Kompas.com - 27/01/2021, 16:20 WIB
Ilustrasi wisata halal - Seorang wanita membeli produk halal di supermarket. SHUTTERSTOCK / Odua ImagesIlustrasi wisata halal - Seorang wanita membeli produk halal di supermarket.

 

Wisatawan Muslim asal Arab Saudi mengeluarkan 24,3 miliar dolar AS untuk melakukan perjalanan ramah Muslim ke luar negeri.

Sementara itu, mereka yang berangkat dari Uni Emirat Arab (UEA) mengeluarkan 17,2 miliar dolar AS, Qatar 14,2 miliar dolar AS, Kuwait 13 miliar dolar AS, dan wisatawan Muslim asal Indonesia mengeluarkan 11,2 miliar dolar AS untuk melakukan perjalanan ramah Muslim ke luar negeri.

Dari seluruh negara yang ada, sebanyak lima negara menduduki peringkat tertinggi sebagai destinasi wisata ramah Muslim dengan Spanyol menduduki urutan nomor satu karena dikunjungi oleh 7,6 juta wisatawan Muslim pada 2019.

Selanjutnya, Turki berada di peringkat kedua dengan jumlah kunjungan 6,4 juta, UEA 6,2 juta, Rusia 5,6 juta, dan Perancis memiliki 4,9 juta wisatawan Muslim yang berkunjung pada tahun tersebut.

Baca juga: Pariwisata Halal di Taiwan, Ini Bedanya Dulu dan Sekarang

Sapta juga memaparkan data yang bersumber dari Kemenparekraf, Badan Pusat Statistik, United Nations World Tourism Organization, World Travel & Tourism Council, dan sumber lainnya tentang kedatangan wisatawan Muslim pada 2018.

Menurut data tersebut, dari 15,8 juta wisatawan yang tiba di Indonesia, hanya 3,4 juta atau 22 persen saja yang beragama Islam.

Jika dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Thailand, dan Turki, Indonesia kalah jauh terlebih dengan Malaysia dan Turki yang masing-masing dikunjungi oleh 6,4 juta dan 6,1 juta wisatawan Muslim.

Kenapa Indonesia kalah dengan negara lain?

Sapta mengatakan, Indonesia kalah dengan negara-negara tersebut dalam hal kunjungan wisatawan Muslim karena satu hal.

“Kalah padahal mereka negara non-Muslim karena kita senang debat yang tidak perlu,” ujarnya.

Baca juga: Taiwan Bersaing dengan Jepang dan Korea Gencarkan Pariwisata Halal

Sebagai contoh, dia menceritakan soal Thailand yang berani memberi cap pada sebuah hotel di Bangkok sebagai hotel ramah Muslim yaitu Al Meroz Hotel.

“Di sana, di samping tidak ada hiburan, juga ada ketenangan dan tidak ada hingar bingar. Tidak ada yang pakai pakaian kurang tertutup (di dekat hotel) sehingga bagus untuk keluarga,” lanjut Sapta.

Ada juga area Bukit Bintang di Malaysia yang merupakan rumah bagi sejumlah komplek perbelanjaan dan pertokoan ramah Muslim.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X