Kompas.com - 20/12/2020, 17:17 WIB
Kolam renang di jungle vila, Bali. SHUTTERSTOCK/JOMNICHAKolam renang di jungle vila, Bali.


KOMPAS.com – Salah satu dampak dari adanya aturan swab PCR bagi penumpang pesawat ke Bali adalah adanya pembatalan pemesanan hotel untuk periode libur akhir tahun di Bali. Namun uniknya, pembatalan tersebut tidak terjadi di semua hotel yang ada di kawasan Bali.

“Justru cancelation tidak terjadi di hotel-hotel yang luxury (hotel mewah),” kata Wakil Ketua Umum DPP Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) cabang Bali I Made Ramia Adnyana ketika dihubungi Kompas.com, Minggu (20/12/2020).

Salah satu sebabnya, disinyalir karena para tamu yang menginap di hotel mewah tersebut cenderung punya kemampuan ekonomi yang lebih mampu untuk membayar biaya swab test PCR.

“Jadi mereka tidak mengubah liburannya, tetap sesuai rencana walaupun ada swab test PCR,” sambung Made.

Baca juga: Terbang ke Bali Wajib Tes Swab, Wisatawan Pilih Batalkan Liburan

Beberapa kawasan di Bali yang hotel-hotelnya tidak mengalami pembatalan sama sekali adalah kawasan Jimbaran, Nusa Dua, dan Ubud yang terkenal dengan hotel-hotel dan resor-resor mewahnya.

Namun begitu, tetap ada kawasan yang hotel-hotelnya mengalami pembatalan sebagai dampak aturan swab test PCR ini. Salah satunya di daerah Kuta.

Menurut Made, hotel-hotel yang mengalami pembatalan biasanya berada di kisaran bintang 4 ke bawah. Hingga kini belum ada angka pasti mengenai sebesar apa pembatalan yang dialami. Namun yang jelas, jumlahnya cukup besar.

Turis asing terlihat sedang menikmati panorama alam Bali di kolam renang hotel. SHUTTERSTOCK/JOMNICHA Turis asing terlihat sedang menikmati panorama alam Bali di kolam renang hotel.

Jadi kebijakan yang positif

Terkait kebijakan swab test PCR, Made menganggap kebijakan ini memiliki dampak yang positif yakni sebagai bentuk mengurangi dan mensterilisasi wisatawan yang datang ke Bali.

“Jadi mereka yang benar-benar karena tujuannya untuk quality tourism. Mereka yang memiliki uang memang akhirnya akan tetap ke Bali,” tutur Made.

Justru para wisatawan akan melihat bahwa Bali mengambil langkah yang sangat serius dalam penanganan kasus Covid-19 dan juga menjaga agar jumlahnya tidak naik secara signifikan.

Baca juga: Panduan Lengkap Syarat Masuk Bali Saat Libur Akhir Tahun, Apa Saja?

Tujuan kebijakan ini, kata Made, adalah untuk mengurangi lonjakan wisatawan nusantara yang berlibur ke Bali selama Natal dan Tahun Baru. Sejauh ini, diperkirakan jumlah wisatawan yang akan berlibur ke Bali sangatlah tinggi.

“Sehingga dengan sendirinya terjadi pengurangan lonjakan yang berlibur ke Bali dari periode itu. Artinya sebagai bentuk seleksi,” imbuh dia.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya yang akrab disapai Rai.

 

Hotel Raffles milik Accor Hotel di Bali, Indonesia Ardiansyah Fadli Hotel Raffles milik Accor Hotel di Bali, Indonesia

Menurutnya, kebijakan ini bertujuan untuk membuat Bali jadi pulau yang sehat, bersih, kondusif, aman, dan nyaman untuk dikunjungi wisatawan.

“Untuk memastikan sebelum dia (wisatawan) berangkat itu harus sehat. sehingga kalau sudah semua sehat, dia berwisata di pulau yang sehat, dan dia juga kembalinya sehat,” kata Rai ketika dihubungi Kompas.com, Minggu (20/12/2020).

Nantinya, ini jadi salah satu tahap membangun kepercayaan dunia sebagai persiapan Bali kembali membuka pintunnya untuk turis internasional.

Baca juga: Aturan Terbaru ke Bali, Tes Swab PCR Maksimal H-7 Keberangkatan

Rai juga merasa bahwa periode libur Nataru memang sangat mungkin terjadi lonjakan wisatawan. Ia memprediksi jumlah wisatawan yang datang saat libur Nataru tersebut bisa mencapai 15 ribu wisatawan.

Maka dari itu, langkah ini dirasa sangat penting untuk mengatur arus wisatawan yang keluar-masuk Bali agar tidak terlampau banyak.

Jangan cancel, cari alternatif

Jika wisatawan tetap ingin berkunjung ke Bali untuk periode libur Nataru tapi merasa ragu karena biaya yang harus dikeluarkan untuk swab test, Rai mengimbau agar jangan melakukan pembatalan.

“Alternatifnya jangan cancel, putar balik pakai mobil. Kalau dari Surabaya kan 6-7 jam. Di Bali jadi tidak harus sewa mobil, tidak pula harus swab berbasis PCR, hanya antigen saja. Jadi lebih murah,” pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X