Kompas.com - 29/10/2020, 10:25 WIB
Diorama Kongres Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2015). KOMPAS/PRIYOMBODODiorama Kongres Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2015).


KOMPAS.com - Sumpah Pemuda tahun ini jatuh pada Rabu (28/10/2020) di tengah masa pandemi Covid-19.

Kompas.com berkesempatan mengikuti virtual tour napak tilas Sumpah Pemuda yang diadakan Wisata Kreatif Jakarta, Rabu (28/10/2020) malam.

Menurut pemandu wisata sekaligus pendiri Wisata Kreatif Jakarta Ira Lathief, ada tiga museum yang bisa dikunjungi untuk napak tilas Sumpah Pemuda.

Baca juga: 92 Tahun Sejarah dan Isi Teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Tiga museum ini berada di Jakarta dan sudah dibuka kembali dengan protokol kesehatan. Lalu, mulai dari mana sebaiknya napak tilas Sumpah Pemuda dilakukan?

Ira mengatakan, untuk napak tilas Sumpah Pemuda, pertama kamu bisa berkunjung ke Museum Kebangkitan Nasional, lalu dilanjutkan dengan Museum Sumpah Pemuda dan diakhiri di Museum Gereja Katedral.

Seperti apa ulasan dari virtual tour tiga museum ini? Berikut Kompas.com rangkum ulasannya.

Pelajar mengamati diorama sejarah di Museum Kebangkitan Nasional (ex Gedung Stovia), Jakarta, Sabtu (19/5/2018). Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati pada tanggal 20 Mei merupakan refleksi mengenang masa dimana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan.  ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA Pelajar mengamati diorama sejarah di Museum Kebangkitan Nasional (ex Gedung Stovia), Jakarta, Sabtu (19/5/2018). Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati pada tanggal 20 Mei merupakan refleksi mengenang masa dimana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Museum Kebangkitan Nasional

Museum pertama yang bisa dikunjungi adalah Museum Kebangkitan Nasional yang berlokasi di Jalan Dr Abdul Rahman Saleh, Nomor 26, Senen, Jakarta Pusat.

Sebelum diresmikan menjadi museum pada tahun 1984, tempat ini telah melalui beragam proses panjang dan peralihan fungsi bangunan.

Dulu, gedung ini merupakan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau sekolah dokter bumiputra.

"Ini dulunya adalah sekolah STOVIA yang juga di tempat ini lah tempat kelahiran organisasi pemuda pertama yaitu Boedi Oetomo," kata Ira.

Bangunan dengan bentuk persegi panjang ini melahirkan tokoh-tokoh penting bangsa di antaranya Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan R. Soetomo. Ketiganya tercatat pernah mengemban ilmu di sana.


Pengunjung Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, memerhatikan patung-patung pendiri Organisasi Budi Utomo, Sabtu (19/5/2018). Tanggal pendirian organisasi tersebut, 20 Mei 1908, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pendirian Boedi Oetomo dipandang sebagai titik awal tumbuhnya kesadaran nasional rakyat Indonesia.KOMPAS/Wisnu Widiantoro Pengunjung Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, memerhatikan patung-patung pendiri Organisasi Budi Utomo, Sabtu (19/5/2018). Tanggal pendirian organisasi tersebut, 20 Mei 1908, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pendirian Boedi Oetomo dipandang sebagai titik awal tumbuhnya kesadaran nasional rakyat Indonesia.
Tempat ini memiliki peran penting dalam pergerakan pemuda jauh sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia.

Jelasnya, para pemuda di masa itu dididik untuk menjadi dokter guna menanggulangi wabah penyakit akhir abad 19.

"Pemerintah Kolonial Belanda membuat sekolah kedokteran pribumi, untuk akhirnya pribumi itu dikirim ke luar pulau Jawa. Karena yang tadinya jadi dokter itu, orang pribumi gak boleh, hanya orang-orang Belanda. Karena dokter-dokter Belanda menolak dikirim, maka dididiklah para pemuda pribumi untuk jadi dokter," tutur dia.

Pada masa itu, para pemuda yang bersekolah di STOVIA tak hanya menuntut ilmu. Ira mengatakan bahwa mereka juga berpolitik.

Ira menerangkan, saat itu Belanda memiliki aturan untuk politik etis, dalam arti memberikan balas jasa untuk tempat yang dijajah.

Baca juga: Cara Berkunjung ke Museum Kebangkitan Nasional Selama Era New Normal

"Sebenarnya sekolah itu bagian dari politik etis. Waktu itu di sekolah ini, mahasiswanya walaupun dibiayai Belanda, mereka akhirnya berpolitik juga, maka didirikan itu Boedi Oetomo, Jong Java, Jong Sumatera dan lainnya yang akhirnya berikrar di peristiwa Sumpah Pemuda," katanya.

Pergerakan pemuda itu juga sempat tak disukai pemerintah Belanda. Beruntung, mereka dilindungi oleh Direktur STOVIA yaitu Hermanus Frederik Roll yang mendukung pergerakan pemuda.

