Batik Nurita Khas Pasuruan dengan Motif Bunga Krisan dan Sedap Malam

Kompas.com - 22/11/2020, 11:11 WIB
Batik Nurita dengan gambar bungan krisan dan bunga sedap malam dalam pameraan KKI Bank Indonesia Malang, Jumat (20/11/2020) KOMPAS.COM/ANDI HARTIKBatik Nurita dengan gambar bungan krisan dan bunga sedap malam dalam pameraan KKI Bank Indonesia Malang, Jumat (20/11/2020)

MALANG, KOMPAS.com - Batik Nurita menjadi salah satu produk khas Kabupaten Pasuruan. Pada setiap motifnya, produksi batik itu selalu menyuguhkan gambar bunga krisan dan bunga sedap malam.

Gambar krisan dan sedap malam mengacu pada bunga yang menjadi ciri khas Kabupaten Pasuruan. Bunga krisan banyak ditemui di Kecamatan Tutur, sedangkan bunga sedap malam menjadi salah satu komoditas pertanian warga di Kecamatan Rembang.

"Motif apa pun selalu ada krisan dan sedap malam. Pasti ada sedikit irisan bunga sedap malamnya," kata pemilik Nurita Batik bernama Nurita Iza Rosdiany saat pameran karya kreatif Indonesia (KKI) oleh Bank Indonesia (BI) Malang di Hotel Tugu, Malang, Jumat (20/11/2020).

Baca juga: Harus Tahu, Serba-serbi Motif Batik Daerah di Indonesia

Ia melanjutkan, batik di setiap daerah selalu menonjolkan ciri khas. Karena itu, dirinya menggunakan bunga krisan dan sedap malam sebagai ciri khas batik produksinya.

 

Nurita mulai fokus membatik sejak 2014. Saat itu, dirinya menjadi binaan Bank Indonesia (BI) Malang.

 

Saat ini, ia yang membangun usahanya di Jalan Raya Gondanglegi nomor 375 Cangkringmalang, Kecamatan Beji, Kabupaten Malang sudah memiliki tujuh pembatik.

Batik Nurita dengan gambar bungan krisan dan bunga sedap malam dalam pameraan KKI Bank Indonesia Malang, Jumat (20/11/2020)KOMPAS.COM/ANDI HARTIK Batik Nurita dengan gambar bungan krisan dan bunga sedap malam dalam pameraan KKI Bank Indonesia Malang, Jumat (20/11/2020)

Produksi batiknya sudah terjual ke sejumlah daerah di Indonesia. Sedangkan pemasarannya fokus melalui penjualan online.

Nurita mengatakan, sudah banyak usaha batik dengan berbagai motif khas yang ditawarkan. Karena itu, Nurita menilai bahwa tantangan pembatik saat ini ada pada pemasaran.

"Sekarang banyak perajin batik, jadi kita harus bersaing, terutama pemasarannya. Saya memilih pemasaran online," karanya.

Baca juga: Mengenal Batik Tiga Negeri Lasem yang Punya Motif Unik

Kain batik yang menggunakan teknik cap dijual dengan harga Rp 150.000-Rp 500.000. Sedang batik tulis dijual dengan harga hingga Rp 1 juta.

Sementara itu, Kepala Bank Indonesia (BI) Malang, Azka Subhan mengatakan, ada tiga kunci utama dalam mengembangkan perekonomian berbasis UMKM. Yakni kreativitas, digitalisasi dan sinergi.

"Kreativitas meningkatkan nilai tambah produk. Digitalisasi membuat sistem pembayaran cepat, murah, aman dan andal. Sinergi dapat memperkuat model bisnis yang terintegrasi," ujar dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X