Kompas.com - 06/10/2020, 11:31 WIB

KOMPAS.comBatik tiga negeri merupakan batik yang memiliki tiga warna yakni warna merah, biru, dan sogan (cokelat kekuningan).

Di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, batik tiga negeri sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

“Pada kala itu, batik tiga negeri menggunakan akar mengkudu untuk warna merah, daun indigofera untuk warna biru, dan kayu tegeran untuk warna coklat,” kata Ketua Yayasan Kesengsem Lasem Gilang Surya.

Baca juga: 3 Rumah Batik Lasem Lestarikan Batik Tiga Negeri, Siapa Saja?

Pernyataan itu ia sampaikan dalam tur virtual Kisah Batik Tiga Negeri Lasem: Merayakan Hari Batik Nasional dengan Menjelajah Lasem secara Virtual, Jumat (2/10/2020).

Penjabaran warna menggunakan bahan alami dikutip Gilang dari laporan Overzicht van den Economischen toestand der Inlandsche Bevolking Java en Madoera (1904) milik C. T. H. Van Deventer.

Kegiatan membatik Nusantara semakin menggeliat

Meski sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, kegiatan membatik di Nusantara baru berkembang pesat pada abad ke-18.

“Pesat-pesatnya sejak abad ke-18 atau tahun 1700-an bersamaan dengan impor kain katun dari India dan Inggris ke Hindia Belanda untuk memenuhi kebutuhan kain sekitar 1705,” ujar Gilang.

Saat itu, batik motif Chintz asal India masuk ke Nusantara dan menjadi konsumsi kalangan atas Hindia Belanda.

Baca juga: Lasem, Tiongkok Kecil Penghasil Batik Tiga Negeri

Kain bermotif warna merah dan biru tersebut dibuat menggunakan teknik kalamkari atau menorehkan warna dengan pena kaligrafi pada kain yang telah dimordan.

Adapun, teknik mordan atau mordanting merupakan proses pencampuran air dengan beberapa zat untuk mencerahkan kain dan memudahkan warna terikat pada kain.

Ada paduan budaya dalam warna batik tiga negeri

Gilang melanjutkan, batik tiga negeri di Lasem memiliki kaitan yang erat dengan legenda Bi Nang Un dan Na Lini yang menetap di Lasem.

Mereka adalah sepasang suami istri anggota ekspedisi Laksamana Cheng Ho pada 1405–1433 yang menetap di Lasem.

Melansir situs resmi Kesengsem Lasem, pasangan suami istri itulah yang memperkenalkan teknik membatik pada abad ke-15 di Lasem.

Pada saat yang bersamaan dengan menggeliatnya teknik membatik di Nusantara, sejumlah warga Lasem pun makin giat membatik.

“Pada abad ke-19 dan ke-20, Lasem disebut sebagai Kota Batik yang futuristik. Batik tiga negeri dibuat secara komunal oleh orang Tionghoa. Motifnya campuran Tionghora, Jawa, Eropa, India, dan Persia,” ujar Gilang.

Makna dibalik warna dan motif batik tiga negeri

Wakil Ketua Yayasan Lasem Heritage Yulia Ayu dalam kesempatan yang sama mengatakan, warna merah dalam batik tiga negeri memiliki makna tersendiri.

“Warna merah yang disebut darah ayam dalam masyarakat Tionghoa bermakna kebahagiaan. Merah adalah warna dasar penggunan batik tiga negeri,” ungkap Yulia.

Ilustrasi batik - Seorang pembuat batik di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.SHUTTERSTOCK / Toto Santiko Budi Ilustrasi batik - Seorang pembuat batik di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Sementara itu, pemilik Rumah Batik Kidang Mas yang sudah ada sejak enam generasi lalu mengatakan, warna sogan merupakan warna tanah yang bermakna kehidupan dan selalu mengingat Tuhan.

Pemilik Rumah Batik Maranatha Ong’s Art Renny Priscilla mengatakan, batik tiga negeri memiliki varian motif cukup banyak yang dihasilkan oleh sejumlah rumah batik di Lasem.

Baca juga: Mengenal Batik Tiga Negeri, Benarkah Diwarnai di Tiga Kota?

Salah satunya adalah motif gunung ringgit yang memiliki filosofi terkait keuangan seseorang.

“Motif ini punya filosofi kalau yang memakai kain itu, uangnya akan setinggi gunung,” kata Renny dalam kesempatan yang sama.

Ia melanjutkan, ada pula kain pasiran dengan makna orang yang memakainya akan memiliki rezeki seperti pasir pantai atau tidak pernah habis. Ada juga motif bunga karang, lambang dari kekuatan.

