Kompas.com - 17/12/2020, 09:16 WIB
Ilustrasi Bali - Pemandangan dari atas bukit di Desa Pinggan, Kintamani, Bangli, Bali. SHUTTERSTOCK / AGUNG KIRANAIlustrasi Bali - Pemandangan dari atas bukit di Desa Pinggan, Kintamani, Bangli, Bali.


KOMPAS.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali memberlakukan syarat baru untuk liburan ke Bali dalam rangka perayaan Natal dan Tahun Baru 2021. Syarat baru ini berlaku mulai 18 Desember 2020 – 4 Januari 2021.

Disebutkan dalam Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 2021, bahwa masyarakat yang ingin masuk ke Bali wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR paling lama 2x24 jam sebelum keberangkatan.

Syarat tersebut berlaku untuk wisatawan yang masuk ke Bali dengan transportasi udara.

Sementara yang memakai kendaraan pribadi melalui laut atau darat, wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif uji rapid tes antigen paling lama 2x24 jam sebelum keberangkatan.

Kebijakan baru ini menimbulkan beragam reaksi dari masyarakat yang berencana memasuki Bali untuk periode Natal dan Tahun Baru 2021.

Berikut ini Kompas.com rangkum beberapa reaksi masyarakat terkait kebijakan baru ini.

Baca juga: Syarat Naik Pesawat ke Bali, Hasil Swab Negatif H-2 Keberangkatan

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Terlalu banyak kerugian

Amanda Christabel (23) awalnya berencana untuk pulang ke Jembrana, Bali bagian Barat untuk merayakan Natal bersama keluarga.

Namun berbagai pertimbangan masih dipikirkan oleh Amanda, termasuk setelah keluarnya kebijakan terbaru tersebut.

Ia merasa terlalu banyak kerugian yang akan didapatkan jika benar-benar jadi pulang ke Bali saat Natal nanti. Salah satunya dari segi biaya.

“Kalau murah sih enggak apa-apa. Maksudnya, sekarang (swab test) paling murah aja di kisaran Rp 900.000. Belum lagi harus beli tiket pesawat gitu kan,” kata Amanda ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (16/12/2020).

 

Pura Rambut Siwi yang terletak dekat pantai di Kabupaten Jembrana, Bali.https://wonderful.jembranakab.go.id/ Pura Rambut Siwi yang terletak dekat pantai di Kabupaten Jembrana, Bali.

Selain itu, Amanda juga merasa kebijakan tersebut tak serta merta membuat dirinya terhindar dari paparan virus. Alhasil risiko terpapar virus dalam perjalanan masih tetap ada.

“Belum tentu gue sudah swab terus landing di Denpasar, sudah bisa dijain gue masuk Bali bisa terbebas dari Covid-19. Menurut gue enggak berguna aja sih, jadi satu sisi cuman buat mengurangi pengunjung aja kali ya,” jelas Amanda.

Tak itu saja, Amanda juga merasa aturan yang ditetapkan Pemprov Bali terkesan tidak konsisten. Seharusnya, kebijakan seperti ini diberlakukan lebih awal agar memberi dampak yang signifikan.

“Waktu itu pemerintah Bali minta pariwisatanya didatangin lagi sama turis. Sekarang udah kayak gini, ditutup lagi enggak jelas. Jadi kalau bikin kebijakan tuh yang jelas aja, jadi masyarakat enggak luntang-lantung,” pungkasnya.

Karena itulah, Amanda kemungkinan besar tidak akan jadi pulang ke Bali di akhir tahun nanti. Ia berusaha menghindari risiko terpapar virus di perjalanan yang bisa ia bawa kembali ke rumah dan menulari orang-orang di sekitarnya.

Baca juga: Bali Larang Perayaan Tahun Baru 2021, Tidak Boleh Ada Kembang Api

Terlalu memberatkan

Hal serupa juga dirasakan oleh Rifa Octavia (30). Ia berencana untuk liburan ke Bali sebelum Tahun Baru 2021. Niatnya ia ingin berkunjung ke Ubud atau Seminyak, dalam rangka refreshing dan bekerja dari Bali selama beberapa waktu.

Namun dengan adanya kebijakan baru ini, Rifa mengaku kemungkinan besar akan menunda niatnya. Menurutnya, kebijakan ini bisa dibilang cukup memberatkan khususnya dari segi biaya.

“Tiket dan akomodasi sudah berapa, tambah swab test yang paling murah saja setahu saya Rp 700.000,” ujar Rifa pada Kompas.com, Rabu (16/12/2020).

Walaupun begitu, Rifa tetap menganggap aturan ini akan punya dampak yang cukup baik. Khususnya untuk menekan angka positif Covid-19 yang terus bertambah.

“Tapi kalau hanya dikasih waktu maksimal H-2 dari keberangkatan berat juga ya. Swab kan enggak murah ya. Jadi satu sisi saya setuju, sisi lain juga berat,” sambung dia.

Rifa berharap aturan ini hanya akan diaplikasikan hingga tanggal 4 Januari 2021 saja dan tidak dilanjutkan seterusnya. Apalagi dengan masih begitu bergantungnya industri pariwisata secara umum pada laju wisatawan domestik.

 

Ilustrasi Bali - Pura Tanah Lot.SHUTTERSTOCK Ilustrasi Bali - Pura Tanah Lot.

Peraturan yang sering berubah

Sedikit berbeda, Glinka Lazini (22) merasa bahwa kebijakan baru ini dirasa terlalu mendadak sehingga terasa cukup memberatkan.

Ia sendiri berniat pergi ke Bali, tepatnya daerah Canggu dan Denpasar pada Kamis (17/12/2020) hingga Senin (21/12/2020). Glinka berencana untuk melakukan survey tempat kos untuk adiknya yang kuliah di Bali sekaligus liburan akhir tahun.

Baca juga: Benarkah Bali Akan Sambut Turis Asing Sebelum Natal Tahun 2020?

Walaupun ketika berangkat ke Bali pada 17 Desember kebijakan tersebut belum berlaku, Glinka tetap harus memiliki surat keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil negatif uji rapid test antigen yang masih berlaku selama berada di Bali.

“Cukup memberatkan sih ya, apalagi dadakan dan peraturannya sempat berubah. Sempat boleh pakai rapid aja, terus swab, terus balik lagi ke rapid lagi, terus sekarang harus swab PCR. Kenapa enggak dari awal aja sih,” papar Glinka pada Kompas.com, Rabu (16/12/2020).

Senada dengan Amanda dan Rifa, Glinka juga merasa kebijakan swab test berbasis PCR ini akan sangat memberatkan dari segi biaya. Pasalnya, harga swab test saja bisa menyamai harga tiket pulang-pergi Jakarta-Bali.

Namun di sisi lain, ia merasa bahwa kebijakan ini akan bisa membawa dampak positif. Dengan adanya kebijakan swab test, maka pintu masuk ke Bali pun akan semakin ketat.

Apalagi datangnya musim liburan akhir tahun dikhawatirkan akan bisa menambah angka positif Covid-19 nantinya.

Sebagai informasi, Pemprov Bali merevisi terkait waktu uji swab PCR. Adapun revisi yang dimaksud yakni surat negatif swab berbasis PCR menjadi H-7 dengan masa berlaku 14 hari.

Sebelumnya hasil uji negatif swab berbasis PCR yakni 2x24 jam sebelum keberangkatan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X