Diskon Wisata ke Wisatawan Nusantara Harus Efektif, Ini Alasannya

Kompas.com - 23/10/2020, 16:04 WIB
Foto dirilis Minggu (20/9/2020), memperlihatkan sejumlah wisatawan menikmati suasana senja di pantai setelah dibukanya pariwisata untuk wisatawan domestik di Pantai Pererenan, Badung. Keseriusan penerapan berbagai protokol kesehatan di Bali ditargetkan dapat menekan angka penyebaran Covid-19 sehingga mampu membangun kepercayaan wisatawan untuk mengunjungi Pulau Dewata kembali. ANTARA FOTO/FIKRI YUSUFFoto dirilis Minggu (20/9/2020), memperlihatkan sejumlah wisatawan menikmati suasana senja di pantai setelah dibukanya pariwisata untuk wisatawan domestik di Pantai Pererenan, Badung. Keseriusan penerapan berbagai protokol kesehatan di Bali ditargetkan dapat menekan angka penyebaran Covid-19 sehingga mampu membangun kepercayaan wisatawan untuk mengunjungi Pulau Dewata kembali.

KOMPAS.com - Pemerintah akan membagikan diskon paket wisata tahun depan, salah satunya kepada wisatawan nusantara (wisnus). Besaran angkanya yaitu Rp 2,35 juta per orang dan akan disalurkan berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Pengamat pariwisata sekaligus Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana Bali I Gede Pitana mengapresiasi kebijakan itu dan menilai sebagai langkah tepat di masa pandemi.

Namun, ia juga memberikan sedikit catatan agar diskon atau subsidi tersebut jelas maksud dan tujuannya.

Dirinya mengkhawatirkan efektivitas dari pemberian dana yang proses penyalurannya berdasarkan NIK.

Baca juga: Libur Panjang, Wisatawan Diminta Disiplin Protokol Kesehatan Covid-19

"Jadi ketika kita memberikan subsidi itu ada berbagai teori. Satu subsidi merata. Kedua, subsidi targeted, dan ketiga, subsidi memihak," kata Pitana saat dihubungi Kompas.com, Kamis (22/10/2020).

Teori pertama pemberian subsidi memiliki tujuan untuk memberikan perataan ke seluruh lapisan masyarakat.

Itu berarti semua penduduk di negara tersebut akan mendapatkan subsidi pemerintah, tanpa terkecuali.

Suasana ramai wisatawan di Puncak Sosok, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, sebelum pandemi Covid-19.Dokumentasi Puncak Sosok Suasana ramai wisatawan di Puncak Sosok, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, sebelum pandemi Covid-19.

"Kalau subsidi merata, misalnya petani di kampung ini kita berikan pupuk 5 kilogram, semua diberikan. Yang kaya diberikan, yang miskin diberikan, yang gak punya tanah juga diberikan. Itu keadilan dalam arti sama rata, tapi seringnya gak efektif," ujar Pitana.

Teori kedua atau subsidi targeted memiliki jelas. Gambaran konsepnya, diskon wisata seharusnya diberikan hanya bagi mereka yang ingin berwisata.

"Makannya, saya tanya lagi filosofi di balik pemberian dana ini apa. Apakah semuanya akan dikasih, tapi apakah itu efektif dan sebagainya," imbuh dia.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X