Sekjen PHRI: Tiga Daerah Sangat Butuh Wisman untuk Bangkitkan Industri Perhotelan

Kompas.com - 03/10/2020, 08:08 WIB
Ilustrasi protokol kesehatan sektor pariwisata Indonesia Dok. PUSKOMPUBLIK KEMENPAREKRAFIlustrasi protokol kesehatan sektor pariwisata Indonesia

KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI) Maulana Yusran mengatakan, ada tiga daerah di Indonesia yang membutuhkan wisatawan mancanegara (wisman) untuk bantu industri perhotelan.

"Ada tiga destinasi yang sangat-sangat membutuhkan wisman, yaitu Bali, Bintan, dan Manado, kalau kita bicara hotel ya," kata dia dalam Webinar Bincang Santai: Amankah Untuk Berlibur Sekarang? Kamis (1/10/2020).

Baca juga: Bali, Destinasi Paling Siap Kembangkan Desa Wisata

Namun, lanjut Maulana, adanya peraturan larangan sementara Warga Negara Asing (WNA) masuk ke Indonesia yang masih berlaku, sehingga sangat menghambat sektor perhotelan di tiga daerah tersebut.

Adapun, Indonesia masih memberlakukan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Nomor 11 Tahun 2020 mengenai Larangan Sementara Orang Asing Masuk Wilayah Negara RI.

Bali paling terdampak

Berdasarkan data PHRI, Bali memang sudah membuka pariwisata untuk wisatawan nusantara. Namun, industri hotelnya masih terguncang dan okupansi masih rendah.

"Kalau kami perhatikan data itu ya. Bali itu kalau kita bicara domestik saja, okupansi tidak akan lebih dari 25 persen. Karena okupansi wisman itu kontribusinya bisa lebih dari 30 bahkan sampai 40 persen. Itu data sampai 2018," kata Maulana.

Oleh karena itu, sambung dia, Juni dan Juli saat Bali mulai membuka pariwisatanya, okupansi tetap berada di angka 25,7 persen.

Baca juga: Bali Tunda Pembukaan Pariwisata untuk Turis Asing

Dampak okupansi ini bisa berlangsung lebih lama dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid dua di Jakarta.

Menurut Maulana, beragam aturan yang ada di Jakarta selaku Ibu Kota akan berpengaruh terhadap sektor perhotelan se-Indonesia.

"Dalam situasi pandemi ini, mungkin memang wisman itu menjadi hal terakhir yang akan dibicarakan pemerintah menyangkut dari kesehatan," ujar dia.

Sementara itu, Ketua Bali Tourism Board (BTB) IB Agung Partha Adnyana atau biasa disapa Gus Agung mengatakan, saat ini sudah ada 425 hotel di Bali yang memiliki sertifikat protokol kesehatan.

"Kita ada 425 hotel yang sudah tersertifikasi. Nanti akan kita share hotel-hotelnya. Karena memang juga fokus dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu kan salah satunya Bali ya. Jadi sangat hati-hati betul," kata dia dalam webinar yang sama.

Menurut Gus Agung, adanya sertifikasi hotel yang menerapkan protokol kesehatan mampu menjamin keberadaan wisatawan selama berada dan menginap di hotel di Bali.

Baca juga: Bali Tunda Terima Wisman, Seperti Apa Strategi Menolong Industri Pariwisatanya?

Sebelumnya, Bali dikabarkan menunda pembukaan pariwisata untuk wisatawan mancanegara (wisman) yang sedianya dijadwalkan dibuka tanggal 11 September 2020.

Itu merupakan keputusan Gubernur Bali, Wayan Koster. Diberitakan Kompas.com, Senin (24/8/2020), Koster mengaku telah berupaya keras, tetapi rencana ini tidak bisa dilaksanakan sesuai keinginan awal, yakni pembukaan bagi wisman pada 11 September 2020.

“Setelah dipertimbangkan dengan segala aspek yang ada, unsur-unsur yang harus menjadi perhatian serius itu belum bisa dilakukan,” kata dia di Uluwatu, Badung, Sabtu (22/8/2020).



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X