Kompas.com - 12/11/2020, 14:26 WIB
Mausoleum atau bangunan pelindung makam O.G.Khouw di Taman Pemakaman Umum Petamburan, Jakarta Pusat. Kompas.com/Silvita AgmasariMausoleum atau bangunan pelindung makam O.G.Khouw di Taman Pemakaman Umum Petamburan, Jakarta Pusat.

KOMPAS.com - Pendiri Wisata Kreatif Jakarta Ira Lathief menuturkan bahwa Taman Pemakaman Umum (TPU) Petamburan memiliki makam termegah di Asia Tenggara.

“Ada satu makam yang megah banget. Penjaga makam bilang itu makam raja. Orang Jakarta banyak yang belum tahu itu makam OG Khouw,” katanya dalam tur virtual Jelajah Makam-makam Pahlawan, Selasa (10/11/2020).

OG Khouw merupakan seorang filantropis keturunan Tionghoa yang berasal dari keluarga terpandang pada saat itu.

Baca juga: Makam Megah di Petamburan, Tanda Cinta Istri untuk Suami

Ira menuturkan, dahulu keluarganya diberi gelar kehormatan berupa Kapitan oleh para penjajah Belanda yang nantinya gelar tersebut dilanjutkan oleh adiknya.

Selain makam, peninggalan lain dari keluarga Khouw adalah Candra Naya, rumah tua bergaya oriental peninggalan Mayor Khouw Kim An yang diangkat menjadi Leutenant pada 1905 sebelum naik pangkat jadi Kapitan pada 1908 dan Mayor pada 1910.

Adapun Candra Naya terletak di tengah gedung hotel dan apartemen di Jalan Gajah Mada Nomor 188, Jakarta Barat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Apa yang Menarik dari TPU Tanah Kusir?

Kegiatan filantropi

Makam O.G.Khouw dengan bangunan megah dan berhiaskan patung megah dari marmer.Kompas.com/Silvita Agmasari Makam O.G.Khouw dengan bangunan megah dan berhiaskan patung megah dari marmer.

Datang dari keluarga ternama dan memiliki usaha tebu, OG Khouw dikenal sebagai seorang miliarder kala itu. Masyarakat setempat pun mengenal Khouw sekeluarga sebagai orang yang dermawan.

“Mereka membangun banyak fasilitas publik, termasuk rumah sakit gratis pada saat itu yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit Husada,” ujar Ira.

Selain menyediakan fasilitas kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu, keluarga Khouw juga membangun sekolah untuk keturunan Tionghoa pada saat itu.

Sekolah gratis bagi keturunan Tionghoa tersebut, ujar Ira, merupakan cikal bakal dari Universitas Tarumanegara. Menurut Ira, keluarga Khouw memiliki jasa yang besar bagi publik pada saat itu.

Baca juga: 7 Fakta Menarik TMP Kalibata, Makam Pahlawan Revolusi Dibedakan

 

Patung dinding di dalam mausoleum O.G. Khouw yang diperkirakan adalah Lim Sha Nio, istri daei O.G. Khouw Kompas.com/Silvita Agmasari Patung dinding di dalam mausoleum O.G. Khouw yang diperkirakan adalah Lim Sha Nio, istri daei O.G. Khouw

Bukti cinta dari sang istri

Di masa tuanya, disebutkan bahwa OG Khouw dan keluarganya pindah ke Belanda dan menjadi warga Negeri Kincir Angin.

“Tapi, dia meninggal di Swiss. Dikremasi, abunya dibawa sama istrinya dan dibuatkan monumen ini. Saat dibangun megah sekali, kalau dirupiahkan senilai Rp 5 miliar,” kata Ira.

Dengan nominal tersebut, bangunan yang menjadi makam termegah di Asia Tenggara dibuat menggunakan marmer asli Italia.

Baca juga: 7 Fakta Menarik TMP Kalibata, Makam Pahlawan Revolusi Dibedakan

Bahkan, sebuah surat kabar di Batavia pernah memberitakan bahwa makam OG Khouw lebih megah dari makam Rockefeller yang kala itu merupakan orang terkaya di dunia asal Amerika Serikat.

Selain memiliki mausoleum, bagian bawah makam adalah bunker yang konon katanya, sebuah ruang tertutup di sana menyimpan harta-harta milik keluarga Khouw.

Ira mengungkapkan bahwa makam tersebut dibangun oleh istrinya. Alhasil, makam pun disebut sebagai bukti cinta dari sang istri.

Sempat terbengkalai

Kendati berada di TPU, makam OG Khouw sempat terbengkalai selama puluhan tahun. Bahkan, banyak orang yang tidak tahu sejarah dan siapa yang dimakamkan di sana.

Namun, selama 15 tahun terakhir, banyak komunitas pencinta sejarah dan budaya mulai berusaha untuk menyelamatkan makam tersebut saat mencari jejak-jejak makam bersejarah.

Baca juga: Apa yang Menarik dari TPU Tanah Kusir?

“Sama pihak pengelola, makam ini dianggap biasa saja mungkin karena mereka enggak tahu nilai sejarahnya,” ungkap Ira.

“Banyak inisiatif dari banyak komunitas untuk menggalang dana, termasuk membetulkan fasilitas. Banyak komunitas yang berusaha agar itu dijadikan cagar budaya,” lanjutnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Video Pilihan

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.