Kompas.com - 06/09/2020, 11:10 WIB

KOMPAS.com - Muncul sebuah foto di Twitter yang menggambarkan tumpukan sampah botol air berisi urine yang entah siapa pemiliknya di Gunung Cikuray via Pemancar.

Foto itu diunggah pertama kali oleh akun Twitter @pendakilawas, Kamis (3/9/2020) dan diretweet lebih dari 2.000 warganet Twitter serta memperoleh like lebih dari 9.000 warganet.

Berdasarkan unggahan akun tersebut, tumpukan sampah botol ada di Pos 8 Gunung Cikuray via Pemancar, Garut, Jawa Barat.

Pada kolom komentar foto, banyak warganet yang menuangkan kekesalan dan keheranannya terhadap orang yang membuang sampah botol urine ini.

Baca juga: Video Viral Pedagang Tahu Bakso di Puncak Gunung Cikuray, Lihat Sunrise Bisa Sambil Nge-bakso

Salah satunya adalah akun bernama nemosade @uwaanero yang mengungkapkan kekesalannya. Menurut dia, para pendaki yang ingin buang air kecil di gunung bisa menggali tanah terlebih dahulu.

"Apa susahnya si bikin galian tanah dulu, terus pipis di galian tersebut lalu kubur kembali, ada yang simple kok malah buat yang susah ya, aneh aku sama orang yg suka pipis di botol:(," tulis akun @uwaanero.

Ada juga komentar warganet lainnya yang kemudian mengungkapkan alasan enggan naik gunung karena khawatir akan merusak alam gunung itu sendiri.

"Ini lah kenapa sy gak suka muncak2, naik2 gunung. Udah pasti bikin kerusakan dan habitat didalamnya gak nyaman. Muncak foto2 doang, nanem pohon juga enggak," tulis akun @gundulem.

Mount Cikuray from Cisurupan, Garut.DOK. Disparbud Kab. Garut/ Gunawan Kartapranata Mount Cikuray from Cisurupan, Garut.

Baca juga: Sampah di Gunung, Salah Siapa?

Sementara itu, akun lainnya yaitu @lmeyypris terheran-heran melihat foto tersebut. Ia heran karena masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan.

"Heraan sama yg buang sampah sembarangan beli carrier beratus2 bisa , kresek sampah serebuan gapunya !" tulisnya.

Tak hanya sampah botol berisi urine saja yang jadi sorotan negatif dari warganet. Namun ada juga sorotan hal positif yang ditunjukkan salah satu akun bernama @eritritol yang memposting foto kala dirinya menemukan banyak botol berserakan di gunung.

Melihat banyak botol air mineral tersebut berserakan, ia bersama dua temannya pun mengumpulkan tumpukan botol tersebut dan membawanya turun.

"Budayakan, Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak, Jangan ambil sesuatu kecuali foto, Jangan bunuh sesuatu kecuali waktu. Taati ,3 itu aja deh. *pict waktu lintas alam inisiatif sebagai sapu bersih, paling belakang sendiri setiap ada botol kita ambil," tulis akun @eritritol.

Adapun, foto tumpukan sampah botol berisi urine itu diambil saat kegiatan sapu bersih Gunung Cikuray beberapa waktu lalu.

Kurangi masalah sampah, coba bawa bekal makanan minuman tanpa bungkusnya

Masalah sampah terutama botol plastik memang masih menjadi masalah besar terhadap aktivitas wisata pendakian gunung.

Menurut pendaki senior sekaligus EIGER Adventure Service Team (EAST) Manager, Galih Donikara, masalah sampah ini bisa dikendalikan dengan cara tidak membawa barang yang berpotensi menimbulkan sampah di gunung.

"Mulailah membiasakan dengan tidak membawa perlengkapan atau perbekalan yang mengandung sampah. Ini penting," kata Galih dalam Live Instagram Kompas Travel bertema "Tips Aman Naik Gunung Era New Normal", Senin (10/8/2020).

Baca juga: Jaga Kebersihan Gunung, Bawa Bekal Makanan Tanpa Bungkusnya

Perbekalan yang mengandung sampah tersebut, contohnya seperti bungkus-bungkus makanan atau minuman yang dibawa orang ketika mendaki gunung.

Ia menyarankan agar para pendaki tidak membawa botol air mineral ketika naik gunung. Menurutnya, air mineral yang telah dibungkus botol plastik tersebut justru dapat menimbulkan sampah.

"Kalau mau bawa air mineral, kita sudah siapkan botolnya dari rumah. Jadi ada aturan yang jelas soal perbekalan yang wajib dibawa dan tidak boleh dibawa itu mana aja," ujar Galih.

Ia mencontohkan, perbekalan yang wajib dibawa adalah yang organik, jangan yang kaleng, botol plastik, dan bungkus plastik lainnya..

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.