3 Warisan Budaya Tak Benda Indonesia di Denpasar, Apa Saja?

Kompas.com - 14/10/2020, 14:50 WIB
Sekehe Genggong Qakdanjur ditunjuk oleh Dinas Kebudayaan Denpasar menjadi Duta Seni Kota Denpasar dalam Pesta Kesenian Bali 2019.  MADE AGUS WARDANASekehe Genggong Qakdanjur ditunjuk oleh Dinas Kebudayaan Denpasar menjadi Duta Seni Kota Denpasar dalam Pesta Kesenian Bali 2019.

 

"Nanti Indonesia mungkin saja mengusulkan menjadi warisan dunia UNESCO," harap dia.

Dilansir Antara, pada 2019 ada empat karya budaya Kota Denpasar yang telah ditetapkan sebagai WBTB Indonesia.

Baca juga: Sudah 3 Bulan Buka Kembali, Apakah Bali Masih Ramai Wisatawan?

Empat karya itu di antaranya Tradisi Ngaro Banjar Medura Intaran Sanur (adat istiadat dan ritus), Sate Renteng (kemahiran, adat istiadat dan ritus), Legong Binoh (seni pertunjukan), dan Janger Kedaton Sumerta dan Pegok Sesetan (seni pertunjukan).

Ada 11 karya budaya Bali sebagai WBTB Indonesia 2020

Tim Cagar Budaya Kota Denpasar I Gede Anom Ranuara bersama Dewa Gede Puwita dan Dewa Gede Yadhu Basudewa mengatakan, ketiga karya budaya Kota Denpasar lolos bersama delapan karya budaya lainnya dari kabupaten dan kota se-Bali.

Jadi, ada total 11 karya budaya Bali yang sukses ditetapkan menjadi WBTB Indonesia 2020.

Tradisi Nanda

Menurut Anom Ranuara, tradisi Nanda merupakan sebuah tari ritual yang dilaksanakan pada upacara "pengilen" pada beberapa desa adat di wilayah Kecamatan Denpasar Timur.

Hingga kini, Tradisi Nanda masih ada di Desa Adat Kesiman, Desa Adat Sumerta, Desa Adat Tembau, Desa Adat Penatih Puri, Desa Adat Taman Poh Manis, Desa Adat Penatih, Desa Adat Bekul, Desa Adat Anggabaya dan Desa Adat Laplap.

Kesenian Genggong

Sementara itu, untuk kesenian Genggong adalah alat musik yang dikelompokkan dalam jenis harpa mulut.

Teknis memainkannya adalah menggunakan mulut dengan resonansi tenggorokan. Kesenian ini masih eksis dan sudah direkonstruksi di Desa Pegok dan Sesetan, Denpasar.

Kesenian Gambuh

Dilansir Antara, kesenian Gambuh di Pedungan adalah kesenian yang diperkirakan sudah ada sejak 1836.

Hingga kini, kesenian tersebut sangat disakralkan di Banjar Menesa dan Banjar Puseh Pedungan yang dipentaskan saat piodalan di Pura Puseh Desa Adat Pedungan setiap Tumpek Wayang.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X