Pemkab Bondowoso Siapkan Penetapan Wisata Pendakian Gunung Piramid

Kompas.com - 08/09/2020, 11:11 WIB
Pendakian ke Gunung PIramid di Bondowoso ditutup agar tidak ada korban lagi Kompas.com/facebook pariwisata bondowosoPendakian ke Gunung PIramid di Bondowoso ditutup agar tidak ada korban lagi

KOMPAS.com - Pendakian Gunung Piramid di Bondowoso, Jawa Timur hingga kini belum resmi menjadi daya tarik wisata. Namun, banyak orang bebas melakukan pendakian.

Bebasnya orang untuk mendaki gunung berketinggian 1.521 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu dikarenakan masih belum adanya pengelolaan wisata resmi, baik dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso maupun Perhutani.

Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Dinas Pariwisata dan Olahraga (Disparpora) Bondowoso Arif Setyo Raharjo pun mengatakan bahwa pihaknya sudah bergerak untuk menyiapkan penetapan wisata pendakian Gunung Piramid.

Pernyataan itu ia sampaikan untuk menanggapi suara dari para pegiat alam dan pemandu lokal Gunung Piramid yang menginginkan penetapan wisata pendakian secara resmi. 

Baca juga: Syarat Gunung Piramid Jadi Daya Tarik Wisata Minat Khusus

"Kami sudah bergerak. Sedang kami siapkan semuanya, mulai dari regulasi, standar operasional prosedurnya. Yang pasti, tata kelolanya kami perbaiki, kami atur terlebih dahulu," kata Arif saat dihubungi Kompas.com, Senin (7/9/2020).

Selain itu, ia menerangkan bahwa pihaknya sudah mengadakan pertemuan dengan para pemandu lokal, asosiasi pemanjat tebing, asosiasi pendaki gunung, dan komunitas sekitar dua minggu yang lalu.

Ada beberapa poin yang menjadi hasil keputusan rapat tersebut, di antaranya:

1. Gunung Piramid bagian dari kewenangan Perhutani

Menurut Airf, keputusan rapat menghasilkan bahwa Gunung Piramid merupakan bagian dari kewenangan Perhutani Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bondowoso.

Seorang pendaki di Gunung Piramid, Bondowoso, Jawa Timur membawa bendera merah putih.Dokumentasi Pakabon Seorang pendaki di Gunung Piramid, Bondowoso, Jawa Timur membawa bendera merah putih.

Melihat kejadian atau insiden pendaki meninggal awal Agustus lalu, ujar dia, merupakan keputusan Perhutani untuk menutup aktivitas pendakian.

Baca juga: Pendakian Gunung Piramid Tak Kunjung Legal, Ini Dampak bagi Pekerja Pariwisata

"Kenapa ditutup? Satu, kami menunggu langkah yang akan dilakukan segera ini. Kami tengah koordinasi titik-titik mana yang akan menjadi area kerja sama dengan Perhutani dan Pemkab sebagai destinasi wisata minat khusus, dalam hal ini pendakian gunung," kata Arif.

2. Tak hanya Gunung Piramid yang diproyeksikan sebagai wisata minat khusus

Gunung Piramid memang tengah diproyeksikan sebagai tempat wisata minat khusus. Namun, tidak hanya Gunung Piramid saja yang tengah difokuskan.

Keindahan alam di puncak Gunung Piramid, Bondowoso, Jawa Timur.Dokumentasi Pakabon Keindahan alam di puncak Gunung Piramid, Bondowoso, Jawa Timur.

Ada banyak gunung lain yang juga sama fokusnya untuk wisata minat khusus, kata dia.

"Contoh Gunung Raung dan juga beberapa area lain yang kami rencanakan kita proyeksikan sebagai wisata minat khusus," ujarnya.

3. Survei jalur yang aman

Poin berikutnya adalah melakukan survei jalur pendakian yang aman. Ia menjelaskan, pihaknya bekerja sama dengan teman-teman pendaki hingga Wanadri untuk membantu jalannya proses survei jalur.

Baca juga: Pegiat Alam Gunung Piramid Bondowoso Pertanyakan Kepastian Legalisasi Pendakian

Adapun, Pemkab Bondowoso juga telah mengalokasikan dana untuk membantu proses survei jalur pendakian ini.

"Pemkab juga mengalokasikan melalui Dispar juga untuk pembiayaan itu," terangnya.

4. Jika sudah dipastikan aman, akan dilakukan kerja sama

Setelah beragam tahap sudah dilalui dan dipastikan aman berdasarkan kesepakatan Perhutani selaku pemilik lahan, Pemkab Bondowoso, dan pihak terkait, maka akan dilakukan penetapan kerja sama.

Pemandangan Gunung Piramid di Bondowoso, Jawa Timur.Dokumentasi Pakabon Pemandangan Gunung Piramid di Bondowoso, Jawa Timur.

Apabila terkesan lama, pihaknya mengaku enggan gegabah dan terburu-buru untuk menetapkan Gunung Piramid sebagai wisata minat khusus pendakian.

"Kami gak mau gegabah. Artinya, cepat tapi malah tidak sesuai standar. Alat-alatnya nanti kan kami bantu juga untuk dipersiapkan. Yang pasti kan tata kelolanya diperbaiki," sambung Arif.

Pihaknya akan mengatur, mulai dari siapa melakukan apa, hingga siapa saja yang terlibat, misal diutamakan mereka dengan keahlian pemadu.

"Intinya apa yang kami harapkan di 2020 ini, apa yang kami persiapkan, baik dari regulasi, operator, pembiayaan atas survei dan alat, pelatihan itu juga kita siapkan. Barulah dibuka untuk pendakian bila memang memungkinkan," ujar Arif.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X