Kompas.com - 26/01/2021, 20:55 WIB
Ilustrasi Bali - Para umat Hindu sedang melakukan ritual di Pura Tirta Empul, Gianyar, Bali. SHUTTERSTOCK / Viktoriya KraynIlustrasi Bali - Para umat Hindu sedang melakukan ritual di Pura Tirta Empul, Gianyar, Bali.

 

Perlu libatkan ahli pariwisata

Maka dari itu, salah satu solusi yang bisa dilakukan Sandiaga agar membuat rencana ini berjalan maksimal adalah dengan melibatkan ahli pariwisata.

Sekadar terjun langsung ke lapangan untuk benar-benar melihat dan mengalami secara langsung tidaklah cukup. Tetap diperlukan pengetahuan yang cukup terkait masalah pariwisata di sana agar setidaknya, langkah tersebut tak jadi sia-sia.

“Tolong dia panggil orang-orang yang ahli pariwisata. Jangan orang kementerian kan birokrat. Birokrat itu nantinya kan dia bilang juga, asal bapak senang,” jelas Azril.

“Beliau bilang kan mau seeing is believing. Iya, tapi kalau tidak paham betul dengan pariwisata ini ya jadi masalah. Beliau harus tahu betul, what is the tourism,” tambahnya.

Baca juga: PHRI Badung: Sandiaga Ngantor di Bali Akan Mudahkan Komunikasi

Pentingnya mempelajari pariwisata

Pengetahuan mendalam soal pariwisata memang jadi suatu keharusan menurut Azril. Pasalnya, permasalahan di pariwisata Indonesia bisa dibilang cukup banyak dan rumit.

Beberapa di antaranya kesalahan jajaran pemerintahan yang selama ini menyebut konsep 3A dalam pengembangan pariwisata.

3A adalah singkatan dari attractions (atraksi), amenities (amenitas), dan access (akses). Menurut Azril, banyak pihak yang masih salah menerjemahkan attraction.

“Atraksi itu ada dua. Satu daya tarik, satu lagi pertunjukkan dan tontonan. Orang bilang atraksi itu pertunjukkan. Anak buahnya menyebut bahwa suatu daerah itu harus ada atraksi, harus ada pertunjukkan. Bukan itu,” papar Azril.

Istilah yang tepat adalah daya tarik untuk para pengunjung. Daya tarik yang dimaksud bukanlah pertunjukkan atau acara yang sengaja didesain untuk menarik pengunjung.

Melainkan daya tarik yang unik dan otentik, serta alami yang dimiliki oleh destinasi tersebut. Misalnya, daya tarik budaya masyarakat Bali yang khas.

Menparekraf Sandiaga Uno saat memimpin rapat virtual bersama seluruh Kepala Dinas Pariwisata dari 34 provinsi di Indonesia, Sabtu (26/12/2020).dok. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Menparekraf Sandiaga Uno saat memimpin rapat virtual bersama seluruh Kepala Dinas Pariwisata dari 34 provinsi di Indonesia, Sabtu (26/12/2020).

Selain itu, Azril juga sempat menyebut perihal pariwisata Indonesia yang kini telah bergeser akibat pandemi. Kini, tiga pilar penting pariwisata saat ini di antaranya adalah customize, personalize, dan sanitize.

Termasuk pula soal perencanaan tenaga kerja sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang sangat penting, tapi hingga kini belum ada pembicaraan lebih lanjut terkait itu. Menurut Azril, perencanaan seperti itu sangat krusial dalam upaya membangun suatu destinasi.

“Bagaimana kita membangun suatu destinasi kalau perencanaan tenaganya itu enggak kita persiapkan?” ujar Azril.

Untuk bisa memahami itu, Azril mengungkapkan, diperlukan bantuan dari ahli pariwisata yang memang paham ilmu pariwisata secara saintifik. Kajian saintifik sangat dibutuhkan dalam hal ini.

Baca juga: Turis Asing di Bali Berulah Lagi, Pakai Visa Kunjungan untuk Bisnis

“Jadi tidak hanya berkantor, tapi tolong perdalam secara ilmiah dia pelajari itu pariwisata. Tidak hanya dari industri saja dia lihat tapi ilmiah, itu mau bergerak ke mana. Dan kira-kira setelah pandemi ini ke mana arah pariwisata kita, itu beliau harus tahu,” pungkas Azril.

Sebelumnya, Menparekraf Sandiaga Uno mengatakan bahwa dia ingin berkantor di Bali untuk melihat dan merasakan langsung pemulihan pariwisata di sana.

Mengutip Kompas.com, ia akan berkantor di Bali beberapa hari dalam sebulan. Nantinya, Sandiaga berharap untuk bisa merasakan geliat dari segi perhatian, tambahan kebijakan, serta kemampuannya menyampaikan pemulihan pariwisata Bali pada presiden dan wakil presiden.

“Ini kita sedang coba finalkan agar perhatian ini, seeing is believing. Kalau cuman ngomong-ngomong dari Jakarta, enggak ada di Bali, pasti enggak akan punya kredibilitas,” tutur Sandiaga.

Ia juga berharap dengan berkantor di sana bisa membuka ruang diskusi antara dirinya dengan pelaku usaha atau pemerhati sosial Bali.

“Saya sangat menikmati kalau kita langsung mendengar tanpa ada laporan dari staf Kemenparekraf yang ‘asal bapak senang’,” pungkasnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X