Motif sehari-hari

Selain motif yang memiliki makna tersendiri, pemilik Rumah Batik Kidang Mas Rudi Siswanto mengatakan bahwa di Lasem terdapat motif batik sehari-hari.

“Motif batik di Lasem identik dengan budaya lokal yang ada di sini. Ada kawung bunderan, kawung suketan, dan sebagainya,” kata Rudi dalam kesempatan yang sama.

Kawung merupakan motif batik memiliki bentuk seperti buah kawung, sejenis kelapa atau kolang-kaling.

Baca juga: Alasan Batik Indonesia Diakui UNESCO Sebagai Warisan Budaya Dunia

Selain motif kawung, pemilik Rumah Batik Lumintu Ekawatiningsih mengatakan ada juga motif daun asem dari pohon asem, dulu merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit, yang dapat dilihat hingga kini di sana.

“Ada lagi motif latohan. Latoh itu rumput laut yang sekarang terkenal dengan kulinernya urap latoh. Saya berusaha memasukkannya di setiap batik, terutama batik premium motif-motif Laseman,” kata Ekawatiningsih.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kenang 16 Tahun Gempa Yogya, Bisa Kunjungi Monumen Gempa di Bantul

Kenang 16 Tahun Gempa Yogya, Bisa Kunjungi Monumen Gempa di Bantul

Jalan Jalan
5 Cara Menolong Orang yang Terseret Arus Sungai

5 Cara Menolong Orang yang Terseret Arus Sungai

Travel Update
5 Persiapan Sebelum Berenang di Sungai, Sedia Perlengkapan

5 Persiapan Sebelum Berenang di Sungai, Sedia Perlengkapan

Travel Tips
Pantai Sukamade Banyuwangi, Bisa Lihat Penyu Bertelur pada Malam HariĀ 

Pantai Sukamade Banyuwangi, Bisa Lihat Penyu Bertelur pada Malam HariĀ 

Jalan Jalan
Liburan Dekat dan Mudah, Ini 6 Negara di Asia Tenggara yang Bebas PCR

Liburan Dekat dan Mudah, Ini 6 Negara di Asia Tenggara yang Bebas PCR

Travel Update
Patung Yesus Tertinggi Ketiga di Dunia Ada di Brasil, Buka Tahun 2023

Patung Yesus Tertinggi Ketiga di Dunia Ada di Brasil, Buka Tahun 2023

Travel Update
Jepang Buka Pintu Masuk untuk Grup Turis, Mulai 10 Juni

Jepang Buka Pintu Masuk untuk Grup Turis, Mulai 10 Juni

Travel Update
Daya Tarik Baru Air Terjun Cunca Wulang Labuan Bajo, Ada Sungai Bawah Tanah

Daya Tarik Baru Air Terjun Cunca Wulang Labuan Bajo, Ada Sungai Bawah Tanah

Jalan Jalan
Mengenal Sungai Aare, Sungai Terpanjang di Swiss dari Pegunungan Alpen

Mengenal Sungai Aare, Sungai Terpanjang di Swiss dari Pegunungan Alpen

Travel Update
Camping di Bukit Golo Nawang, Manggarai NTT, Lihat Indahnya Sunrise

Camping di Bukit Golo Nawang, Manggarai NTT, Lihat Indahnya Sunrise

Jalan Jalan
Cara Selamatkan Diri Saat Hanyut di Sungai, Jangan Lawan Arus

Cara Selamatkan Diri Saat Hanyut di Sungai, Jangan Lawan Arus

Travel Tips
7 Kafe di Trawas Mojokerto yang Buka Malam Hari, Bisa buat Nongkrong dan Ngopi

7 Kafe di Trawas Mojokerto yang Buka Malam Hari, Bisa buat Nongkrong dan Ngopi

Travel Promo
Yogyakarta Maksimalkan Wisata Kotabaru, Jalur Skuter Listrik hingga Perawatan Wajah

Yogyakarta Maksimalkan Wisata Kotabaru, Jalur Skuter Listrik hingga Perawatan Wajah

Travel Update
Jalan Raya di Jepang Ini Tak Bisa Dilewati Kendaraan, Ini Sebabnya

Jalan Raya di Jepang Ini Tak Bisa Dilewati Kendaraan, Ini Sebabnya

Travel Update
5 Jembatan Gantung Unik di Pulau Jawa, Suguhkan Pemandangan Indah

5 Jembatan Gantung Unik di Pulau Jawa, Suguhkan Pemandangan Indah

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.