Napak Tilas Kemerdekaan Indonesia di Jakarta, Mulai dari Mana?

Kompas.com - 15/08/2020, 13:01 WIB
Pelajar mengamati diorama sejarah di Museum Kebangkitan Nasional (ex Gedung Stovia), Jakarta, Sabtu (19/5/2018). Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati pada tanggal 20 Mei merupakan refleksi mengenang masa dimana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan.  ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTAPelajar mengamati diorama sejarah di Museum Kebangkitan Nasional (ex Gedung Stovia), Jakarta, Sabtu (19/5/2018). Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati pada tanggal 20 Mei merupakan refleksi mengenang masa dimana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan.

KOMPAS.com – Indonesia sebentar lagi merayakan ulang tahunnya yang ke-75. Kamu bisa turut merayakannya dengan melakukan jelajah wisata sejarah keliling Jakarta.

Ada beberapa museum yang bisa dikunjungi untuk napak tilas proses perjuangan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan, hingga akhirnya Tanah Air terbebas dari penjajahan.

Baca juga: Sejarah Lomba Panjat Pinang, Dipelopori Penjajah Belanda?

Berikut daftar tempat yang bisa dikunjungi untuk merayakan HUT ke-75 RI yang telah Kompas.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (14/8/2020):

1. Museum Kebangkitan Nasional

Tempat pertama yang bisa dikunjungi adalah Museum Kebangkitan Nasional. Dahulu, gedung ini merupakan merupakan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau sekolah kedokteran.

Sejarawan sekaligus pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI) Asep Kambali mengatakan, orang-orang yang kuliah di sana dulu merupakan anak para petinggi, seperti camat, bupati, dan pejabat.

“Kita perang dulu tidak lawan orang Belanda saja, tapi juga bapak-bapak mereka. Karena mereka kuliah, mereka dapat ilmu dan baru sadar kalau bangsa sedang dijajah,” kata dia kepada Kompas.com, Jumat (14/8/2020).

Baca juga: Liburan ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Ada Mesin Tik Milik Perwira Nazi

Asep  melanjutkan, tentunya yang bisa bersekolah di sana adalah orang-orang kaya. Para pelajar akhirnya mengumpulkan uang untuk menyekolahkan mereka yang tidak mampu.

Pelajar mengamati diorama sejarah di Museum Kebangkitan Nasional (ex Gedung Stovia), Jakarta, Sabtu (19/5/2018). Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati pada tanggal 20 Mei merupakan refleksi mengenang masa dimana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan.  ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA Pelajar mengamati diorama sejarah di Museum Kebangkitan Nasional (ex Gedung Stovia), Jakarta, Sabtu (19/5/2018). Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati pada tanggal 20 Mei merupakan refleksi mengenang masa dimana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan.

“Kalau mau bangkit harus terdidik dulu. Anak-anak harus kuliah dulu baru bangkit,” ujar Asep.

Wisatawan bisa berkunjung ke enam ruangan yang memiliki tema masing-masing, yakni ruang pameran, asrama, ruang kedokteran Stovia, ruang perkenalan, ruang awal kesadaran, dan ruang pergerakan nasional.

Ada pula koleksi peralatan dokter zaman dulu, serta diorama yang menggambarkan kegiatan saat gedung masih merupakan sekolah kedokteran.

Baca juga: Pak Supadi, Saksi Hidup Perjuangan Jenderal Sudirman di Pacitan

Museum Kebangkitan Nasional ini berlokasi di Jalan Dr Abdul Rahman Saleh No 26, Senen, Jakarta Pusat.

2. Museum Sumpah Pemuda

Museum Sumpah Pemuda berlokasi di Jalan Kramat Raya No 106, Senen, Jakarta Pusat. Gedung ini awalnya adalah rumah milik Sie Kong Liang.

Biola WR Supratman yang menjadi ikon Museum Sumpah Pemuda terpajang rapi di dalam kaca.Intisari Biola WR Supratman yang menjadi ikon Museum Sumpah Pemuda terpajang rapi di dalam kaca.

