Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mendaki Gunung Gede Pangrango Saat Musim Hujan, Ini Panduannya

Kompas.com - 22/10/2020, 15:49 WIB
Nicholas Ryan Aditya,
Anggara Wikan Prasetya

Tim Redaksi


KOMPAS.com - Tiga jalur resmi pendakian Gunung Gede Pangrango telah buka kembali mulai Rabu (21/10/2020) dengan protokol kesehatan di era adaptasi kebiasaan baru (AKB) atau new normal.

Pada pembukaan kali ini, kondisi cuaca sudah mulai memasuki musim hujan. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diketahui calon pendaki sebelum berkunjung.

Meski terkadang dihindari, tetap saja ada pendaki yang berkunjung ke Gunung Gede Pangrango di musim hujan. Hal ini karena pemandangan indah yang tersaji saat musim hujan tak kalah dengan musim kemarau.

Baca juga: Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi Mulai 21 Oktober 2020

Lalu, apa saja yang perlu diketahui para calon pendaki yang ingin naik Gunung Gede Pangrango di musim hujan? Simak panduannya berikut ini.

1. Terlindung oleh kanopi rapat hutan hujan tropis

Perlu diketahui bahwa Gunung Gede Pangrango memiliki kawasan yang sebagian besarnya tertutup hutan hujan tropis.

Suasana lembab pun tercipta karena kanopi hutan hujan tropis itu begitu berpadu dengan cuaca basah dan sejuk pada musim hujan.

Gunung Pangrango.KOMPAS.COM/WAHYU ADITYO PRODJO Gunung Pangrango.

Selain itu, rimba yang masih asri menjadi makanan pokok pendaki ketika naik gunung yang berlokasi di tiga kabupaten, yaitu Bogor, Cianjur dan Sukabumi ini.

Baca juga: Simak, Cara Menuju Gunung Gede Pangrango dari Jakarta

Kanopi tersebut dapat memberi perlindungan lebih pada tenda-tenda pendaki dari serangan angin kencang dan hujan deras.

Kanopi itu ada di tiga jalur resmi pendakian menuju puncak gunung, yakni Cibodas, Gunung Putri, dan Selabintana.

2. Tak lewat Selabintana

Pada musim hujan, jalur Selabintana kurang rekomendasi untuk dilalui. Terlebih bagi pendaki yang minim pengalaman.

Peserta Nanjak Bareng Pesona Gurilaps melintas jalan tembok menuju jalur pendakian di pintu masuk TNGGP Resort Selabintana, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (27/7/2019).KOMPAS.com/BUDIYANTO Peserta Nanjak Bareng Pesona Gurilaps melintas jalan tembok menuju jalur pendakian di pintu masuk TNGGP Resort Selabintana, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (27/7/2019).

Itu karena beragam faktor, mulai dari medannya berjarak panjang, hingga pacet yang bisa mengganggu perjalanan.

Pacet atau lintah itu bisa menyerbumu saat musim hujan. Maka siap-siap jika lewat Selabintana di musim hujan, kakimu akan penuh darah karena pacet.

3. Lebih ringkas lewat Gunung Putri

Jika kamu ingin merasakan pendakian singkat atau ringkas. Kamu bisa melalui pintu masuk pendakian Gunung Putri.

Lewat jalur itu, ada satu tempat yang khas bagi para pendaki Gunung Gede Pangrango, yaitu Alun-alun Suryakencana.

Alun-alun Suryakancana Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Jawa BaratKOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN Alun-alun Suryakancana Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Jawa Barat

Pendakian Gunung Gede Pangrango via Gunung Putri dapat ditempuh dengan estimasi waktu lebih kurang 6-7 jam dari basecamp.

Baca juga: Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka, Kuota 300 Pendaki per Hari

Kamu juga sudah bonus melihat indahnya Alun-alun Suryakencana dengan hamparan rumput luasnya berselimut kabut. Namun, suhu dingin akan makin terasa jika mendaki pada musim hujan.

4. Dirikan tenda di Alun-alun Suryakencana

Dekat sumber mata air di Alun-alun Suryakencana, ada sebuah ceruk. Para pendaki biasanya akan berebut ceruk untuk tempat mendirikan tenda, terlebih di musim hujan.

Alun-alun Suryakencana usai hujan.KOMPAS.COM / VITORIO MANTALEAN Alun-alun Suryakencana usai hujan.

Namun, jika tak berhasil mendirikan tenda di sana, kamu bisa berjalan ke arah utara atau arah puncak.

Tepat di sana ada tempat rimbunan pohon dan edelweis yang dapat melindungi tenda dari terpaan angin kencang hingga hujan lebat.

5. Summit sebelum 08.00

Momen menikmati sunrise merupakan hal yang paling ditunggu pendaki Gunung Gede. Kamu bisa summit atau menuju puncak sebelum pukul 08.00 WIB.

Hal tersebut bukan tanpa alasan. Jika kamu berjalan menuju puncak lebih dari waktu tersebut, maka siap-siap kabut putih mulai menghalangi keindahan panorama kawah Gede.

6. Naik lewat Cibodas jika ingin ke Lembah Mandalawangi

Jika kamu ingin melihat Lembah Mandalawangi yang memesona, sebaiknya mendaki lewat jalur Cibodas.

