Kompas.com - 06/06/2020, 13:10 WIB

Selain itu, penggunaannya juga efektif melihat bahwa panggung mereka kecil dan sempit. Membuat jaga jarak tidak memungkinkan.

Bagi para penonton penari tradisional tersebut, hal ini merupakan pemandangan yang tidak biasa.

“Kami belum pernah melihat yang seperti ini,” kata May Ithijaroon kepada Republic World.

Baca juga: We Love Thailand, Kampanye Pariwisata Domestik Thailand Saat Pandemi Usai

Sebelum adanya pandemi virus corona, Kuil Erawan menjadi daya tarik utama. Terlebih bagi wisatawan China yang membayar hingga 22 dollar AS, sekitar Rp 312.499, untuk melihat tarian berdurasi pendek.

Biasanya, sebanyak 10.000 orang akan berkunjung setiap harinya, sehingga para penari terus menari--hampir tanpa istirahat.

Kendati demikian, lockdown yang diberlakukan oleh pemerintah Thailand membuat mereka harus berhenti.

Meski pentas tari dilanjutkan kembali sejak awal Mei, mereka tetap tidak memiliki wisatawan akibat penerbangan yang ditangguhkan.

Hingga kini, mereka bergantung pada pendapatan dari pengunjung setempat, meski angka yang didapat tidak sebanding. Penghasilan pun turun sekitar 70 persen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.