“Anak-anak muda banyak yang ngekos. Rata-rata anak kosan belasan tahun, pelajar, nunggak bayar kosan. Mereka bentuk kongres. Gilanya, mereka deklarasi proklamasi,” kata Asep.

Kongres Pemuda Kedua itulah yang mencetuskan deklarasi Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Adapun, beberapa pelajar yang pernah tinggal di sana, antara lain Muhammad Yamin dan Amir Sjarifoedin.

Baca juga: Museum Sumpah Pemuda Sudah Buka, Ini Cara Berkunjung

Usai deklarasi itu, gedung kerap berubah fungsi, mulai dari kembali menjadi rumah tinggal, toko bunga, hotel, hingga akhirnya berubah menjadi museum sejak 1973.

Di sana, pengunjung bisa melihat beberapa koleksi seperti diorama panitia Kongres Pemuda Kedua, serta patung W.R. Soepratman dan biolanya yang menjadi ikon museum tersebut.

3. Gedung Joang 45

Gedung Joang 45 dulunya merupakan sebuah hotel yang dijadikan markas para anak muda untuk mempersiapkan proklamasi.

Salah satu ruang Pameran Museum Gedung Joang 45, Jalan Menteng Raya No. 31, Jakarta Pusat. KOMPAS.COM/FITRI PRAWITASARI Salah satu ruang Pameran Museum Gedung Joang 45, Jalan Menteng Raya No. 31, Jakarta Pusat.

Asep melanjutkan, beberapa pemuda yang pernah berdiskusi di sana, antara lain Sukarni, Achmad Soebardjo, Adam Malik, dan Sayuti Melik.

Gedung itu juga merupakan tempat lahirnya gagasan penculilan Bung Karno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok untuk mendesak mereka agar segera memproklamasikan kemerdekaan.

Di sana, ada sekitar 2.500 koleksi yang terdiri dari lukisan, dokumen, dan patung. Ada juga perpustakaan, ruang pameran, dan ruangan khusus untuk anak-anak.

Baca juga: Liburan ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Ada Mesin Tik Milik Perwira Nazi

Museum ini berlokasi di Jalan Menteng Raya No. 31, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat. Tepatnya dekat patung Tugu Tani.

4. Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Dahulu, museum ini merupakan rumah Laksamana Maeda yang dijadikan sebagai tempat merundingkan kemerdekaan Indonesia.

Para tokoh yang berunding pada 17 Agustus 1945 antara lain adalah Bung Karno, Moh. Hatta, Achmad Soebardjo, Sukarni, dan Burhanuddin Muhammad Diah.

Saat berkunjung ke sana, wisatawan bisa melihat beberapa koleksi unik seperti sebuah mesin tik milik perwira Nazi bernama Mayor Kandelar.

Tiga patung lilin tiruan sosok Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo tengah berembuk merumuskan naskah Proklamasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, Rabu (16/8/2017). Replika itu terletak di lantai pertama Museum Perumusan Naskah Proklamasi.KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Tiga patung lilin tiruan sosok Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo tengah berembuk merumuskan naskah Proklamasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, Rabu (16/8/2017). Replika itu terletak di lantai pertama Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Mesin tik itu dipinjam dari dia melalui pembantu Laksamana Maeda Satzuki Mishima, untuk digunakan Sayuti mengetik ulang naskah proklamasi.

Selain itu, ada juga bungker rahasia yang berada di halaman bagian belakang gedung utama. Dinding bagian dalamnya sudah dilapisi semen. Sebelumnya, dinding merupakan tanah biasa.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi berlokasi di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Menteng, Jakarta Pusat.

Satu hal yang penting adalah, pengunjung harus mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 saat berkunjung ke museum tersebut.

Baca juga: Monumen Jenderal Sudirman di Pacitan, Saksi Bisu Kemerdekaan Indonesia

Caranya adalah memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, jaga jarak, dan tidak bepergian jika demam atau suhu tubuh di atas 37,3 derajat Celsius.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X