3 Kunci agar Pariwisata Bali Bertahan dan Berkelanjutan

Kompas.com - 15/07/2020, 15:45 WIB
Wisatawan menikmati sore di Pantai Kuta, Bali, Sabtu (22/6/2013). Keindahan wisata pantai di sejumlah kawasan di Bali seperti Kuta, Seminyak, Jimbaran, Nusa Dua dan Tanjung Benoa masih menjadi daya tarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara. (KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES)Wisatawan menikmati sore di Pantai Kuta, Bali, Sabtu (22/6/2013). Keindahan wisata pantai di sejumlah kawasan di Bali seperti Kuta, Seminyak, Jimbaran, Nusa Dua dan Tanjung Benoa masih menjadi daya tarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

 

Selama ini, kata dia, pariwisata Bali belum menurunkan keindahan filosofi dari beragam acara berkaitan dengan upacara-upacara budaya yang dilaksanakan dan menjadi daya tarik wisata.

"Kita selalu melihat dari segi keindahan fungsi dan bentuknya saja, sedangkan keindahan filosofi jarang kita lihat," kata Cok Ace.

"Keindahan fungsi misalnya ada kawasan permukiman, pariwisata, hutan lindung. Lalu keindahan bentuk, misalnya sawah-sawah dengan terasering, laut dengan pantainya, gunung, dan lain sebagainya," terangnya.

Wisatawan menikmati senja di Pantai Seminyak, Badung, Bali, Senin (22/7/2019). Pantai Seminyak menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan untuk menyaksikan matahari terbenam.KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Wisatawan menikmati senja di Pantai Seminyak, Badung, Bali, Senin (22/7/2019). Pantai Seminyak menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan untuk menyaksikan matahari terbenam.

Cok Ace menjelaskan konsep dari keindahan filosofi pariwisata Bali. Menurut dia, keindahan filosofi Bali menekankan konsep Dewata Nawa Sanga yang berangkat dari ajaran agama Hindu.

Dewata Nawa Sanga, kata dia, adalah sembilan dewa yang berada pada sembilan mata angin yang memberikan kekuatan serta corak pada alam di sekitarnya.

Baca juga: Pariwisata Bali Akan Dibuka untuk Wisatawan Nusantara pada 31 Juli

"Sembilan dewa ini adalah Dewa Wisnu, Sambhu, Iswara, Mahesora, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sankara, dan Siwa," ujarnya.

Pembagian dewa-dewa ini, lanjutnya, juga ada dalam filosofi Rumah Bali yang mana memiliki fungsi berbeda di setiap bangunannya.

"Misalnya di utara, ada Dewa Wisnu itu ada Bale Daja atau Meten, artinya privat atau tempat barang berharga. Lalu di timur laut, ada Pemraja atau sembahyang dengan dewanya Sambhu, dan lainnya," pungkasnya.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X