Kompas.com - 21/01/2021, 08:45 WIB
Wisatawan menggunakan ban sebagai pelampung menyusuri Gua Pindul, sebuah gua sepanjang 300 meter dengan sungai yang mengalir di dalamnya, sebagai bagian dari wisata yang ditawarkan oleh Desa Wisata Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (22/11/2012). Wisata yang mulai beroperasi sejak tahun 2010 ini berhasil menggerakkan ekonomi warga setempat dari mata pencaharian semula sebagai petani ke bidang jasa. KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJOWisatawan menggunakan ban sebagai pelampung menyusuri Gua Pindul, sebuah gua sepanjang 300 meter dengan sungai yang mengalir di dalamnya, sebagai bagian dari wisata yang ditawarkan oleh Desa Wisata Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (22/11/2012). Wisata yang mulai beroperasi sejak tahun 2010 ini berhasil menggerakkan ekonomi warga setempat dari mata pencaharian semula sebagai petani ke bidang jasa.

KOMPAS.com – Ketua Bidang Wisata dan Konservasi Asosiasi Wisata Goa (Astaga) Ferry Saputra mengatakan, wisata goa memiliki potensi untuk dikembangkan menggunakan konsep community-based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat.

Wisata goa juga bagian dari konservasi kawasan karst. Kalau kawasan karst sudah dikelola masyarakat untuk wisata, biasanya banyak perusahaan besar berpikir dua kali untuk kuasai lahannya karena kekuatan masyarakat lebih besar,” ungkapnya.

Baca juga: Sokoliman, Situs Purbakala di Dekat Goa Pindul

Pernyataan tersebut disampaikan olehnya dalam webinar Indonesia Adventure Travel Trade Association (IATTA) bertajuk “Membangkitkan Kembali Pariwisata Indonesia Melalui Wisata Petualangan” pada Kamis (14/1/2021).

Pariwisata berbasis masyarakat adalah praktik pengelolaan wisata oleh masyarakat yang mana keuntungan yang didapat bisa langsung dirasakan oleh masyarakat.

Menurut Ferry, salah satu tantangan besar yang ditemui dalam industri wisata goa adalah eksploitasi pabrik semeng dan pertambangan.

Dengan diusungnya konsep pariwisata berbasis masyarakat, menurutnya hal tersebut justru akan membuat kawasan karst memiliki manfaat terhadap lingkungan lebih lama.

Baca juga: Bertualang di Goa Pindul

“Ke depan, Indonesia akan terus mengutamakan wisata dibanding pertambangan. Jadi ini siap-siap teman-teman di daerah yang punya goa,” ujar Ferry.

Mengutip Lipi.go.id, Senin (10/4/2017), karst merupakan bagian dari ekosistem yang menjadi habitat dari beragam flora dan fauna langka, kawasan mineral tak terbarukan, serta tempat untuk mempelajari masa lalu.

Sebagian besar dari luasnya kawasan karst di Indonesia mencapai 154.000 kilometer persegi telah menyediakan sejumlah mata air bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Terjadinya eksploitasi tak terkendali dalam kawasan karst memiliki potensi untuk merusak ekosistem makhluk hidup di sana.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X