PHRI Bali: Okupansi Hotel Diharap Naik Selama Libur Panjang

Kompas.com - 29/10/2020, 13:01 WIB
Ilustrasi Bali - Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali. SHUTTERSTOCK / GODILAIlustrasi Bali - Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali.

KOMPAS.com – Libur panjang akhir Oktober 2020 dalam menyambut maulid Nabi Muhammad SAW diharapkan dapat meningkatkan okupansi hotel di Bali.

“Sejauh ini tingkat okupansi masih single digit kisaran 5-9 persen. Libur panjang ini kita sangat berharap kontribusi dari tamu Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, kepada Kompas.com, Rabu (28/10/2020).

Ia melanjutkan, sejauh ini kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) yang sekarang menjadi pasar utama pariwisata Bali hanya 2.500–3.000 orang per hari.

Baca juga: Libur Panjang Cuti Bersama, Aparat Akan Awasi Tempat Wisata di Bali

Namun dengan adanya libur panjang, dia berharap kunjungan bisa mencapai 10.000 per hari lantaran dua hari lalu kunjungan ke Pulau Dewata hampir mencapai angka 5.000.

“Total kamar hotel di Bali banyak. Jika dibandingkan dengan 5.000 wisatawan masih belum seberapa,” tutur Rai.

Ia memprediksi kalau kunjungan bisa 10.000 orang per hari dengan masa tinggal minimum 3-5 hari, rata-rata tingkat okupansi bisa mencapai 11 persen.

Ilustrasi kamar hotel. Dok CROWNE PLAZA Ilustrasi kamar hotel.

Rai mengatakan, selama ini rata-rata menginap wisnus adalah tiga hari. Namun selama libur panjang, dia berharap ada yang menginap hingga lebih-kurang seminggu.

Sejauh ini, Rai mengungkapkan bahwa pemesanan kamar selama libur panjang didominasi para tamu asal Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta dengan rata-rata lama menginap 3-5 hari.

Patuhi protokol kesehatan

Menurut Rai, seluruh hotel di Bali selalu siap akan protokol kesehatan sehingga wisnus tidak perlu takut untuk berlibur di Pulau Dewata dan meningkatkan jumlah kunjungan ke sana.

“Penerapan protokol kesehatan sangat ketat karena kami tidak main-main. Bagi yang sudah disertifikasi, kalau ada pelanggaran bisa dicabut,” ungkap Rai.

ILUSTRASI - Kamar hotelShutterstock/August_0802 ILUSTRASI - Kamar hotel

Dia mengatakan bahwa saat ini adanya sertifikasi pada hotel merupakan hal yang paling dicari operator tur dan wisatawan.

Hotel-hotel yang sudah disertifikasi memberi wisatawan rasa percaya diri untuk liburan dan bermalam di Bali.

“Ada pelanggaran dari salah satu hotel. Kami peringatkan pemiliknya. Dia adakan acara, tamu pada saat itu sedang makan dan minum tapi pelayan tidak menggunakan masker atau penutup wajah, ini bahaya,” ucap Rai.

Baca juga: Desa Wisata Penglipuran Bali Buka Lagi Setelah 8 Bulan Tutup

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Bali pada Agustus adalah 3,68 persen.

Sementara TPK pada Juli adalah 2,57 persen dan Juni adalah 2,07 persen. Kompas.com coba mencari TPK hotel nonbintang dan TPK hotel di Bali secara keseluruhan, tetapi tidak mendapatkan data terkait.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X