5 Geopark Indonesia yang Masuk UNESCO Global Geopark

Kompas.com - 08/07/2020, 18:11 WIB
Pengunjung sedang menikmati pemandangan Danau Toba di Huta Ginjang di Kabupaten Tapanuli Utara Kompas.com / Gabriella WijayaPengunjung sedang menikmati pemandangan Danau Toba di Huta Ginjang di Kabupaten Tapanuli Utara

KOMPAS.com - Kaldera Toba ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGG) pada Sidang ke-209 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Perancis, Selasa (2/7/2020).

“Melalui penetapan ini, Indonesia dapat mengembangkan geopark Kaldera Toba melalui jaringan Global Geoparks Network dan Asia Pacific Geoparks Network khususnya dalam kaitan pemberdayaan masyarakat lokal,” tutur Duta Besar RI untuk UNESCO Arrmanatha Nasir melalui keterangan tertulisnya, Rabu (8/7/2020) seperti dikutip dari Antara.

Baca juga: Resmi, Kaldera Toba Ditetapkan Sebagi UNESCO Global Geopark

Kaldera Toba, Provinsi Sumatera Utara terbentuk dari ledakan super vulkanik 74.000 tahun lalu. Dasar kaldera tersebut dipenuhi dengan air dan menjadi danau terbesar di Indonesia.

Letusan Gunung Api Toba Purba tersebut menyisakan lekukan cukup dalam di dasar kaldera yang kemudian terisi air dengan kedalaman hingga mencapai sekitar 550 meter dan luas 1.130 kilometer persegi.

Baca juga: Perjalanan Geopark Kaldera Danau Toba Masuk Daftar UGG

Bentukan ini yang akhirnya dikenal sebagai Danau Toba. Pasca-pembentukan kaldera, rupanya peristiwa geologi itu juga menciptakan bentukan lain, yakni Pulau Samosir. Ini terjadi akibat pengangkatan sebagian besar danau ke permukaan.

Danau Toba dan Pulau Samosir kemudian dikenal dengan Kaldera Danau Tobo. Kawasan ini merupakan salah satu destinasi unggulan yang dimiliki Provinsi Sumatera Utara.

Selain Kaldera Toba, Indonesia telah memiliki empat situs UNESCO Global Geopark lainnya, yakni, Batur, Cileteuh, Gunung Sewu, dan Rinjani. Berikut empat situs lainnya:

Salah satu wisata air terjun di Geopark Ciletuh Kabupaten Sukabumi.DOK. Humas Pemerintah Provinsi Jawa Barat Salah satu wisata air terjun di Geopark Ciletuh Kabupaten Sukabumi.

Ciletuh

Geopark Ciletuh ditetapkan sebagai UGG pada tahun 2018. Sebuah kawasan terpadu untuk perlindungan dan penggunaan geologi berkelanjutan, sekaligus memajukan ekonomi masyarakat setempat.

Geopark Ciletuh dikelilingi hamparan alluvial dengan batuan unik dan pemandangan yang indah. Di sisi lain, bukan hanya perbukitan batuan yang dimilikinya, Ciletuh juga punya pantai yang dengan ombak yang disukai para peselancar dunia.

Baca juga: Geopark Ciletuh Dapat Pengakuan UNESCO Global Geopark

Ombak tersebut dapat dinikmati di Pantai Cimaja. Pantai itu sering terpilih sebagai lokasi lomba surfing berskala internasional.

Selain itu, di kawasan seluas 126.100 hektare tersebut budaya Sunda masih amat terasa. Geopark tersebut mencakup delapan kecamatan mulai dari Cisolok (Pantai Cimaja) sampai dengan Ujunggenteng (Ciemas), Sukabumi.

Tak hanya dapat mempelajari adat dan budayanya saja, di Geopark Ciletuh wisatawan juga bisa menikmati beragam objek wisata eksotis. Mulai dari keindahan air terjun Awang, Taman Purba, bukit Panenjioan, dan masih banyak lainnya.

Ada banyak vila, homestay, bahkan camping ground di Geopark Ciletuh. Juga banyak rumah makan di sekitar. Warga lokal yang sadar wisata juga menyambut wisatawan dengan ramah dan terpenting harganya masih masuk akal untuk wisata rombongan.

Baca juga: Wisata Komplet tapi Dekat Jakarta? Datanglah ke Geopark Ciletuh...

Geopark Ciletuh di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Bisa dibilang ini kawasan wisata yang paket lengkap. Ada wisata puncak bukit, air terjun yang banyak sekali, snorkeling di laut, dan bermain di pulau.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X