Maka patutlah napak tilas Sumpah Pemuda diawali dari Museum Kebangkitan Nasional yang melahirkan pergerakan pemuda-pemuda STOVIA.

Pengunjung bisa melihat enam ruangan bertema masing-masing seperti ruang pameran, asrama, ruang kedokteran STOVIA, ruang perkenalan, ruang awal kesadaran, dan ruang pergerakan nasional.

Di balik layar proses pemotretan Sumpah Pemuda Kompas di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2015). KOMPAS/PRIYOMBDO Di balik layar proses pemotretan Sumpah Pemuda Kompas di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2015).

Museum Sumpah Pemuda

Museum berikutnya adalah Museum Sumpah Pemuda. Seperti namanya, museum ini memang terkenal karena sebagai lokasi pembacaan ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Lokasinya ada di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Senen, Jakarta Pusat. Gedung ini awalnya adalah rumah milik Sie Kong Liang.

Lahirnya ikrar Sumpah Pemuda, kata Ira, berasal dari kongres pemuda kedua pada 27 dan 28 Oktober 1928.

Kongres Pemuda Kedua itulah yang mencetuskan deklarasi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Perumusan naskah Sumpah Pemuda itu dibuat oleh Muhammad Yamin.

Museum ini identik juga dengan sosok W.R Soepratman, pencipta lagu Indonesia Raya. Jika kamu ingin melihat biola yang dimainkan W.R Soepratman pada ikrar Sumpah Pemuda 1928, bisa datang ke museum ini.

Museum Sumpah Pemuda, JakartaANTARA/Rivan Awal Lingga Museum Sumpah Pemuda, Jakarta

Baca juga: Kisah Biola WR Supratman di Museum Sumpah Pemuda

Dulunya, museum ini adalah rumah kos yang dihuni beberapa pemuda seperti salah satunya Muhammad Yamin.

"Jadi tuh ini kayak tempat nongkrong mereka. Ngontrak ramai-ramai terus mereka diskusi politik juga di sini. Dari situ, diadakan Kongres Pemuda pertama tahun 1926, baru dua tahun kemudian diadakan Kongres Pemuda Kedua itu di sini. Akhirnya melahirkan ikrar Sumpah Pemuda yang dirumuskan Muhammad Yamin," jelasnya.

Usai deklarasi itu, gedung sempat banyak berubah fungsi mulai dari kembali menjadi rumah tinggal, toko bunga, hotel hingga akhirnya resmi menjadi museum pada 1973.

Museum Gereja Katedral

Museum berikutnya yang bisa dikunjungi untuk napak tilas Sumpah Pemuda adalah Museum Gereja Katedral, Jakarta Pusat.

Lokasinya tepat di samping kiri Gereja Katedral Jakarta atau dekat Goa Bunda Maria. Lokasi Gereja Katedral Jakarta sendiri berada di Jalan Katedral Nomor 7B, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Pemuda Katolik Indonesia memiliki peran penting dalam gagasan Sumpah Pemuda 1928. Hal inilah yang membuat pengurus gereja mengangkat kembali bahwa Gereja Katedral punya peran terhadap lahirnya Sumpah Pemuda.

"Karena Kongres Pemuda Kedua hari pertama itu diadakan di tempat ini. Waktu itu juga didukung oleh pihak gereja. Makanya sejak dua tahun terakhir, setiap peringatan Sumpah Pemuda, itu diadakan peringatan di Gereja Katedral, salah satunya acara pertunjukan video mapping," jelasnya.

Salah satu diorama di Museum Gereja Katedral di Jakarta Pusat.KOMPAS.com/NICHOLAS RYAN ADITYA Salah satu diorama di Museum Gereja Katedral di Jakarta Pusat.
Kongres Pemuda Kedua hari pertama itu diadakan pada 27 Oktober 1928 di gedung Katholieke Social Bond (Perhimpunan Sosial Katolik) yang lokasinya berada persis di belakang Gereja Katedral atau aula paroki Katedral sekarang.

Baca juga: Yang Baru di Jakarta! Gereja Katedral Kini Punya Museum

Kamu bisa melihat bagaimana perjalanan penyebaran agama Katolik di Indonesia dengan berkunjung ke museum ini.

Museum Katedral sebenarnya sudah pernah berdiri sebelumnya pada 28 April 1991 yang diresmikan oleh Mgr Julius Darmaatmadja.

Pembuatan museum ini diprakarsai oleh Pastor Kepala Katedral saat itu, Pater Rudolf Kurris yang mencintai sejarah.

Museum baru Gereja Katedral kemudian berdiri di utara gedung gereja. Museum ini baru diresmikan pada 14 November 2018 oleh Mgr Ignatius Suharyo.

Museum ini juga memiliki bagian menarik berupa patung Bunda Maria dengan akse dan nuansa Indonesia. Bunda Maria digambarkan sebagai orang Indonesia lengkap dengan pakaian bergambar wayang, dan berlambang burung Garuda.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X