Kompas.com - 29/10/2020, 10:25 WIB

Pengunjung Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, memerhatikan patung-patung pendiri Organisasi Budi Utomo, Sabtu (19/5/2018). Tanggal pendirian organisasi tersebut, 20 Mei 1908, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pendirian Boedi Oetomo dipandang sebagai titik awal tumbuhnya kesadaran nasional rakyat Indonesia. KOMPAS/Wisnu Widiantoro Pengunjung Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, memerhatikan patung-patung pendiri Organisasi Budi Utomo, Sabtu (19/5/2018). Tanggal pendirian organisasi tersebut, 20 Mei 1908, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pendirian Boedi Oetomo dipandang sebagai titik awal tumbuhnya kesadaran nasional rakyat Indonesia.

"Ini dulunya adalah sekolah STOVIA yang juga di tempat ini lah tempat kelahiran organisasi pemuda pertama yaitu Boedi Oetomo," kata Ira.

Bangunan dengan bentuk persegi panjang ini melahirkan tokoh-tokoh penting bangsa di antaranya Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan R. Soetomo. Ketiganya tercatat pernah mengemban ilmu di sana.

Tempat ini memiliki peran penting dalam pergerakan pemuda jauh sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia.

Jelasnya, para pemuda di masa itu dididik untuk menjadi dokter guna menanggulangi wabah penyakit akhir abad 19.

"Pemerintah Kolonial Belanda membuat sekolah kedokteran pribumi, untuk akhirnya pribumi itu dikirim ke luar pulau Jawa. Karena yang tadinya jadi dokter itu, orang pribumi gak boleh, hanya orang-orang Belanda. Karena dokter-dokter Belanda menolak dikirim, maka dididiklah para pemuda pribumi untuk jadi dokter," tutur dia.

Pada masa itu, para pemuda yang bersekolah di STOVIA tak hanya menuntut ilmu. Ira mengatakan bahwa mereka juga berpolitik.

Ira menerangkan, saat itu Belanda memiliki aturan untuk politik etis, dalam arti memberikan balas jasa untuk tempat yang dijajah.

Baca juga: Cara Berkunjung ke Museum Kebangkitan Nasional Selama Era New Normal

"Sebenarnya sekolah itu bagian dari politik etis. Waktu itu di sekolah ini, mahasiswanya walaupun dibiayai Belanda, mereka akhirnya berpolitik juga, maka didirikan itu Boedi Oetomo, Jong Java, Jong Sumatera dan lainnya yang akhirnya berikrar di peristiwa Sumpah Pemuda," katanya.

Pergerakan pemuda itu juga sempat tak disukai pemerintah Belanda. Beruntung, mereka dilindungi oleh Direktur STOVIA yaitu Hermanus Frederik Roll yang mendukung pergerakan pemuda.

Maka patutlah napak tilas Sumpah Pemuda diawali dari Museum Kebangkitan Nasional yang melahirkan pergerakan pemuda-pemuda STOVIA.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X