4 Kuil Terseram di Jepang, Berani Uji Nyali di Sana?

Kompas.com - 23/09/2020, 19:31 WIB
Halaman Kuil Genko-an di Kyoto, Jepang. SHUTTERSTOCK / CHEN MIN CHUNHalaman Kuil Genko-an di Kyoto, Jepang.

KOMPAS.com – Jepang memiliki sejumlah kuil indah yang bisa dikunjungi wisatawan. Beberapa kuil bahkan mengizinkan pengunjung untuk menginap di sana.

Namun, Jepang juga memiliki beberapa kuil yang digadang-gadang sebagai kuil terseram karena memiliki benda yang tidak biasa. Salah satunya adalah boneka Okiku.

YouTuber Billy Christian mengatakan, dahulu hiduplah seorang gadis berusia dua tahun bernama Okiku yang diberi hadiah boneka oleh kakaknya pada 1918.

“Boneka itu tingginya 40 cm, rambutnya pendek berwarna hitam. Adiknya senang sama bonekanya, dibawa kemana aja dia pergi,” kata Billy dalam Mystical Mystery virtual tour bertajuk Haunted Dolls, Minggu (20/9/2020).

Baca juga: Unik, di Jepang Bisa Sewa Gunung untuk Berwisata

Setahun kemudian, Okiku diceritakan meninggalkan karena sakit panas. Seluruh barang-barang kesayangannya dibakar.

Meski demikian, satu barang yang selalu dibawa Okiku tertinggal. Boneka berambut pendek tersebut pun akhirnya disimpan di altar.

“Lama kelamaan ada yang aneh. Rambutnya jadi panjang. Keluarganya melihat bahwa ekspresinya berubah-rubah. Keluarga memutuskan untuk pindahkan boneka ke kuil di Hokkaido tahun 1938,” ujar Billy.

Jika ingin melihat boneka Okiku dan beberapa benda aneh lainnya yang mungkin menyeramkan, berikut empat kuil terseram di Jepang yang telah Kompas.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (21/9/2020):

1. Kuil Dainichibo, Prefektur Yamagata

Kuil Dainichibo terletak di kaki Gunung Yudono. Di sana, kamu bisa lihat salah satu dari 16 biksu yang dimumifikasi, yakni biksu Daijuku Bosatsu Shinnyokai Shonin (1687-1783).

Baca juga: Sejarah Kastil Shuri Jepang Berusia 5 Abad, Hancur Berkali-kali Saat Masa Perang

Pada abad ke-11 dan ke-19, praktik Sokushinbutsu tersebar di beberapa sekolah biksu Buddha Jepang, terutama di sekitar tiga gunung suci Prefektur Dewa, yakni Gunung Haguro, Gunung Gas, dan Gunung Yudono.

Mumi biksu Buddha di Kuil Dainichibo, Prefektur Yamagata, Jepang.http://dainichibou.or.jp/ Mumi biksu Buddha di Kuil Dainichibo, Prefektur Yamagata, Jepang.

Prefektur Dewa merupakan prefektur Jepang kuno yang kini merupakan bagian dari Prefektur Yamagata.

Dalam praktik Sokushinbutsu, para biksu melakukan tiga regimen 1.000 hari yang mencakup kelaparan, meditasi, dan akhirnya dikubur hidup-hidup yang berujung kematian.

Jika dilakukan dengan benar, praktik juga mencakup mumifikasi. Pada saat itu, praktik tersebut dilihat sebagai langkah menuju pencerahan.

2. Prefektur Kyoto

Tiga kuil di Prefektur Kyoto yakni Kuil Yogenin, Kuil Genkoan, dan Kuil Hosen-in memiliki jejak tangan dan kaki berdarah di dinding dan langit-langitnya.

Kuil Yogenin terletak dekat dengan Sanjusangendo, Kuil Genkoan terletak di utara Universitas Bukkyo, dan Kuil Hosen-in terletak di desa Ohara.

Baca juga: Tur Wisata Misteri di Kyoto, Mulai dari Terowongan sampai Kolam Darah

Selain memiliki jejak tangan dan kaki berdarah, ketiga kuil itu memiliki kesamaan lain, yaitu menggunakan kayu dari Kastel Fushimi untuk pembangunannya.

