BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif

Hari Ulos Nasional, Mari Telisik Makna di Balik Keindahannya

Kompas.com - 17/10/2020, 09:04 WIB
Ilustrasi pembuatan kain ulos dengan alat tenun tradisional Dok. SHUTTERSTOCK/ZULFIKRI SASMAIlustrasi pembuatan kain ulos dengan alat tenun tradisional

KOMPAS.com – Bulan Oktober identik dengan peringatan Hari Batik Nasional. Namun, tampaknya masih banyak yang belum tahu kalau di bulan yang sama Indonesia juga memperingati Hari Ulos Nasional.

Pada 17 Oktober 2014, ulos atau kain tradisional khas suku Batak, Sumatera Utara, resmi ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia.

Satu tahun kemudian, tepatnya 17 Oktober 2015, Kemendikbud menetapkan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Ulos Nasional. Sejak saat itu, tiap 17 Oktober, Hari Ulos Nasional dirayakan dengan beragam acara.

Setelah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) kini berniat mengusulkan ulos menjadi warisan budaya tak benda dunia ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) pada 2025 mendatang.

Mengutip Kompas.id, Selasa (12/11/2019), Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengatakan, ulos merupakan wastra (kain tradisional) Nusantara yang bukan sekadar busana. Ulos adalah pemersatu suku Batak yang memiliki makna khusus.

Sejarah ulos

Melansir laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id, suku Batak sudah mengenal ulos sejak abad ke-14, bersamaan dengan masuknya alat tenun tangan dari India.

Awalnya, ulos berfungsi sebagai penghangat badan bagi nenek moyang suku Batak yang hidup di kawasan pegunungan. Ulos pun menjadi simbol kehangatan bagi suku Batak kala itu.

Berdasarkan pandangan suku Batak, terdapat tiga unsur yang menjadi dasar dalam kehidupan manusia, yakni darah, napas, dan panas. Darah dan napas merupakan pemberian Tuhan, tapi tidak dengan unsur panas.

Menurut suku Batak, panas matahari belum cukup untuk mengikis udara dingin. Alhasil, ulos menjadi salah satu sumber panas bagi suku Batak, selain matahari dan api.

Seiring waktu berjalan, ulos bukan lagi sekadar kain penghangat tubuh. Ulos menjadi kain yang melambangkan ikatan kasih sayang antara orangtua dan anak-anaknya atau antara satu orang dengan orang lain.

Makna tersebut sesuai dengan filsafat Batak, yakni “Ijuk pengihot ni hodong. Ulos penghit ni halong” yang berarti ijuk pengikat pelepah pada batangnya dan ulos pengikat kasih sayang di antara sesama.

Adat mangulosi

Dalam budaya Batak, dikenal istilah adat “mangulosi” yang artinya memberi ulos. Mangulosi merupakan bentuk pemberian restu dan kasih sayang dari orangtua kepada anak-anaknya. Proses mangulosi biasanya menjadi salah satu bagian dari rangkaian upacara pernikahan adat Batak.

Sejarawan JJ Rizal menjelaskan, dalam sejarah suku Batak, ulos berperan sebagai “jembatan” bagi setiap marga untuk mengenal leluhurnya.

Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kedua kanan) mengenakan kain ulos saat mengunjungi kawasan kerajinan tenun ulos di Presiden tinjau kawasan kerajinan ulos di Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara, Selasa (30/7/2019).Antaranews Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kedua kanan) mengenakan kain ulos saat mengunjungi kawasan kerajinan tenun ulos di Presiden tinjau kawasan kerajinan ulos di Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara, Selasa (30/7/2019).

"Ulos itu sebenarnya, 'buku sejarah' dari orang Batak, ulos bisa menjelaskan dia itu siapa dan turun dari silsilah yang mana," kata JJ Rizal, seperti diberitakan Kompas.com, Rabu (22/11/2017).

Lebih jauh, ulos juga bisa bermakna seperti lorong waktu dalam pernikahan. Pasalnya, ulos yang disematkan juga membawa cerita, petuah, serta nilai-nilai dari leluhur yang kemudian diturunkan kepada penerimanya.

"(Ulos) menjadi simbol penerimaan sekaligus penurunan nilai-nilai. Jangan heran pas pernikahan adat Batak, ada puluhan ulos yang disematkan dari berbagai marga yang ada. Setiap suku di rumpun Batak pasti desainnya berbeda," ujar JJ Rizal.

Jenis-jenis ulos

Selain wujud kasih sayang, ulos juga memiliki fungsi sebagai simbol untuk berbagai hal dalam seluruh aspek hidup suku Batak. Setiap ulos memiliki jenis, makna, dan fungsi masing-masing.

Misalnya, ulos Mangiring dengan corak yang saling beriringan. Ulos ini melambangkan kesuburan dan kekompakan yang biasanya diberikan kepada anak yang baru lahir, terutama anak pertama.

Kepada pengantin baru, biasanya diberikan ulos Ragi Hotang. Ulos ini merupakan simbol harapan dari pemberinya agar pasangan pengantin baru memiliki ikatan batin.

Selain itu, ada ulos Suri-suri Ganjang yang juga dipakai pada waktu pesta pernikahan. Ulos jenis ini digunakan sebagai selendang (hande-hande) pada waktu menari dengan alunan musik Batak.

Ulos Suri-suri Ganjang disebut pula sebagai ulos Gabe-gabe atau berkat karena digunakan oleh orangtua dari pihak istri untuk manggabei atau memberikan berkat kepada boru-nya (anak perempuannya).

Ilustrasi berbagai jenis kais ulos khas BatakDok. SHUTTERSTOCK/HUTAMA LIMARTA Ilustrasi berbagai jenis kais ulos khas Batak

Kemudian ada ulos Ragi Huting. Diberitakan Kompas.com, Kamis (12/12/2019), dahulu ulos ini biasa digunakan para gadis sebagai pakaian sehari-hari. Para gadis melilitkan kain ini di bagian dada atau disebut Hoba-hoba. Namun, saat ini pemakaian ulos Ragi Huting sudah sangat jarang ditemukan.

Ada juga ulos Pinuncaan yang merupakan salah satu ulos paling mahal. Ulos Pinuncaan dibuat dari lima bagian yang ditenun secara terpisah dan kemudian disatukan menjadi satu ulos.

Ulos tersebut biasanya dikenakan oleh raja-raja adat dalam berbagai acara, mulai dari pesta hingga acara pemakaman. Jenis ulos ini juga bisa dikenakan oleh rakyat biasa yang menjadi tuan rumah pada pesta pernikahan atau upacara adat.

Tak hanya itu, ulos Pinuncaan juga berfungsi sebagai ulos Passamot dalam acara pernikahan. Ulos Passamot diberikan orangtua pengantin perempuan untuk orangtua pengantin laki-laki.

Selain beberapa jenis ulos yang telah disebutkan, masih banyak jenis ulos lain yang dimiliki suku Batak dengan makna dan fungsi yang beragam. Sebagai peninggalan turun-temurun dan salah satu warisan tak benda milik Indonesia, sudah sepatutnya kain ulos dijaga serta dilestarikan dengan baik.

Bagi Anda yang ingin mengenal kain ulos lebih jauh, kunjungi desa pembuat ulos tradisional, yakni Desa Meat, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, saat kondisi pandemi sudah membaik atau bisa juga mengklik tautan ini.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya