Ade Irma Suryani dan Kecintaannya pada Sang Ayah, Jenderal AH Nasution

Kompas.com - 30/09/2020, 11:49 WIB
Foto Ade Irma Suryani Nasution bersama Lettu Pierre Tendean di Museum DR. A.H Nasution, Jakarta, Selasa (26/9/2017) KOMPAS.COM/Wienda Putri NoviantyFoto Ade Irma Suryani Nasution bersama Lettu Pierre Tendean di Museum DR. A.H Nasution, Jakarta, Selasa (26/9/2017)

KOMPAS.com - Satu-satunya pahlawan berpangkat jenderal yang selamat dalam G 30 S PKI, adalah Abdul Haris Nasution, atau dikenal dengan Jenderal Nasution.

Nasution berhasil melarikan diri saat pasukan Tjakrabirawa mengendap ke dalam rumahnya yang terletak di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.

Kini, rumah yang merupakan saksi bisu peristiwa tersebut menjadi Museum Sasmitaloka Jenderal Besar Dr. A. H. Nasution.

Baca juga: Museum AH Nasution, Saksi Bisu Kisah Tragis G30S/PKI

Pengunjung bebas memasuki museum tanpa dipungut biaya, dan bisa melihat diorama dan melihat barang-barang peninggalan Jenderal Nasution dan keluarga.

Kompas.com berkesempatan ikut virtual tour ke museum tersebut bersama Wisata Kreatif Jakarta, Selasa (29/9/2020).

Dalam virtual tour tersebut, ada kisah menarik tentang Jenderal Nasution yang disampaikan Ira Lathief, pemandu wisata sekaligus pendiri Wisata Kreatif Jakarta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Salah satu kisah yang menarik dari Jenderal Nasution adalah kedekatannya mendiang sang putri--Ade Irma Nasution.

Baca juga: Mengenang Kisah Tragis G-30S/PKI di Museum AH Nasution

Berikut kisah kedekatan Jenderal Nasution dengan Ade Irma, seperti yang diceritakan Ira:

Kedekatan Jenderal Nasution, dapat dilihat ketika pasukan Tjakrabirawa menyerbu rumahnya pada 30 September 1965.

Saat itu, Ade Irma yang belum genap berusia lima tahun tengah tidur bersama Nasution dan istri, Johana Soenarti, di kamarnya.

Sebenarnya, cerita Ira, Ade Irma memiliki kamar sendiri, terpisah dari Jenderal Nasution dan Johana--tetapi malam itu mereka tidur bersama.

Johana dan Jenderal Nasution tiba-tiba mendengar ada pergerakan dalam rumahnya.

Johana segera bangun dan membuka pintu kamar secara perlahan, lalu meminta Pak Nas, panggilan Jenderal Nasution, untuk kabur lewat dinding belakang.

Baca juga: Museum Ahmad Yani, Saksi Bisu Perjalanan Sang Jenderal Korban G30S/PKI

 

Adegan Istri AH Nasution menggendong Ade Irma, putri mereka yang tewas tertembak di rumahnya.Youtube/Pesantren Al Kautsar Cipaku Cianjur Adegan Istri AH Nasution menggendong Ade Irma, putri mereka yang tewas tertembak di rumahnya.

Ade Irma terbangun dan langsung memeluk kaki Johana. Adik Jenderal Nasution, Mardiah, bergegas menggendong Ade Irma dan menyelamatkannya ke kamar lain.

Sayangnya, Mardiah salah membuka pintu, dan Ade Irma terkena tembakan.

Ketegangan ini tergambar dalam museum dengan diorama pasukan Tjakrabhirawa yang sedang dalam posisi mengendap ke depan kamar Jenderal Nasution.

Dalam pelukan Johana, Ade Irma berlumuran darah, tetapi tidak menangis.

 

Baca juga: Hari Kesaktian Pancasila, Ini 3 Tempat Mengenang Kejadian G30S/PKI

Ade Irma juga sempat bertatap mata dengan sang Ayah sesaat sebelum Jenderal Nasution melarikan diri melewati dinding pembatas rumahnya.

Dengan tegar, cerita Ira, Ade Irma tidak menangis.

Setelah itu, dalam keadaan tegang, Johana mengatakan kepada Tjakrabirawa, Jenderal Nasution tidak berada di rumah, dan kedatangan mereka hanya untuk melukai Ade Irma.

Pengunjung museum masih bisa merasakan haru dan ketegangan momen tersebut dalam museum yang menampilkan diorama Johana menggendong Ade Irma dengan kondisi Ade Irma berlumuran darah.

Foto Ade Irma Suryani Nasution di Museum DR A.H. Nasution, Jakarta, Selasa (26/9/2017)KOMPAS.COM/Wienda Putri Novianty Foto Ade Irma Suryani Nasution di Museum DR A.H. Nasution, Jakarta, Selasa (26/9/2017)

Jenderal Nasution yang diidolakan

Ade Irma sangat mengidolakan ayahnya. Salah satu buktinya, ia pernah memakai baju dan topi seperti jenderal, meniru gaya Nasution.

Ade Irma juga menyukai lagu Gugur Bunga yang dijadikan soundtrack dari film G 30 S PKI.

Sempat menjalani perawatan setelah tertembak, Ade Irma tidak pernah menangis atau pun mengeluh. Sebaliknya, kata Ira, Ade Irma sempat bertanya kenapa ayahnya ingin dibunuh.

Ketegaran Ade Irma dan kecintaannya terhadap sang ayah itu lah yang menjadikan namanya harum dan dikenang banyak pihak.

Hingga kini, kamar Ade Irma juga masih tertata beserta boneka terakhir yang dipeluknya saat tidur bersama Nasution dan Johana.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.