Bandara Soetta Ramai Turis Asing karena Bali Masih Tutup

Kompas.com - 05/08/2020, 19:03 WIB
Calon penumpang pesawat duduk menanti jadwal pesawat di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (9/7/2020). Meski penerbangan telah kembali dibuka dengan persyaratan  seperti penumpang harus dengan memiliki hasil rapid atau PCR test negatif COVID-19, suasana di Bandara Soekarno Hatta masih terpantau sepi. ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRACalon penumpang pesawat duduk menanti jadwal pesawat di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (9/7/2020). Meski penerbangan telah kembali dibuka dengan persyaratan seperti penumpang harus dengan memiliki hasil rapid atau PCR test negatif COVID-19, suasana di Bandara Soekarno Hatta masih terpantau sepi.

JAKARTA, KOMPAS.com – Pada Juni 2020, Indonesia menerima sebanyak 160.300 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto dalam live streaming YouTube BPS Statistics, Senin (3/8/2020).

Namun, kunjungan wisman tersebut terlihat berbeda dari sebelum pandemi.

“Biasanya tahun-tahun lalu mayoritas wisman akan pergi ke Bali. Karena Bali masih ditutup (untuk wisman), sehingga pergerakan di sini paling besar terjadi di Bandara Soekarno-Hatta,” ungkap Suhariyanto.

Baca juga: Kunjungan Wisman Juni 2020 Hanya 160.000, Terbanyak dari Timor Leste

Kunjungan wisman yang memenuhi Bandara Soekarno-Hatta dinilai merupakan efek dari pariwisata Bali yang baru menerima masyarakat lokal pada 9 Juli, dan wisatawan nusantara (wisnus) pada 31 Juli.

Dari 160.300 kunjungan wisman, ujar Suhariyanto, sebanyak 9.100 kedatangan di Bandara Soekarno-Hatta mengalami peningkatan sebesar 130,13 persen dibandingkan pada Mei.

“Adanya relaksasi PSBB, jumlah wisman mulai berdatangan, tapi posisi masih jauh sekali dari posisi normal. Pada Juni 2019, jumlah wisman yang datang lewat Soetta adalah 190.000,” tutur Suhariyanto.

Sementara itu, sebelum pandemi Covid-19, menurut data BPS, Bandara I Gusti Ngurah Rai menerima sebanyak 2.839.196 wisman pada Januari – Juni 2019.

Jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman ke Bandara Soekarno-Hatta pada periode yang sama di tahun 2019, bandara tersebut memiliki jumlah kunjungan 1.128.969 jiwa.

 

Baca juga: Bali Buka Kembali, Kunjungan Turis Domestik Naik 15 Persen

Sementara pada periode yang sama di tahun 2020, Bandara I Gusti Ngurah Rai hanya menerima kedatangan wisman sebanyak 1.041.245 jiwa, dan Bandara Soekarno-Hatta menerima lebih banyak kunjungan yakni 1.128.969 jiwa.

Jumlahnya lebih banyak 87.724 dibandingkan kedatangan di bandara Bali selama pandemi Covid-19. Peningkatan kedatangan wisman di Bandara Soekarno-Hatta, sejak Januari 2020 – April 2020 terlihat mulai lebih banyak.

Pada April 2020, bandara tersebut menerima 417 wisman, sedangkan Bandara I Gusti Ngurah Rai hanya 273 jiwa.

Kendati demikian pada Mei, kedua bandara sama-sama mengalami penurunan jumlah kedatangan wisman. Bandara Soekarno-Hatta hanya menerima 395 jiwa, sementara Bandara I Gusti Ngurah Rai hanya menerima 34 jiwa.

ILUSTRASI - Turis asing di Nusa Penida, Bali.Dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf ILUSTRASI - Turis asing di Nusa Penida, Bali.

Kedatangan wisman di Indonesia masih belum normal

Pada Juni, sebanyak 160.300 wisman masuk ke Indonesia. Angka tersebut, Suhariyanto menuturkan, masih jauh sekali dari angka normal.

Kendati demikian, jumlah wisman pada Mei dan Juni mulai mengalami peningkatan. Pada Mei, misalnya, sebanyak 163.600 wisman berkunjung ke Indonesia.

Sementara April hanya 158.700, Februari adalah 864.000, dan Januari masih memiliki kunjungan wisman terbesar yaitu 1.272.100.

“Sesudah adanya relaksasi PSBB, mulai ada geliat wisman dan transportasi meski catatannya masih jauh dari normal,” kata Suhariyanto.

Baca juga: Kunjungan Wisman pada Januari-Juni 2020 Anjlok 59 Persen

Dari 160.300 wisman yang berkunjung ke Indonesia pada Juni, sebanyak 51,5 persen atau 82.500 berasal dari Timor Leste.

Sementara dari Malaysia sebanyak 39,2 persen atau 62.800, Tiongkok sebanyak 1,3 persen atau 2.100, dan negara lainnya 8,1 persen atau 13.000.

“Kalau dilihat perubahan kunjungan wisman year-on-year, semua masih negatif. Meski kalau dilihat bulanan, dibandingkan Mei 2020, ada kenaikan,” tutur Suhariyanto.

“Misal dari Perancis 155,56 persen. Dari Meksiko naik 66,67 persen. Demikian dari Selandia Baru 66,67 persen. Ada pergerakan tapi posisi masih jauh dari normal. Masih perlu upaya keras untuk tarik wisman ke Indonesia,” imbuhnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X