Namun jika kamu masih punya waktu yang lebih panjang, disarankan tidak memaksakan diri menuju Mandalawangi pada hari pertama.

Siluet senja di lembah Mandalawangi, Gunung Pangrango, selepas hujan.KOMPAS.COM / VITORIO MANTALEAN Siluet senja di lembah Mandalawangi, Gunung Pangrango, selepas hujan.

Hal ini karena medan cukup terjal disertai angin kencang dan hujan deras bisa saja menyelimuti perjalananmu.

Kondisi itu bisa menghambat langkah, sehingga kamu mungkin baru sampai di Mandalawangi sekitar 9-10 jam mendaki.

Baca juga: Pendakian Gunung Gede Pangrango, Bisa Naik dari 3 Jalur Ini

Aktivitas pendakian yang terlalu lama akan membuat tubuh lelah dan bisa membuatmu tidak bisa menikmati keindahan puncak.

7. Berendam di sungai air hangat seberang Pos Kandang Batu

Tepat di seberang Pos Kandang Batu, terdapat seliuk sungai yang bisa digunakan untuk berendam dan bermain air.

Sejumlah pendaki saat menyusuri puncak Gunung Gede Cianjur, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Balai Besar TNGGP kembali membuka jalur pendakian setelah ditutup akibat pandemi Covid-19 sejak Maret 2020.Dok: Kompas.com Sejumlah pendaki saat menyusuri puncak Gunung Gede Cianjur, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Balai Besar TNGGP kembali membuka jalur pendakian setelah ditutup akibat pandemi Covid-19 sejak Maret 2020.

Tak perlu khawatir jika musim hujan kamu akan kedinginan. Pasalnya, air di sungai ini terasa hangat karena mengandung belerang yang tak begitu pekat.

Kamu juga bisa menginap di Kandang Batu. Hal ini biasa dilakukan pendaki lainnya jika pos Kandang Badak sudah penuh tenda.

Dari Kandang Batu, kamu bisa mencapai puncak Pangrango selama lebih kurang 5 jam pendakian.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Barcelona Hapus Rute Bus dari Google Maps, Ini Alasannya

Barcelona Hapus Rute Bus dari Google Maps, Ini Alasannya

Travel Update
4 Tips Berkunjung ke Desa Wisata Koto Kaciak, Datang Pagi Hari

4 Tips Berkunjung ke Desa Wisata Koto Kaciak, Datang Pagi Hari

Travel Tips
Cara Menuju ke Desa Wisata Lerep Kabupaten Semarang

Cara Menuju ke Desa Wisata Lerep Kabupaten Semarang

Jalan Jalan
4 Oleh-Oleh Desa Wisata Koto Kaciak, Ada Rinuak dan Celana Gadebong

4 Oleh-Oleh Desa Wisata Koto Kaciak, Ada Rinuak dan Celana Gadebong

Travel Tips
Istana Gyeongbokgung di Korea Akan Buka Tur Malam Hari mulai Mei 2024

Istana Gyeongbokgung di Korea Akan Buka Tur Malam Hari mulai Mei 2024

Travel Update
Desa Wisata Lerep, Tawarkan Paket Wisata Alam Mulai dari Rp 60.000

Desa Wisata Lerep, Tawarkan Paket Wisata Alam Mulai dari Rp 60.000

Jalan Jalan
Itinerary Seharian Sekitar Museum Mpu Tantular Sidoarjo, Ngapain Saja?

Itinerary Seharian Sekitar Museum Mpu Tantular Sidoarjo, Ngapain Saja?

Jalan Jalan
 7 Olahraga Tradisional Unik Indonesia, Ada Bentengan

7 Olahraga Tradisional Unik Indonesia, Ada Bentengan

Jalan Jalan
5 Tips Liburan dengan Anak-anak Menggunakan Kereta Api Jarak Jauh

5 Tips Liburan dengan Anak-anak Menggunakan Kereta Api Jarak Jauh

Travel Tips
Mengenal Desa Wisata Koto Kaciak, Surga Budaya di Kaki Bukit Barisan

Mengenal Desa Wisata Koto Kaciak, Surga Budaya di Kaki Bukit Barisan

Jalan Jalan
Aktivitas Wisata di Bromo Ditutup mulai 25 April 2024, Ini Alasannya

Aktivitas Wisata di Bromo Ditutup mulai 25 April 2024, Ini Alasannya

Travel Update
Bali Jadi Tuan Rumah Acara UN Tourism tentang Pemberdayaan Perempuan

Bali Jadi Tuan Rumah Acara UN Tourism tentang Pemberdayaan Perempuan

Travel Update
Hari Kartini, Pelita Air Luncurkan Penerbangan dengan Pilot dan Awak Kabin Perempuan

Hari Kartini, Pelita Air Luncurkan Penerbangan dengan Pilot dan Awak Kabin Perempuan

Travel Update
Usung Konsep Eco Friendly, Hotel Qubika Bakal Beroperasi Jelang HUT Kemerdekaan RI di IKN

Usung Konsep Eco Friendly, Hotel Qubika Bakal Beroperasi Jelang HUT Kemerdekaan RI di IKN

Hotel Story
Ada Women Half Marathon 2024 di TMII Pekan Ini, Pesertanya dari 14 Negara

Ada Women Half Marathon 2024 di TMII Pekan Ini, Pesertanya dari 14 Negara

Travel Update
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com