Kompas.com - 11/02/2021, 14:02 WIB

KOMPAS.com – Orang Tionghoa dengan kepercayaan Konghucu biasanya melakukan sembahyang kepada leluhur menjelang Hari Raya Imlek dan Cap Go Meh.

Dalam buku “Hari-Hari Raya Tionghoa” yang ditulis Marcus A.S terbitan Suara Harapan Bangsa, orang Tionghoa memiliki pepatah sebagai berikut:

Jika kita minum air, maka kita harus selalu ingat kepada sumbernya.

Apabila dikaitkan dengan kehidupan manusia, kehidupan yang tengah dijalani tidak akan ada jika tidak berasal dari leluhur.

Baca juga: Apa Itu Imlek dan Apa Tujuan dari Perayaannya?

Dengan begitu, manusia harus tetap mengingat dan bersyukur akan kehidupan yang dijalani dengan memberi penghormatan kepada para leluhur.

Pengertian leluhur dalam kepercayaan orang Tionghoa tidak selalu soal kakek dan nenek moyang, namun mencakup keturunan yang lahir sebelum orang tersebut termasuk ayah dan ibu.

Umat Konghucu dan Buddha percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian. Hal tersebut juga menjadi alasan mengapa ada sembahyang leluhur.

Warga keturunan Tionghoa membakar hio (dupa) saat bersembahyang di Klenteng Hok Lay Kiong, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (25/1/2020). Imlek 2571 merupakan tahun tikus logam yang bermakna kemakmuran, rezeki, kesehatan dan keberuntungan berlimpah.KOMPAS.com/M LUKMAN PABRIYANTO Warga keturunan Tionghoa membakar hio (dupa) saat bersembahyang di Klenteng Hok Lay Kiong, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (25/1/2020). Imlek 2571 merupakan tahun tikus logam yang bermakna kemakmuran, rezeki, kesehatan dan keberuntungan berlimpah.

Sembahyang leluhur tidak hanya dilakukan untuk menghormati dan mendoakan arwah leluhur yang dikenal, tetapi juga yang tidak dikenal secara langsung. Namanya adalah Sembahyang Rebutan.

Namun, ada juga yang menyebutnya Sembahyang Cio-ko pada bulan tujuh (Cit-gwee). Sementara dalam ajaran Buddha, sembahyang tersebut dikenal dengan upacara Ulambana.

Dalam kebudayaan Tionghoa, khususnya mereka yang memegang kepercayaan Konghucu, sembahyang leluhur merupakan hal yang wajib untuk dilakukan.

Baca juga: Bagaimana Jalannya Acara Perayaan Imlek?

Beberapa orang Tionghoa masih memiliki altar sembahyang dalam rumah yang disebut sebagai Meja Abu.

Barang-barang yang terdapat di atas Meja Abu antara lain adalah papan arwah, dupa dan lilin, uang kertas, serta makanan dan minuman.

Hidangan yang disajikan oleh setiap orang Tionghoa memiliki variasi yang berbeda yang juga disesuaikan dengan kondisi ekonomi masing-masing.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.