Tradisi Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta Ditiadakan karena Pandemi

Kompas.com - 19/08/2020, 15:14 WIB
Warga berjalan kaki dalam keheningan mengelilingi kompleks Keraton Yogyakarta, Yogyakarta, saat mengikuti tradisi Tapa Bisu Lampah Mubeng Beteng, Selasa (4/11/2013) dini hari. Tradisi yang dilangsungkan setiap pergantian tahun baru hijriah ini dilakukan sebagai sarana perenungan dan instropeksi warga atas berbagai hal yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOWarga berjalan kaki dalam keheningan mengelilingi kompleks Keraton Yogyakarta, Yogyakarta, saat mengikuti tradisi Tapa Bisu Lampah Mubeng Beteng, Selasa (4/11/2013) dini hari. Tradisi yang dilangsungkan setiap pergantian tahun baru hijriah ini dilakukan sebagai sarana perenungan dan instropeksi warga atas berbagai hal yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.

KOMPAS.com - Menyambut Tahun Baru Islam 1442 Hijriah yang jatuh pada hari Kamis (20/8/2020), biasanya akan ada sejumlah tradisi yang digelar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Salah satu tradisi itu adalah Tapa Bisu Lampah Mubeng Beteng.

Namun, karena pandemi Covid-19 masih berlangsung, pihak Keraton Yogyakarta terpaksa meniadakan tradisi budaya tersebut pada tahun ini.

Baca juga: Cerita di Balik Peringatan Malam 1 Suro

Sekretaris Tepas Museum Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, RA. Siti Amieroel N mengkonfirmasi perihal peniadaan Lampah Budaya Mubeng Beteng pada malam Satu Suro tahun ini.

"Ini Hajad Kawula Dalem, jadi bukan kegiatan resmi dari Keraton. Kegiatan Mubeng Betengnya enggak ada mas untuk tahun ini, karena pandemi," kata Amieroel saat dihubungi Kompas.com, Rabu (19/8/2020).

Namun, kata dia, Keraton hanya akan mengadakan kegiatan syukuran kecil di Bangsal Ponconiti. Adapun kegiatan ini juga dilakukan oleh pihak internal Keraton Yogyakarta dan tertutup.

Lanjutnya, Keraton pada masa pandemi ini meniadakan kegiatan yang dapat menimbulkan kerumunan orang banyak.

Oleh karena itu, kegiatan seperti kirab budaya yang biasa diadakan untuk menyambut Tahun Baru Islam juga ditiadakan.

"Kita enggak ada Kirab budaya juga mas. Pokoknya untuk tahun ini yang seperti itu sampai akhir tahun ditiadakan semua. Acara yang berpotensi mengumpulkan masa kita tiadakan, Grebeg juga gak ada," jelasnya.

Peniadaan kegiatan-kegiatan budaya yang biasanya ramai dilihat wisatawan di Yogyakarta terpaksa ditiadakan karena pandemi Covid-19.

Baca juga: Sejarah, Peraturan Unik, dan Wisata Keraton Yogyakarta

 

Prosesi pergantian prajurit jaga di Pura PakualamanKOMPAS.COM/Rio Paulus Prosesi pergantian prajurit jaga di Pura Pakualaman

Pihak Keraton juga saat ini tengah berpikir untuk bagaimana rangkaian acara Sekaten nantinya yang biasa dilaksanakan akhir tahun.

"Nah sekarang kita lagi mikir soal Sekaten, tapi kita belum tahu mau bagaimana. Sekaten itu akhir Oktober tanggal 20-an. Jadinya kita masih mikir-mikir itu nanti," ujarnya.

Sementara itu, untuk pencucian barang-barang pusaka atau siraman pusaka Keraton Yogyakarta akan diadakan pada 1 dan 2 September 2020.

Namun, kegiatan ini juga dilakukan secara tertutup oleh pihak Keraton Yogyakarta yang artinya tidak bisa dilihat oleh wisatawan.

Peniadaan kegiatan Mubeng Beteng tahun ini juga sudah dikabarkan melalui akun media sosial Instagram Keraton Yogyakarta @Keratonjogja.

Baca juga: Paket Wisata 2 Hari 1 Malam di Yogyakarta Saat New Normal, ke Mana Saja?

Kirb Pusakadalem ditiadakan

Selain Keraton Yogyakarta, dari Pura Pakualaman juga tidak mengadakan kegiatan dalam rangka menyambut Hari Tahun Baru Islam atau Satu Suro.

Hal ini guna mendukung upaya pemerintah dalam menanggulangi Covid-19. Oleh karena itu, pihak Pura Pakualaman meniadakan kegiatan yang biasa dilakukan menyambut Satu Sura yaitu Lampah Ratri Mubeng Beteng.

Pengumuman peniadaan ini juga sudah disampaikan melalui akun media sosial Instagram @purapakualaman.

"Demi kemaslahatan bersama dalam suasana Pandemi Covid-19 serta mendukung upaya pemerintah untuk penanggulangannya, maka Lampah Ratri Mubeng Beteng Mahargya saha Mapag Warsa Anyar 1 Sura Taun Jimakir 1954 "DITIADAKAN"," tulis akun @purapakualaman.

Selain itu, kegiatan Wayangan di Pakualaman juga ditiadakan.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X