X