Pendaki Disarankan Swab Test Sebelum Naik Gunung, Apa Alasannya?

Kompas.com - 26/06/2020, 13:00 WIB
Seorang pendaki Gunung Rinjani berjalan di samping awan di Plawangan Sembalun. KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYASeorang pendaki Gunung Rinjani berjalan di samping awan di Plawangan Sembalun.


JAKARTA, KOMPAS.com - Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dari Royal Sports Performance Centre, Sophia Hage, menganjurkan pendaki gunung untuk menyertakan surat bebas Covid-19 dalam bentuk swab metode PCR.

"Swab metode PCR dianjurkan karena kita tahu rapid itu tidak akurat apa lagi jika dilakukan hanya satu kali, karena rapid ini hanya menilai anti bodi," kata Sophia dalam webinar Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) bertajuk "Mendaki Gunung Aman dan Sehat di Masa Pandemi", Kamis (25/6/2020).

Baca juga: Pemerintah Umumkan Kawasan Pariwisata Alam Indonesia Dibuka Bertahap

Pendakian gunung, menurutnya, termasuk ke dalam kategori olahraga dengan intensitas infeksi virus sedang hingga tinggi.

Oleh karena itu, untuk mencegah penyebaran terjadi pada saat pendakian, ia sarankan para pendaki melakukan swab metode PCR.

Namun, ia menyadari, orang sangat sulit untuk memilih swab test karena harga yang harus dikeluarkan tidak sedikit untuk melakukan tes.

"Kondisi di lapangan, hampir tidak mungkin semua orang melakukan swab kalau berbayar," ujarnya.

Ia menerangkan, ada beberapa puskesmas di Jakarta yang menyediakan pelayanan swab test secara gratis. Namun, ia mengaku tak tahu seperti apa keadaan puskesmas terkait swab test di luar Jakarta.

"Kalau swab test di puskesmas luar Jakarta atau di sekitar tempat pendakian ini juga gratis, maka dengan mudah saya bilang anjurannya ya harus test PCR. Karena itu yang paling ideal," jelasnya.

 

Ilustrasi Pendaki Gunung.Shutterstock Ilustrasi Pendaki Gunung.

Sophia melihat, kegiatan pendakian gunung sama dengan olahraga lainnya. Ia pun menceritakan para atlet juga melakukan swab test PCR untuk cabang olahraga sepakbola Liga Indonesia yang rencana bakal digelar.

"Atlet kita juga wajib swab test meski nantinya kita rencanakan Liga tanpa penonton," terangnya.

Sementara itu, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Bandung, dokter Franky Moudy Rumondor, juga menyarankan untuk mendeteksi seseorang terkena Covid-19 atau tidak dengan cara swab test PCR.

Hal ini agar daerah pendakian yang saat ini masuk dalam zona hijau dan kuning, tidak meningkat kembali menjadi zona merah.

"Jangan sampai kita membuat tempat wisata yang berada di zona hijau dan kuning ini menjadi merah," kata Franky.

"Karena PCR itu menentukan orang terkena Covid apa tidak, sementara rapid itu tidak menentukan, bahkan dia tidak menentukan orang itu reaktif karena terinfeksi virus atau oleh bakteri," lanjutnya.

Kendati demikian, Sophia memberikan solusi jika situasi yang belum memungkinkan bagi semua orang melakukan swab test, yakni rapid test sebanyak dua kali.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X