VIWI Board Jamin Protokol Kesehatan Tetap Ketat Kalau PSBB Dicabut

Kompas.com - 17/11/2020, 11:01 WIB
Pengunjung menaiki wahana di Dufan, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Kamis (29/10/2020). Liburan panjang dimanfaatkan warga untuk berwisata ke tempat wisata pantai tersebut, jumlah pengunjung tercatat mencapai sekitar 22.000 pada pukul 15.00. Kuota pengunjung dibatasi 25 persen dari kapasitas maksimal atau 25.000 orang pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi ini. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPengunjung menaiki wahana di Dufan, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Kamis (29/10/2020). Liburan panjang dimanfaatkan warga untuk berwisata ke tempat wisata pantai tersebut, jumlah pengunjung tercatat mencapai sekitar 22.000 pada pukul 15.00. Kuota pengunjung dibatasi 25 persen dari kapasitas maksimal atau 25.000 orang pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi ini.


KOMPAS.com – Asosiasi pariwisata Visit Wonderful Indonesia (VIWI) Board menegaskan bahwa sektor pariwisata akan menjaga protokol kesehatan tetap ketat jika pembatasan sosial berskala besar (PSBB) DKI Jakarta benar-benar dicabut.

Sebelumnya, pemilik usaha di sektor pariwisata yang ada di bawah VIWI Board sepakat untuk meminta pemerintah DKI Jakarta agar mencabut kebijakan PSBB karena banyak inkonsistensi dalam penerapannya.

Ketua VIWI Board Hariyadi Sukamdani menegaskan bahwa VIWI Board akan mengawasi penerapan protokol kesehatan di sektor parwisata agar berjalan dengan baik dan benar.

Baca juga: Asosiasi Pariwisata Minta PSBB Jakarta Dicabut, Ini Alasannya

“Artinya dalam hal pengawasan itu, kita akan melihat. Kalau pengunjung sudah tidak disiplin, tentunya kami akan tegus,” tegas Hariyadi dalam konferensi pers online “Sikap Pelaku Pariwisata Atas Berakhirnya Secara De Facto PSBB Transisi di Jakarta”, Senin (16/11/2020).

Menurut dia, bidang ekonomi, dalam hal ini sektor pariwisata dan kesehatan dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19 bisa berjalan berdampingan.

“Ini kan menyangkut bagaimana kita disiplin saja. 3M terus protokol kesehatan. Itu semua dijalankan ya tidak ada masalah,” sambung dia.

Ia juga memberi contoh negara Swedia yang belum pernah sama sekali menjalankan lockdown. Namun karena warganya menerapkan protokol dengan disiplin, maka angka kasusnya bisa ditekan dengan baik.

Pengecekan suhu tubuh di Hotel Kusuma Agrowisata Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (12/11/2020).KOMPAS.COM/ANDI HARTIK Pengecekan suhu tubuh di Hotel Kusuma Agrowisata Kota Batu, Jawa Timur, Kamis (12/11/2020).

Pun dengan Turki yang sudah membuka kembali pariwisata mereka sejak Juni 2020. Hariyadi mengatakan bahwa di Indonesia, masalahnya selama ini ada di masyarakat yang tidak disiplin dan dibiarkan begitu saja oleh pemerintah.

Protokol yang ketat di tempat wisata

Senada dengan Hariyadi, Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan bahwa selama ini protokol kesehatan selalu jadi perhatian utama.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X