Wisata Desa Langgason Nunukan, Rafting di Sungai Perbatasan RI-Malaysia

Kompas.com - 02/09/2020, 12:09 WIB
Sejumlah wisatawan menjajal adrenalin dengan mengarungi arus sungai Sedalit di perbatasan RI Malaysia (lumbis) Kompas.com/Ahmad DzulviqorSejumlah wisatawan menjajal adrenalin dengan mengarungi arus sungai Sedalit di perbatasan RI Malaysia (lumbis)

NUNUKAN, KOMPAS.comDesa Langgason di Lumbis Pensiangan, Nunukan, Kalimantan Utara tengah membenahi pariwisata.

Adapun pengembangan wisata mengandalkan derasnya aliran sungai Sedalit yang tidak jauh dari wilayah Malaysia.

Jernihnya air ditambah bebatuan besar di sungai yang berjarak hanya sekitar satu jam dari Malaysia ini mengundang adrenalin pecinta olahraga rafting.

"Sungai Sedalit memiliki potensi wisata dalam hal arung jeram, kita punya jeram ujud dan jeram buatan di tempat ini yang tentunya sangat berpotensi menarik wisatawan mancanegara," ujar Plt Camat Lumbis Pansiangan Lumbis, Rabu (26/8/2020).

Baca juga: Pantai Kayu Angin di Nunukan, Berpayung dan Berbangku Pelangi

Desa paling ujung di kecamatan Lumbis Pensiangan ini ditargetkan menjadi salah satu tempat wisata alam perbatasan

"Ada 13 desa di kecamatan Lumbis Pensiangan yang semuanya memiliki potensi wisata yang hampir sama, semua ada di garis perbatasan RI – Malaysia, baik pemerintah Kabupaten, pemerintah Provinsi dan Kementrian Pariwisata RI semua mendorong pengelolaan wisata di wilayah ini," kata Lumbis.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Bajik Misak, tokoh muda Dayak Agabag. Tradisi upacara bedolob merupakan pengadilan Tuhan yang diyakini Suku Dayak Agabak sebagai pengadilan yang paling adil. Karena selain disaksikan oleh leluhur mereka, pengadilan tersebut  juga merupakan pengadilan dari sang penguasa alam raya.KOMPAS.com/SUKOCO Bajik Misak, tokoh muda Dayak Agabag. Tradisi upacara bedolob merupakan pengadilan Tuhan yang diyakini Suku Dayak Agabak sebagai pengadilan yang paling adil. Karena selain disaksikan oleh leluhur mereka, pengadilan tersebut juga merupakan pengadilan dari sang penguasa alam raya.
Ada home stay warna-warni

Pengembangan desa wisata mendapat respon positif masyarakat sekitar yang merupakan suku Dayak Agabag.

Mereka menyediakan sejumlah homestay untuk tempat menginap para wisatawan. Homestay  dilengkapi dengan fasilitas toilet, ranjang di kamar tidur, penerangan dan tv.

Menariknya, masyarakat sekitar mengecat homestay dengan warna warni, sehingga terlihat mencolok dan indah. Apalagi letaknya ada di pinggiran sungai yang jernih dan berarus deras.

"Bulan Oktober 2020 nanti akan dibangun Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Desa Labang, artinya 2021 kita sudah bisa menjual wisata rafting untuk mancanegara, saya yakin ini akan menjadi pusat perputaran ekonomi masyarakat perbatasan yang selama ini tak pernah ada," lanjut Lumbis.

Baca juga: Berburu Sate Today di Pasar Perbatasan Ujung Pulau Nunukan...

Untuk mewujudkan potensi tersebut, Desa Langgason mengambil sekitar 18 sampai 20 persen dari anggaran Dana Desa (DD) secara berkala untuk penyediaan peralatan rafting, perahu karet, kayak juga jet sky yang menghabiskan anggaran sekitar Rp 170 juta dalam sekali belanja.

"Saya memprediksi perputaran ekonomi akan cepat, ketika ada wisatawan, masyarakat banyak berjualan, turis menginap dan tentunya desa desa lain akan hidup juga.

 



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.