Gunung Ciremai Mulai Dibuka, Hanya untuk Trekking Satu Hari

Kompas.com - 26/06/2020, 12:30 WIB
Pendaki berfoto di area puncak Gunung Ciremai, Jawa Barat. Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat yang memiliki ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut (mdpl). KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJOPendaki berfoto di area puncak Gunung Ciremai, Jawa Barat. Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat yang memiliki ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut (mdpl).


JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Kuswandono mengatakan, kegiatan wisata alam trekking dan tempat makanan minuman di TNGC akan dibuka mulai Jumat (26/6/2020) dan Sabtu (27/6/2020).

Pada Jumat, pembukaan akan dilakukan untuk TNGC yang berada di Kabupaten Kuningan, sedangkan Sabtu dibuka untuk Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Hal tersebut diungkapkan Kuswandono dalam webinar Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) bertajuk "Mendaki Gunung Aman dan Sehat di Masa Pandemi", Kamis (25/6/2020).

"Rencananya akan kami buka Jumat 26 Juni untuk Kabupaten Kuningan, dan baru Sabtu 27 Juni untuk Kabupaten Majalengka karena Bupati Majalengka mengizinkan pembukaan di tanggal tersebut," kata Kuswandono.

Baca juga: Ini Daftar 29 Kawasan Pariwisata Alam yang Siap Dibuka

Adapun keputusan untuk membuka kembali TNGC diperoleh dari berbagai rekomendasi baik daerah maupun pusat yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Ia menjelaskan, TNGC telah mendapat rekomendasi pembukaan yang mengacu Surat Edaran (SE) Bupati Kuningan tanggal 18 Juni, Bupati Majalengka tanggal 23 Juni, Keputusan KLHK tanggal 23 Juni, SE Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) tanggal 23 dan 25 Juni.

"Alhamdulillah, Gunung Ciremai termasuk yang diizinkan untuk dibuka kalau semua syarat sudah dipenuhi," ujarnya.

Lantas, apa saja syarat pembukaan Gunung Ciremai?

Menurut Kuswandono, syarat utama adalah tentu menerapkan protokol kesehatan baik petugas maupun pengunjung wisata.

Namun, ada hal yang lebih penting lagi yaitu tidak adanya pendakian pada tahap pertama pembukaan.

Ia mengatakan, pendakian Gunung Ciremai yang biasanya berlangsung dua hari satu malam yang artinya ada kegiatan menginap, tidak dapat diselenggarakan sementara waktu.

Pendaki di area puncak Gunung Ciremai, Jawa Barat. Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat yang memiliki ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut (mdpl).KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Pendaki di area puncak Gunung Ciremai, Jawa Barat. Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat yang memiliki ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Pihak TNGC hanya mengizinkan pengunjung untuk melakukan trekking one day trip atau satu hari.

"Kita pastikan bahwa pendakian belum dibuka pada tahap pertama, untuk menggairahkan rekan-rekan pengelola pendakian, kami kembangkan jalur trekking di jalur pendakian. Namun tetap mengacu protokol umum di sini, bahwa kegiatan itu tidak menginap," jelasnya.

Ia mengungkapkan, para pendaki bisa berkegiatan trekking mulai dari pukul 09.00 hingga 15.00 WIB.

Baca juga: Masih Tutup, Gunung Ciremai Umumkan Kuota Pengunjung

Oleh karena tidak diizinkannya pendakian pada tahapan pertama pembukaan, Kuswando menyatakan trekking hanya dapat dilakukan sampai batas tertentu.

Ia mengambil contoh jalur Palutungan, trekking di jalur tersebut hanya bisa sampai Cigowong. Kemudian untuk trekking di jalur pendakian Linggajati hanya dapat sampai di Pamerangan.

"Untuk jalur pendakian Linggasana, trekking-nya hanya sampai Ki Jamuju. Lalu untuk Majalengka, jalur pendakian Apuy, trekking-nya hanya sampai Tegal Masawa," terangnya.

Wajib bawa surat bebas Covid-19 bagi pengunjung luar Kuningan, Majalengka dan Cirebon

Ia juga mengatakan bahwa para calon pengunjung berasal dari luar Kuningan, Majalengka, dan Cirebon yang ingin melakukan trekking harus menyertakan surat bebas Covid-19.

Namun, ia belum dapat memastikan surat bebas Covid-19 jenis apa yang diwajibkan sebagai syarat pengunjung luar daerah untuk trekking maupun pendakian jika kelak dibuka nanti.

“Terkait ini, kami belum dapat memastikan apakah itu berdasarkan Rapid atau Swab, nanti masih akan kami diskusikan dan mendapat masukan dari dokter. Lalu kami koordinasikan detailnya dengan Gugus Tugas masing-masing daerah,” ujarnya.

Kendati pendakian masih tidak diizinkan, ia berharap pada tahapan kedua nantinya, pendakian di masa pandemi dapat kembali diaktifkan dengan tetap membatasi kapasitas yaitu 50 persen kunjungan.

Baca tentang


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X