Kompas.com - 19/10/2020, 11:01 WIB
Model menggunakan tenun ikat sumba di Bukit Wairinding, Waingapu, Sumba Timur, Kamis (11/07/2019).  Bukit Wairinding menjadi Salah satu daya tarik destinasi wisata di Sumba Timur. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOModel menggunakan tenun ikat sumba di Bukit Wairinding, Waingapu, Sumba Timur, Kamis (11/07/2019). Bukit Wairinding menjadi Salah satu daya tarik destinasi wisata di Sumba Timur.

Contohnya adalah tenun bermotif Patola Kamba dengan gambar bunga-bunga dan merupakan turunan atau diadopsi dari Patola India.

"Bisa dilihat bahwa kain yang dulunya betul-betul digunakan untuk persembahan kepada Tuhan dan bagian dari ritual yang sangat sakral, sekarang sudah mulai bergeser. Mulai dari untuk penggambaran status sosial," kata Jonathan.

3. Tenun untuk memenuhi kebutuhan pasar

Alasan terakhir mengapa orang Sumba menenun pun bergeser seiring periode berikutnya berjalan. Pada tahun 1970an dimulailah periode tenun untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Tenun tidak lagi dibuat untuk ritual sakral dan menggambarkan status sosial masyarakat, melainkan juga untuk memenuhi perekonomian masyarakat setempat.

Kain tenun ini lebih dikenal dengan sebutan kain kontemporer dan lebih modern. Kain ini dibuat ketika para kolektor kain mulai berdatangan pada tahun tersebut.

Baca juga: Ribuan Tenun Sumba di Tangan Kolektor Asing

Namun, kata dia, antara masyarakat Sumba dan kolektor dunia kini masih memiliki perdebatan soal kain yang bermakna tinggi.

Ia menambahkan, ada dua versi yang bisa menjawabnya. Menurut versi kolektor mengatakan, kain sumba yang bernilai tinggi adalah kain yang ditenun sebelum masa penjajahan.

"Di tahun 1800-1920an. Kenapa seperti itu, karena ada aturan dulunya. Kain itu hanya boleh ditenun oleh keluarga bangsawan dan tidak boleh ada kesalahan saat menenun. Jadi kualitasnya akan sangat bagus. Dan itu juga bagian dari ritual keagamaan, sehingga kain yang ditenun harus bagus," jelasnya.

Namun, ada juga yang mengatakan bahwa kain tenun bermakna tinggi dinilai dari keindahan motifnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X