Seberapa Besar Kasus Refund Tiket Penerbangan pada Masa Pandemi?

Kompas.com - 19/06/2020, 19:40 WIB
Penumpang saat tiba di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/5/2020). PT Angkasa Pura II mengeluarkan tujuh prosedur baru bagi penumpang penerbangan rute domestik selama masa dilarang mudik Idul Fitri 1441 H di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPenumpang saat tiba di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/5/2020). PT Angkasa Pura II mengeluarkan tujuh prosedur baru bagi penumpang penerbangan rute domestik selama masa dilarang mudik Idul Fitri 1441 H di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.


JAKARTA, KOMPAS.com - Polemik refund atau pengembalian dana tiket penumpang pesawat pada masa pandemi masih menjadi perbincangan hangat--baik sisi maskapai penerbangan, travel agent, dan penumpang.

Lantas seberapa besar kasus refund tiket di Indonesia, khususnya penerbangan sehingga menimbulkan efek berkepanjangan bagi ketiga pihak?

Pengamat penerbangan Jaringan Penerbangan Indonesia, Gerry Soejatman, memprediksi kondisi refund tiket pesawat dengan membandingkannya sebelum dan sesudah pandemi.

"Dalam kondisi normal, yang di-refunditu mungkin satu persen dari tiket yang beredar," kata Gerry dalam webinar Astindo, Kamis (18/6/2020).

"Nah sekarang lagi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hampir semuanya berhenti. Kalau ada 120 juta penumpang dalam setahun, berarti 10 juta tiket sebulan," lanjutnya.

Baca juga: Proses Refund Antara Travel Agent dan Maskapai, Kenapa Terlihat Rumit?

Gerry melanjutkan, dalam kondisi normal, jika dianalogikan maka akan ada 100.000 tiket yang refund.

Namun, karena Covid-19, menurutnya, tiket refund dapat meningkat hingga 100 kali lipat dari biasanya.

"Berarti bisa dibayangkan yang tadinya 100.000 tiket untuk di-refund, sekarang jadi 10 juta tiket. Ini baru tiket pesawat. Belum hotel," kata Gerry.

"Hotel pun punya kendala yang sama. Kita tidak bicara 2 atau 10 kali lipat. Kita bicara 100 kali lipat," lanjutnya.

Baca juga: Kenapa Maskapai Tak Bisa Refund Tiket dalam Bentuk Uang Tunai?

 

IlustrasiSHUTTERSTOCK Ilustrasi
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Astindo, Pauline Suharno menerangkan bagaimana kondisi travel agent saat ini dapat bertahan.

Ia mengatakan, pihaknya kini sedang dalam posisi bertahan hidup. Menurutnya, travel agent menjadi yang paling terdampak untuk industri pariwisata saat ini, karena beragam tantangan harus dihadapi.

"Tantangan kami itu sudah harus mengurus refund, tidak ada penjualan. Tantangan lain yang tidak diketahui masyarakat adalah banyak penumpang yang sudah deposit tur untuk perjalanan wisata," ujarnya.

Baca juga: Ini Penyebab Lamanya Refund Tiket Pesawat dari Travel Agent

Pauline mengeluhkan tindakan maskapai yang tidak mengembalikan dana kepada travel agent melainkan mengumpulkannya untuk perjalanan berikut.

"Jadi bisa dikatakan, maskapai saat ini bertahan hidup operasionalnya sehari-hari dengan uang kami, uang travel agent, dan uang penumpang," terangnya.

Pauline menjelaskan, hingga saat ini, travel agent tetap membuka kantornya masing-masing dengan tugas utama--mengurus refund.

Baca juga: Astindo Minta Pemerintah Berikan Solusi Soal Refund Top Up Deposit

Ia juga menegaskan, para pekerja travel agent saat ini tetap mengakomodasi segala permintaan konsumen--khususnya masalah refund.

"Kami juga mau sampaikan bahwa kami tetap mengakomodasi segala permintaan konsumen, kami tetap ada di sini, kami tidak ke mana-mana," pungkasnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X