Kompas.com - 18/02/2021, 12:12 WIB
Ilustrasi Bali - Para umat Hindu sedang melakukan ritual di Pura Tirta Empul, Gianyar, Bali. SHUTTERSTOCK / Viktoriya KraynIlustrasi Bali - Para umat Hindu sedang melakukan ritual di Pura Tirta Empul, Gianyar, Bali.


KOMPAS.com – Uni Emirat Arab (UEA) telah membuka perbatasan mereka untuk pariwisata internasional sejak Juli 2020.

Beberapa kebijakan yang diterapkan untuk wisatawan yang datang ke UEA, di antaranya adalah melakukan tes PCR lagi di bandara saat kedatangan yang biayanya ditanggung pemerintah setempat.

Jika ada wisatawan yang hasilnya positif, maka harus melakukan karantina di fasilitas milik pemerintah UEA.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Gianyar Pande Mahayana Adityawarman mengusulkan bahwa pemerintah Indonesia bisa mencontoh kebijakan UEA tersebut.

Baca juga: PHRI Badung dan Gianyar Setuju Usul Vaccine Based Tourism di Bali

Lantas, apakah usul tersebut mungkin dilakukan?

Pengamat pariwisata sekaligus Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana–Bali I Gede Pitana mengatakan, hal tersebut bisa dibilang cukup mungkin dilakukan. Ia sendiri pun sangat mendukung agar pariwisata Bali bisa digerakkan kembali.

“Karena pemulihan ekonomi Bali itu hanya bisa melalui pariwisata. Sektor lainnya mungkin bisa, tapi sangat lambat karena infrastrukturnya belum ada. Sedangkan kalau pariwisata, infrastrukturnya sudah lengkap semua,” kata Pitana kepada Kompas.com, Selasa (17/2/2021).

Namun, tentu saja diperlukan banyak persiapan baik dari sisi sarana dan pra-sarana, maupun berbagai aturan ketat untuk para wisatawan mancanegara (wisman) tersebut.

Kolam renang di jungle vila, Bali. SHUTTERSTOCK/JOMNICHA Kolam renang di jungle vila, Bali.

Menurut Pitana, dalam bisnis pariwisata tetap harus dilakukan perhitungan. Terkait keuntungan yang akan diterima para pelaku usaha serta pemerintah dari kedatangan wisman. Juga bagaimana risiko kerugian finansial yang akan dialami.

“Jadi, negara memang harus menyiapkan sarana pra-sarananya. Tapi apakah itu harus ditanggung oleh negara, nah itu saya tidak tahu persis,” sambung dia.

Diubah jadi subsidi

Terkait hal itu, Pitana menyarankan bahwa pemerintah Indonesia tidak perlu menanggung semua biaya tes PCR wisman di bandara atau pun karantina mereka. Alternatifnya, pemerintah bisa memberikan sejenis subsidi, misalnya pada travel agent.

Baca juga: PHRI Gianyar: Indonesia Bisa Contoh UEA untuk Buka Pariwisata Internasional

Bentuk subsidi bisa bermacam-macam. Misalnya, subsidi terkait tes PCR yang dilakukan wisman ketika di bandara. Bisa juga subsidi untuk menurunkan harga paket wisatanya.

Berlaku di Pulau Bali saja

Ia pun menyarankan jika rencana tersebut benar-benar akan dilakukan, ada baiknya jika dilakukan di Pulau Bali saja dulu.

“Saya tidak setuju untuk seluruh Indonesia. Karena kita harus menimbang antara benefit dengan risikonya. Bali memang secara infrastruktur sosial, budaya, dan fisik untuk pariwisata kan siap,” tutur Pitana.

Ia melanjutkan, daerah tujuan wisata lain, seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), atau pun Batam belum tentu siap.

Baca juga: Indonesia Rumuskan Visa Long Term untuk Turis Asing

“Mungkin bisa bersamaan dengan Bintan. Jadi kita bertahap betul-betul pelan-pelan ini,” imbuh dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Accor Luncurkan Paket Staycation Unik untuk Berwisata Lokal, Tertarik?

Accor Luncurkan Paket Staycation Unik untuk Berwisata Lokal, Tertarik?

Travel Promo
Pemkab Boyolali Larang Tradisi Padusan Tahun Ini untuk Cegah Kerumunan

Pemkab Boyolali Larang Tradisi Padusan Tahun Ini untuk Cegah Kerumunan

Travel Update
Aturan Perjalanan Udara Periode Ramadhan dan Larangan Mudik 2021

Aturan Perjalanan Udara Periode Ramadhan dan Larangan Mudik 2021

Travel Update
Mereka yang Boleh Lakukan Perjalanan Selama Larangan Mudik 2021

Mereka yang Boleh Lakukan Perjalanan Selama Larangan Mudik 2021

Travel Update
Sambut Ramadhan, Parador Beri Promo Menginap Mulai dari Rp 240.000-an

Sambut Ramadhan, Parador Beri Promo Menginap Mulai dari Rp 240.000-an

Travel Promo
Wisata Air di Klaten Tetap Buka meski Padusan Dilarang, Ini Aturannya

Wisata Air di Klaten Tetap Buka meski Padusan Dilarang, Ini Aturannya

Travel Update
Gayo Coffee Trail Akan Kembangkan Wisata Dataran Tinggi Gayo

Gayo Coffee Trail Akan Kembangkan Wisata Dataran Tinggi Gayo

Travel Update
Tradisi Padusan di Klaten Tahun Ini Ditiadakan untuk Cegah Kerumunan

Tradisi Padusan di Klaten Tahun Ini Ditiadakan untuk Cegah Kerumunan

Travel Update
3 Hotel Ini Re-branding Jadi Penginapan Bercita Rasa Indonesia

3 Hotel Ini Re-branding Jadi Penginapan Bercita Rasa Indonesia

Travel Update
5 Kafe Rasa Bali di Jakarta, Mulai dari Nuansa Ubud hingga Seminyak

5 Kafe Rasa Bali di Jakarta, Mulai dari Nuansa Ubud hingga Seminyak

Jalan Jalan
Cara Naik Kereta Gantung TMII Saat New Normal

Cara Naik Kereta Gantung TMII Saat New Normal

Jalan Jalan
Mudik 2021 Dilarang, 5 Tempat Wisata di Jakarta Ini Bisa Dikunjungi

Mudik 2021 Dilarang, 5 Tempat Wisata di Jakarta Ini Bisa Dikunjungi

Jalan Jalan
Itinerary Seharian Wisata di TMII Bareng Anak, Main ke Taman Burung

Itinerary Seharian Wisata di TMII Bareng Anak, Main ke Taman Burung

Itinerary
Bandara I Gusti Ngurah Rai Siapkan Layanan GeNose untuk Syarat Terbang

Bandara I Gusti Ngurah Rai Siapkan Layanan GeNose untuk Syarat Terbang

Travel Update
Itinerary 2 Hari 1 Malam Jelajah TMII, Bisa ke Mana Saja?

Itinerary 2 Hari 1 Malam Jelajah TMII, Bisa ke Mana Saja?

Itinerary
komentar di artikel lainnya
Close Ads X