Pada zaman sengoku, kastel yang tadinya dibangun Toyotomi Hideyoshi hancur karena gempa dan dibangun kembali sebelum dikontrol seorang samurai bernama Torii Mototada.

Jejak kaki berdarah di langit-langit Kuil Genko-an, Kyoto, Jepang.https://www.discoverkyoto.com/ Jejak kaki berdarah di langit-langit Kuil Genko-an, Kyoto, Jepang.

Mototada merupakan pasukan dari Tokugawa Leyasu, daimyou yang terlibat dalam Pertempuran Sekigahara pada 1600.

Pada tahun tersebut, terjadi peperangan selama 11 hari di Kastel Fushimi antara pasukan Mototada dan pasukan samurai lain bernama Ishida Mitsunari.

Mototada beserta pasukannya kalah jumlah, sehingga mereka melakukan seppuku atau ritual bunuh diri yang menyebabkan lantai kastil dilumuri darah.

Beberapa tahun kemudian, kastel dibongkar dan kayu-kayunya digunakan untuk bangunan lain, termasuk pembangunan tiga kuil di Prefektur Kyoto.

3. Kuil Mannenji, Prefektur Hokkaido

Kuil Mannenji merupakan kuil yang dijadikan sebagai tempat menyimpan boneka Okiku oleh keluarga gadis kecil pemiliknya dahulu.

Saat berkunjung ke sana, wisatawan bisa melihat boneka tersebut berdiri tegak sambil mengenakan sebuah kimono.

Baca juga: Mengenal Jigokudani, “Lembah Neraka” di Hokkaido

“Ini kuil biasa, bukan tempat wisata sebenarnya. Saat di sana, orang tidak boleh mengambil foto,” kata Billy.

Saat pertama kali dibawa ke kuil, rambut boneka tersebut tidak terlalu panjang. Namun seiring berjalannya waktu, boneka Okiku kini memiliki rambut sepanjang 25 cm.

4. Kuil Oiwa-Inari Tamiya, Tokyo

Berbeda dengan tiga kuil sebelumnya, Kuil Oiwa-Inari Tamiya di perumahan Yotsuya, Shinjuku tidak memiliki benda atau sejarah yang menyeramkan.

Namun, perumahan tempat kuil ini berada merupakan bagian dari sebuah karya fiksi menyeramkan paling populer di Jepang berjudul Yotsuya Kaidan.

Baca juga: Liburan ke Tokyo, Coba Menginap di Ryokan Modern Ini

Karya tersebut diciptakan Tsuruya Nanboku IV pada 1825 untuk pertunjukan teater tradisional Jepang atau kabuki. Yotsuya Kaidan bercerita tentang seorang wanita bernama Yotsuya Oiwa.

Alkisah, Oiwa menikahi seorang ronin bernama Tamiya Iemon. Namun pada suatu hari, Iemon jatuh cinta pada wanita lain bernama Oume.

Kuil Oiwa-Inari Tamiya, Tokyo, Jepang.https://en.japantravel.com/ Jose Manuel Zardain Kuil Oiwa-Inari Tamiya, Tokyo, Jepang.

Iemon yang ingin menikahi Oume berencana membunuh Oiwa dengan cara meracuninya namun gagal. Alhasil, dia mendorong Oiwa dengan mendorongnya ke jurang.

Setelah berhasil membunuh Oiwa dan menikahi Oume, Iemon mulai berhalusinasi sampai pada akhirnya dia membunuh Oume dan jatuh dari jurang karena didorong oleh Oiwa yang menghantuinya.

Melihat hal tersebut, keluarga Iemon percaya bahwa mereka dihantui kutukan Oiwa dan memutuskan untuk membangun sebuah kuil.

Baca juga: Ada Kuil untuk Boneka yang Terlupakan di Jepang, Berani Masuk?

Namun, Kuil Oiwa-Inari Tamiya bukanlah kuil yang dimaksud dalam cerita tersebut. Hal ini karena kuil tersebut diberi nama dari seorang wanita bernama Oiwa yang hidup di sana 200 tahun sebelum cerita dibuat.

Oiwa yang hidup 200 tahun lebih awal menikah dan hidup bahagia dengan Iemon. Kuil dinamakan Tamiya karena dibangun di atas tanah milik keluarga Iemon.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X