Kompas.com - 17/11/2020, 07:19 WIB
Ilustrasi Hong Kong - Tram di Lantau Island. pixabay.com/tee2teeIlustrasi Hong Kong - Tram di Lantau Island.


KOMPAS.com – Hong Kong dan Singapura telah menentukan tanggal untuk peluncuran “travel bubble udara” mereka yang akan memungkinkan masyarakat untuk bepergian ke dua negara tersebut tanpa harus melakukan karantina atau langkah pengendalian yang membatasi.

Dilansir dari CNN Travel, otoritas penerbangan Singapura mengatakan bahwa peresmian Air Travel Bubble (ATB) akan dimulai pada 22 November berdasarkan kesepakatan yang terjalin dari negosiasi sebelumnya.

“ATB adalah tonggak sejarah antara dua pusat penerbangan serta jadi cara untuk membangkitkan kembali perjalanan udara dalam cara yang aman dan betahap,” seperti tertera dalam rilis resmi yang dikeluarkan oleh Civil Aviation Authority of Singapore, Rabu (10/11/2020).

Baca juga: Singapura Jalin Kerja Sama dengan Hong Kong untuk Travel Bubble

Para wisatawan di kedua negara tersebut tetap diwajibkan untuk melakukan tes Covid-19 sebelum penerbangan.

Bedanya, mereka tidak lagi diharuskan melakukan karantina atau pemberitahuan agar tetap berada di rumah, serta jadwal perjalanan yang diatur.

“Sebagai awal, akan ada satu penerbangan setiap harinya ke masing-masing kota dengan kuota 200 wisatawan per penerbangan. Jumlah ini akan ditambah jadi dua penerbangan setiap harinya dengan kuota yang sama per 7 Desember 2020.”

Namun para wisatawan tetap harus memenuhi beberapa parameter sebelum melakukan perjalanan tersebut. Salah satunya adalah tidak melakukan perjalanan apa pun selama 14 hari sebelumnya.

 

Ilustrasi Singapurasouthtownboy Ilustrasi Singapura

Pengumuman ini juga memberi peringatan bahwa jika situasi pandemi Covid-19 memburuk di kedua kota, maka ATB akan ditunda.

“Singapore-Hong Kong Air Travel Bubble memungkinkan kita untuk mencapai dua tujuan di saat yang bersamaan. Yakni membuka perbatasan kita dengan cara yang terkontrol, sambil menjaga keselamatan masyarakat,” terang Menteri Transportasi Singapura Ong Ye Kung dalam pernyataan tersebut.

Menurut Ong Ye Kung, langkah ini mungkin terlihat kecil tapi merupakan langkah yang penting ke depannya.

“Saya tidak ragu baik Singapura maupun Hong Kong akan bekerja sama sepenuhnya untuk membuat skema ini bekerja. Ini juga bisa jadi referensi bagi negara-negara lain yang telah menontrol pandemi dan sedang mempertimbangkan untuk membuka perbatasan mereka,” sambung dia.

Sebelumnya, perjalanan terbuka antara Singapura dan Hong Kong telah ditunda selama berbulan-bulan. Ketika pandemi Covid-19 menyerang, pemerintah kedua negara langsung menutup perbatasan mereka.

Baca juga: KTT Ke-37 ASEAN, Travel Bubble Akhirnya Disetujui

Mereka juga melarang akses masuk untuk yang bukan warga serta pengunjung dengan jangka waktu pendek. Di Hong Kong, warga yang baru kembali dari luar negeri harus melakukan karantina 14 hari dan memakai gelang elektronik untuk melacak keberadaan mereka.

Namun baik Singapura maupun Hong Kong sudah berhasil mengendalikan jumlah kasus Covid-19 mereka. Mereka melaporkan jumlah infeksi lokal yang rendah dalam beberapa bulan terakhir. Itulah mengapa akhirnya mereka setuju untuk menjalankan travel bubble ini.

Wabah di Singapura dan Hong Kong

Kebijakan travel bubble serta rendahnya jumlah kasus Covid-19 merefleksikan perputaran kondisi yang luar biasa di Singapura dan Hong Kong.

Hong Kong mengalami wabah gelombang ketiga pada awal musim panas 2020. Dengan jumlah kasus baru per harinya mencapai puncaknya dengan 149 kasus pada bulan Juli.

Kebijakan pembatasan yang sebelumnya dilonggarkan perlahan kembali diperketat. Dengan perkumpulan publik maksimal dilakukan dua orang dan penundaan total semua pelayanan dine-in sementara.

Pembatasan ini memancing kritik publik pada saat itu. Khususnya para pekerja konstruksi dan pekerja harian.

 

Ilustrasi Hong Kong.pixabay.com/AndyLeungHK Ilustrasi Hong Kong.

Namun pembatasan ini ternyata berhasil. Jumlah kasus baru di Hong Kong telah turun jadi sekitar 12 per hari pada bulan Agustus, bahkan sempat mencapai angka 0 di beberapa hari.

Sementara itu di awal musim semi Singapura sempat kesulitan mengendalikan jumlah kasus yang meningkat. Dengan jumlah kasus per harinya bisa melewati angka 1000 pada April 2020.

Sebagian besar kasus terjadi di asrama padat penghuni untuk para pekerja migran yang berasal dari negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara seperti Bangladesh dan India.

Otoritas kemudian melakukan lock down pada asrama tersebut, mengungsikan orang-orang yang terindeksi, lalu melakukan kebijakan lain seperti pengetesan massal.

Baca juga: Australia Akan Buka Perbatasan untuk Turis Asing, Ada Prioritas

Peningkatan ini butuh waktu berbulan-bulan untuk ditangani, menyoroti kondisi kehidupan pekerja migran yang buruk di hadapan khalayak global.

Namun kasusnya perlahan bisa turun pada musim panas. Pada Agustus 2020, jumlah kasus harian Singapura turun jadi sekitar 12 orang per harinya.

Dengan situasi yang stabil, Singapura mulai melonggarkan pembatasannya. Selain travel bubble dengan Hong Kong, mereka juga mulai setuju untuk membuka kembali perbatasan untuk perjalanan bisnis yang penting dengan Indonesia.

Tak itu saja, Singapura juga mulai membuka sebagian perbatasan darat mereka dengan Malaysia untuk perjalanan bisnis.



Sumber CNN Travel
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X