Pengaruh Pandemi Terhadap Museum di Dunia, Interaksi Beralih ke Digital

Kompas.com - 09/07/2020, 20:11 WIB
Petugas menyemprotkan cairan disinfektan disekitar patung-patung di halaman gedung A, Museum Nasional, Jakarta Pusat, Senin (16/3/2020). Kegiatan ini untuk meminimalisir penyebaran penyakit akibat virus Covid-19 di Museum Nasional dan menutup layanan kunjungan mulai dari tanggal 15-25 Maret 2020. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas menyemprotkan cairan disinfektan disekitar patung-patung di halaman gedung A, Museum Nasional, Jakarta Pusat, Senin (16/3/2020). Kegiatan ini untuk meminimalisir penyebaran penyakit akibat virus Covid-19 di Museum Nasional dan menutup layanan kunjungan mulai dari tanggal 15-25 Maret 2020.

JAKARTA, KOMPAS.com – Pandemi global virus corona (Covid-19) membuat sebagian besar tempat wisata ditutup berbulan-bulan lamanya, termasuk museum.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, menuturkan bahwa pandemi memberi dampak yang sangat serius bagi museum di dunia.

“Ada survei dari UNESCO, memang lebih dari 90.000 museum di dunia, 90 persen tutup karena pandemi. Sekitar 10 persen dari 90.000 sudah menyatakan tidak akan buka lagi,” kata Hilmar dalam webinar bertajuk “Prospect of Reopening of Museums in the New Normal”, Rabu (8/7/2020).

Baca juga: Cerita Kesulitan Museum Terapkan Protokol Kesehatan New Normal

Menurutnya, pandemi memberi dampak yang sangat signifikan terhadap museum-museum yang mengandalkan pendapatan publik.

Tidak adanya pemasukan membuat mereka terpaksa menutup operasional. Namun, Hilmar menuturkan, sebagian yang masih beroperasi sudah mengambil langkah antisipasi melalui teknologi digital.

Menurutnya, teknologi digital membantu museum melakukan inovasi dalam pelayananannya. Tidak hanya untuk mengelola data, juga menampilkan koleksi museum kepada masyarakat luas.

“Pameran daring sudah sering dilakukan. Sekarang tantangannya memikirkan bentuk-bentuk penyajian koleksi yang lebih interaktif,” ujar Hilmar.

Penampakan Le Louvre Museum pada siang hari, (9/2016).SHUTTERSTOCK/MANJIK Penampakan Le Louvre Museum pada siang hari, (9/2016).

Program digital yang menarik

Perwakilan dari Museum Nasional, Dyah Sulistiyani, menuturkan, selama pandemi pihaknya beralih ke digital untuk tetap menghibur masyarakat yang rindu dengan museum.

“Program bersifat online seperti tantangan untuk bikin pameran dari rumah. Tantangan membuat infografis koleksi museum,” kata Dyah dalam kesempatan yang sama.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X