Kompas.com - 05/11/2020, 20:18 WIB
2 kamar tamu yang ada di lantai atas dan bawah dipisahkan dengan bilah dinding dengan kamar lainnya di The Tiing Hotel nicbrunsdon.com2 kamar tamu yang ada di lantai atas dan bawah dipisahkan dengan bilah dinding dengan kamar lainnya di The Tiing Hotel


KOMPAS.com – Sebuah hotel di Bali bagian utara berhasil memenangi penghargaan sebagai hotel dengan desain terbaik tahun 2020 di ajang Dezeen Awards 2020.

Seperti dilansir Insider, The Tiing Hotel berhasil mendapatkan dukungan dari publik sebagai konsep hotel terbaik.

Dezeen Awards yang sudah tiga kali dilaksanakan ini memberikan penghargaan pada proyek arsitektur, interior, dan desain terbaik di seluruh dunia.

Ada lebih dari 62.000 orang yang memberikan dukungannya untuk seluruh kategori di ajang ini pada tahun ini.

Baca juga: Queen of the South Resort Yogyakarta, Penginapan Tepi Pantai ala Bali

The Tiing Hotel berlokasi di kota tepi pantai di Tejakula, pantai utara Bali. Daerah ini bukan merupakan daerah populer untuk turis.

Wisatawan bisa mencapai hotel ini dengan melakukan dua setengah jam perjalanan melalui hutan dari Bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar.

Hotel ini didesain oleh arsitek Nic Brunsdon yang menyebut The Tiing Hotel sebagai “penghargaan untuk para pemberani”.

Lorong Instagramable di The Tiing Hotelnicbrunsdon.com Lorong Instagramable di The Tiing Hotel

Harga per malamnya cukup terjangkau, sekitar 43 dollar AS atau Rp 619.000. Total ada 14 kamar di hotel ini.

Setelah mengunjungi lokasi hotel ini untuk kali pertama, Brunsdon mengatakan, ia ingin mendesain hotelnya mengikuti bentuk lanskap di sana.

Untuk melakukan itu, akhirnya ia mendesain tujuh “bilah”, yang terdiri dari kamar tamu yang masing-masing ada di lantai bawah dan atas setiap bilah tersebut yang menonjol ke luar.

Baca juga: Javanica Park, Spot Instagramable Kolam Renang di Muntilan Rasa Bali

Setiap bilah yang berupa dinding tinggi menciptakan area seperti lorong. Lorong ini jadi salah satu spot paling instagramable di The Tiing Hotel.

Lorong ini juga memiliki pemandangan langsung ke laut dan gunung yang sangat indah sekaligus menghalangi pandangan dari samping.

Sementara kamarnya sendiri didesain untuk mendorong tamu agar bisa melepaskan lelah dan berhubungan satu sama lain.

 

Infinity pool di The Tiing Hotelnicbrunsdon.com Infinity pool di The Tiing Hotel

Tamu bisa menikmati pemandangan dari infinity pool pribadi yang ada di setiap kamar. Atau, bisa juga bersantai di bak mandi dengan atap terbuka setelah seharian snorkeling dan bertualang di air terjun yang ada di sekitar hotel.

Di kamar hotel ini tidak ada televisi. Namun,tamu akan memiliki pencahayaan alami yang cukup dengan adanya jendela besar setinggi pandangan mata.

Menurut Brunsdon, para tamu akan hanya bisa fokus untuk berada di sana dan benar-benar ada, dengan lautan di hadapan dan gunung di belakang.

Brunsdon mendesain hotel ini sebelum pandemi Covid-19 melanda. Namun, ia percaya bahwa konsep hotel yang ia bangun ini cocok sekali dengan wisata pasca-pandemi.

Baca juga: Bali Jadi Destinasi Bulan Madu Nomor Satu di Dunia

Ketika kamu sedang ingin beinteraksi dengan orang lain, bisa juga pergi ke tempat publik yang dipakai bersama. Misalnya, kolam renang dengan ubin berwarna merah yang sangat unik.

Selain kolam renang unik tersebut, bagi kamu yang suka berolahraga yoga bisa juga menikmati sensasi yoga menghadap laut di paviliun khusus yoga.

Namun, yang paling penting, physical distancing benar-benar bisa tamu lakukan di hotel tersebut.

“Kamu bisa merasa terisolasi ketika kamu ingin merasa terisolasi, tapi bisa juga terhubung jika kamu ingin berhubungan dengan orang lain,” kata Brunsdon pada Insider.

 

Pencahayaan alami di The Tiing Hotelnicbrunsdon.com Pencahayaan alami di The Tiing Hotel

The Tiing Hotel berlokasi dekat dengan desa nelayan, membuatnya terasa sangat tradisional Bali. Saat berkunjung ke sana, Brunsdon mengingat sempat melihat orang-orang lokal pergi melaut dengan perahu kayu tradisional dan pulang membawa 50 kilogram ikan tuna.

Untuk merayakan Tejakula dan Bali, Brunsdon dan studio lokal Manguning mendesain hotel ini menggunakan beton dan bambu lokal.

“Berkeliling di sekitar pulau, ada banyak sekali lempengan dan kolom beton. Sebagian besarnya disangga oleh bambu,” tutur Brunsdon.

Hal itu dapat terlihat dari dindingnya yang unik. Dinding bertekstur tersebut dibuat dengan cara menempatkan batang bambu ke dalam beton cair, membuatnya jadi ciri khas The Tiing Hotel. Tiing sendiri memang berarti bambu.

Sejauh ini, Bali masih menutup akses untuk wisatawan mancanegara hingga awal 2021. Namun, ketika pariwisata kembali aktif, Brunsdon merasa lokasi Tiing yang ada di luar jalur turis biasanya akan sangat menarik untuk para turis.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X