Kisah Traveler ke Bali, Tak Diminta Isi Aplikasi LOVEBALI dan Kaget Bali yang Sepi

Kompas.com - 29/08/2020, 19:17 WIB
Sawah dengan sistem terasering di Karangasem, Bali, Rabu (5/10/2011). KOMPAS.com/FIKRIA HIDAYATSawah dengan sistem terasering di Karangasem, Bali, Rabu (5/10/2011).

Ia pun menyarankan agar wisatawan lebih memilih daerah-daerah, seperti Seminyak, Nusa Dua, Uluwatu, atau Canggu.

Diakuinya saat di daerah Nusa Dua, meski banyak toko atau restoran yang masih tutup, wisatawan tetap bisa makan di hotel tempat tinggalnya.

Baca juga: Bukit Sanjaya Selo, Foto di Replika Gapura Lempuyang Bali

"Jadi di hotel sendiri aja untuk cari makannya. Semua sudah ada protokol kesehatannya, mulai dari tempat cuci tangan pas di pintu masuk. Mau ke restoran, hotel, tempat wisata sudah ada semua," sambung Yenni.

Shosy juga senada dengan Yenny dan Winy. Saat tiba di Bali hanya ada satu tempat wisata yang dibuka, yaitu pantai Melasti.

Ia pun mengatakan, kios pedagang di seputar pantai itu masih tutup karena sepinya wisatawan.

Wisatawan di kawasan wisata Kuta, Bali, Kamis (11/6). Pertumbuhan sektor pariwisata Bali masih menunjukkan tren baik di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang melambat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Bali, kedatangan wisatawan mancanegara ke Bali periode Januari-Maret 2015 sebanyak 946.011 orang, naik 13,75 persen dari periode sama tahun lalu.KOMPAS / AGUS SUSANTO Wisatawan di kawasan wisata Kuta, Bali, Kamis (11/6). Pertumbuhan sektor pariwisata Bali masih menunjukkan tren baik di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang melambat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Bali, kedatangan wisatawan mancanegara ke Bali periode Januari-Maret 2015 sebanyak 946.011 orang, naik 13,75 persen dari periode sama tahun lalu.

"Bedanya sebelum dan setelah pandemi ini, wisatawan ke Bali wajib memakai masker. Senang sih bisa ke Bali lagi, cuma ada sedikit perasaan was-was saat main ke tempat wisata," imbuh Shosy.

Tak bisa menikmati malam di Bali

Sementara itu, Bali yang biasanya dikenal tak pernah berhenti karena selalu ramai hampir 24 jam, kini tak bisa terlihat.

Winy menceritakan bagaimana Bali sangat sepi di malam hari. Menurut dia, bagi wisatawan yang ingin mencari hiburan malam di Bali, mereka tidak akan mendapatkannya di masa sekarang.

"Sebenarnya agak sedih karena Bali yang kita tahu sangat berbeda dengan keadaan sekarang," ujar dia.

Winy melanjutkan, ia bahkan tidak berani keluar hotel di atas jam 8 karena kondisi jalan benar-benar sepi.

Baca juga: Tanpa Wisman, Industri Hotel di Bali Tak Yakin Mampu Bertahan sampai Awal 2021

"Sedangkan Bali yang dulu selalu ramai di jam berapa pun. Untuk wisatawan yang ingin mencari hiburan night life seperti dulu, tidak akan mendapatkan pengalaman itu di kondisi Bali yang sekarang," ujar dia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X