Kompas.com - 21/06/2020, 15:12 WIB
Pengunjung sedang menikmati pemandangan Danau Toba di Huta Ginjang di Kabupaten Tapanuli Utara KOMPAS.com / Gabriella WijayaPengunjung sedang menikmati pemandangan Danau Toba di Huta Ginjang di Kabupaten Tapanuli Utara

Menanggapi hal ini, Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Danau Toba, Arie Prasetyo mengatakan, beberapa kabupaten di Danau Toba sudah dapat dikategorikan menuju zona hijau.

Baca juga: Travel Bubble Indonesia Bakal Prioritaskan Wisata Alam

"Delapan kabupaten di Danau Toba itu kasusnya sangat sedikit, seperti di Kabupaten Dairi, itu kasusnya hanya satu orang positif. Bayangkan kabupaten-kabupaten seluas itu di Danau Toba, hanya punya 1-2 kasus, jadi dapat dikategorikan hijau," jelasnya.

Namun, diakui Arie, saat ini untuk daerah bandara Silangit yang berada di Kabupaten Tapanuli Utara masih berstatus kuning.

Sementara itu, Ketua ASITA Sumatera Utara, Solahuddin Nasution juga mendukung apabila travel bubble dapat terlaksana di antara zona hijau Malaysia-Danau Toba maupun Aceh.

Menurutnya, ini sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan bagi industri perjalanan untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata.

"Saya rasa travel agent yang paling awal menangkap mengambil kesempatan itu. Karena kita ini sudah empat bulan zero income. Jadi pasti kita semangat, kita sudah tidak sabar," ungkapnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski demikian, ia mempertanyakan kesiapan maskapai penerbangan untuk menerapkan travel bubble di antara kedua daerah ini.

"Masalahnya kan, airlines-nya mau enggak terbang dalam kondisi ini. Karena airlines pasti pure bisnis, bagaimana low factor-nya, berapa penumpang. Kalau dia hanya one way dari Malaysia ke sini, lalu dari sini ke Malaysia juga kosong, ini juga kendala," katanya.

Baca juga: Indonesia Berencana Buka Travel Bubble dengan 4 Negara

Senada dengan beberapa pendapat, pakar pariwisata dari Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari mengatakan, travel bubble akan lebih baik menggunakan istilah green travel bubble.

"Saya lebih konsen terhadap green travel bubble. Harusnya travel bubble itu diterapkan oleh dua koridor yang bersebelahan, contohnya Australia dan New Zealand. Saya setuju dengan rencana travel bubble Malaysia dan Danau Toba hingga Aceh," tuturnya.

Ia juga sedikit menyinggung rencana pembukaan travel bubble antara Indonesia-Jepang-Korea Selatan. Menurutnya, hal tersebut harusnya tidak dilakukan. Ia berpendapat konsep green travel bubble harusnya merupakan border dan koridor yang bersebelahan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.