Kompas.com - 27/01/2021, 08:40 WIB
Ilustrasi Bali - Pura yang terletak di Monkey Forest. SHUTTERSTOCKIlustrasi Bali - Pura yang terletak di Monkey Forest.


KOMPAS.com – Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata (ICPI) Azril Azahari mengaku setuju dengan rencana Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga untuk berkantor di Pulau Bali.

“Kalau saya sarankan sih, beliau mau memperdalam pariwisata, lalu ingin mendalami masalah pariwisata dimulai dengan Bali, enggak apa-apa itu bagus. Tapi kalau boleh jangan hanya Bali,” kata Azril ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (26/1/2021).

Pasalnya, potensi wisata Indonesia tak hanya dimiliki Bali saja. Selain itu, pengembangan pariwisata Bali pun sangat berbeda dengan daerah lainnya yang ada di Indonesia.

Baca juga: PHRI Badung: Sandiaga Ngantor di Bali Akan Mudahkan Komunikasi

Diperlukan periode belajar yang cukup lama untuk benar-benar bisa mendalami permasalahan pariwisata di Bali serta menemukan strategi yang tepat untuk pengembangannya.

Lebih jauh, strategi yang sama nantinya mungkin tidak bisa diterapkan di destinasi lain di Indonesia.

“Bali itu pengembangan pariwisatanya sangat berbeda dengan daerah lain, tidak sama. Kalau mau ke sana enggak apa-apa sih boleh saja. Tapi belajar kayak begitu agak lama. Kemudian kalau kita lihat Bali itu sendiri sangat unik dan otentik ya,” tutur Azril.

Pulau Adranan, di gugusan Kepulauan Kei, Jumat (16/3/2018). KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZES Pulau Adranan, di gugusan Kepulauan Kei, Jumat (16/3/2018).

Destinasi lainnya

Dengan adanya perbedaan pengembangan pariwisata antar daerah di Indonesia, Azril menyarankan Sandiaga agar tak hanya memutuskan berkantor di Bali saja.

Apalagi jika tujuan Sandiaga ingin benar-benar “seeing is believing”, maka aktivitas berkantor di destinasi tersebut sebaiknya dilakukan di beberapa daerah di Indonesia untuk melihat sekuat apa pariwisata masing-masing daerah.

“Saya juga pernah (bertugas) di Bali. Tpai saya bukan hanya di Bali saja, seluruh Indonesia banyak yang sudah saya lihat pariwisatanya kayak apa. Makanya saya sedih sekali,” tutur Azril.

Baca juga: Sandiaga Bakal Ngantor di Bali, Ini Alasannya

Beberapa destinasi lainnya di Indonesia yang terkenal sebagai destinasi wisata besar di kalangan wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus) bisa jadi pilihan.

Di antaranya bisa diambil dari tiga hub terbesar di Indonesia yakni Jakarta, Bali, dan Batam. Untuk Jakarta dan Bali mungkin sudah masuk ke dalam daftar kantor Menparekraf.

Sementara untuk Batam, mungkin kini bisa jadi pilihan selanjutnya sebagai destinasi kantor Menparekraf selanjutnya.

Selain itu, bisa pula dengan mempertimbangkan daya tarik masing-masing daerah yang sangat otentik dan tidak bisa ditemukan di mana pun. Daya tarik semacam itu, kata Azril, jika dikembangkan dengan baik maka bisa jadi kekuatan baru Indonesia.

Salah satunya adalah aktivitas wisata surfing di Sungai Kampar, Riau yang hingga kini hanya ada di Indonesia dan beberapa negara saja di dunia.

Ombak Bono di Sungai Kampar, Riau. Berselancar di sungai ini sangat menantang.BARRY KUSUMA Ombak Bono di Sungai Kampar, Riau. Berselancar di sungai ini sangat menantang.

Selanjutnya, ada pula satu pulau yang terletak tak jauh dari Pulau Madura, yakni Pulau Gili Lyang. Pulau tersebut adalah pulau yang memiliki kadar oksigen tertinggi di dunia.

“Saya sudah ke sana. Saya ukur oksigennya. Saya lari ke bukit. Biasanya saya enggak kuat, apalagi saya sudah usia segini, enggak akan mungkin sampai. Tapi saya bisa sampai karena oksigennya penuh, the best in the world,” papar Azril.

Kemudian tempat lainnya yang bisa jadi pertimbangan adalah Pulau Kei di Maluku Tenggara. Di sana terdapat pasir terhalus di dunia serta jadi lokasi ditemukannya burung-burung endemik di Indonesia.

“Kenapa enggak itu yang diangkat? Jadi enggak cuman Bali saja. Tempat lain itu banyak,” imbuh Azril.

Sebelumnya, Menparekraf Sandiaga Uno mengatakan, dia ingin berkantor di Bali untuk melihat dan merasakan langsung pemulihan pariwisata Pulau Dewata.

Dengan berkantor di Bali, Sandiaga akan merasakan geliat dari segi perhatian, tambahan kebijakan, serta kemampuannya menyampaikan pemulihan pariwisata Bali kepada Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Tak itu saja, dengan berkantor di sana juga dapat membuka ruang diskusi antara dirinya dengan pelaku usaha atau pemerhati sosial Bali.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X